Aku dan kamu, sama. Kita dipertemukan pada titik rendah dalam menjalani hidup. Kamu sedang menghadapi masalahmu, aku pun begitu. Pada putus asa yang merangkai rencana menuju keinginan agar binasa, mataku dan matamu dipertemukan.

Lalu kita berbicara, aku mendengarkan keluhmu juga sebaliknya. Perjalanan selanjutnya menjadi ringan, tenang, menyenangkan.

Advertisement

Kamu menerima duniaku tanpa syarat, aku menerima duniamu dengan kegembiraan. Lalu bersama kita membentuk dunia baru, di sana ada anganku juga segala misterimu. Perlahan kita menyatu, melupakan ego masa lalu masing-masing.

Tiada hari yang ingin aku lewatkan begitu saja. Untuk memejamkan mata pun aku tidak ingin. Aku selalu ingin bersamamu, mendengarkan ceritamu, menatap wajahmu, dan merangkai dunia baru denganmu. indah.

Semua terjadi tanpa syarat, tanpa ada kata pinta yang harus diucap, semua mengalir, aku milikmu dan kamu milikku. Kekasih, begitu kamu bagiku.

Advertisement

Lalu selanjutnya adalah tentang mimpi dan harap di tahun yang kita tentukan untuk kita lewati setiap rintangannya. Dunia baru yang kita cipta begitu sempurna. Kamu menjalani segala mimpimu, aku turut serta membantu. Kamu pun begitu, menjadi petunjuk arah segala cita-citaku.

Aku menyukai segala yang keluar dari ide-idemu, tentang apa yang kamu senangi dan kerjakan. Aku berusaha selalu ada di sampingmu, membantu apa yang bisa aku lakukan. Menjadi sandaran lelahmu.

Bertahun sudah kita bersama, menjalani suka dan duka, hilang aku dan kamu menyatu dalam kita. Lalu kamu ingin rehat sejenak, keluar dari dunia baru yang belum usai kita hias. Lelah, aku tahu kamu merasakan itu. Sesuatu yang lama kembali dalam hidupmu, menawarkan tantangan baru untuk mencoba sekali lagi, pelan tapi pasti terus merayumu.

Kamu katakan padaku semua akan baik-baik saja, kamu hanya ingin rehat sejenak, menjalani apa yang pernah tertunda. Aku tawarkan padamu untuk turut serta, kamu menolak, kamu ingin aku terus membangun dan menghias dunia baru sementara kamu pergi sebentar. Baiklah, aku kira aku tidak bisa menahan inginmu.

Aku relakan kamu pergi, sebab katamu hanya sebentar. Kekasih, sebenarnya aku tidak pernah rela, ada khawatir yang terus berkeliaran dalam kepalaku. Aku gelisah, berkali mencoba tanyakan apakah kamu baik, apa kamu bersedia aku datangi, apa boleh aku ikut.

Kamu selalu memberi jawaban sama, "Ini hanya sebentar, aku baik, dan aku senang menjalani yang tidak selesai dulu itu". Bagimu tidak terasa, tapi bagiku sebulan kepergianmu ke kota di mana ingatan dan segala tokoh masa lalumu kini sedang bersua denganmu adalah ketakutan yang tidak dapat aku artikan. Aku menjadi kalah, pada pilihan untuk tetap percaya atau curiga.

Apa aku tidak boleh cemburu? Sedang aku benar-benar cemburu, lebih lagi aku mulai merasa telah kehilanganmu. Tapi setiap kali aku meminta untuk datang menemanimu kamu menolak, dengan alasan yang sama. Baiklah, aku kira memang masih banyak yang ingin kamu selesaikan di masa lalu.

Sampai ketika kamu meminta sebuah pertemuan, aku tidak pikir panjang untuk setuju. Enam jam perjalananku menggunakan kereta api, sebuah kerinduan siap merasakan temu dan menghapus cemburu. Tiba juga aku di kota masa lalumu.

Langit sudah gelap ketika aku tiba, segera bergegas menuju tempat pertemuan yang kamu kabarkan padaku. Sebuah pusat perbelanjaan di tengah kota menjadi tempat janji pertemuan kita, tepatnya di food court yang terletak di lantai empat.

Luas sekali food court itu, sejauh mata memandang adalah jajaran tempat makan dan kedai minum dengan keunikan masing-masing. Pada meja dan kursi sesak manusia bersiap menyantap makan malam, menunggu pesanan datang, juga mereka yang telah selesai dan masih ingin mengobrol. Aku menunggu, berkeliling, mencari di mana kamu.

Berulang kali aku mencoba meneleponmu, tapi tidak ada jawaban. Aku menunggu pesan darimu tidak satu pun yang masuk ke telepon genggamku, sedang sudah berpuluh pesan aku kirim untukmu. Baiklah, aku kira sebaiknya segera mencari tempat dan memesan minum, sembari menunggu kedatanganmu, kota yang sesak mungkin sedang menahanmu dalam kemacetan.

Tidak bisa lagi aku katakan sebentar dalam menunggu, lebih lagi sebab aku begitu rindu. Ini sudah gelas ketiga yang tandas aku minum; lemon tea, kopi tubruk dan segelas susu putih. kamu belum juga datang, tiga jam aku menunggu, menghubungimu pun tidak ada jawaban, pun pesan darimu tidak ada yang datang.

Apa aku salah tempat? Aku kira begitu. Food court mulai sepi, berangsur suara canda tawa hilang, pelayan mulai merapikan meja sebagai tanda aku harus segera bergegas pergi. Sebenarnya aku masih ingin menunggu, barang kali kamu sudah dekat, tapi ketika nomormu tidak lagi aktif, aku beranjak pergi.

Aku kembali turun, melintasi lantai demi lantai, melihat keramaian yang berangsur sepi, orang-orang bergegas keluar. Dari jarak pandang yang aku masih bisa melihat dengan jelas aku menemukan kamu. Kamu tidak sendiri, seorang lelaki mesra menggandeng tanggamu, kamu tersenyum, kalian tertawa, berjalan dengan mesra.

Aku menyaksikan itu, langkahku terhenti ketika aku pastikan sekali lagi itu benar-benar kamu, ya kamu yang aku tunggu, ya kamu yang meminta aku datang ke kota masa lalumu. Akhirnya aku paham, kedatanganku untuk meyakinkan kamu telah memilih melanjutkan yang tidak usai dengan masa lalumu.

Seminggu kemudian kamu meminta temu, aku menolak. Lalu pada malam ketika panggung puisi di kotaku sedang memberi ruang untuk para penyair, kamu menghampiriku. Aku diam, kamu menangis, lalu kamu bercerita banyak tentang perjalananmu, juga mengapa kita tidak bisa bertemu di kota masa lalu.

Kamu ingin kembali, aku diam lalu pergi membiarkan pelukanmu kosong dan menangis. Bagiku kini di kota ini kamu adalah masa lalu. Sebab dulu pertemuan kita di kota ini adalah pertemuan untuk saling membutuhkan, dan akhirnya kita tidak lagi saling membutuhkan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya