Tidak banyak yang berubah setelah kamu memilih pisah. Aku yang masih berdiam dan tenggelam dalam kenangan, masih memikirkan kamu lalu menginginkan kita. Membunuh rindu menjerat pilu, pelan-pelan hatiku terbunuh sebab kamu yang berlalu.

Andai masih bisa berharap, aku hanya ingin kamu pulang kepangkuan perasaan. Paru-paruku masih butuh kamu sebagai oksigen, nadiku masih ingin kamu untuk pelengkap nada denyutnya. Jika masih bisa kuulangi. Aku hanya ingin berjanji bahwa menyia-nyiakan tidak akan lagi aku lakukan, karena kamulah wujud cinta yang sesungguhnya.

Advertisement

Kamulah bahagia yang aku cari dalam petualanganku mencari hati.

Hari-hari yang aku lewati kini mulai biasa, aku tak bisa mengatakan bahwa aku terbiasa tanpa kamu. Tiba-tiba saja anganku berubah menjadi ingin kembali kepadamu. Tetapi khayalan mulai dikalahkan kenyataan, bahwa bersama tak lagi mungkin bisa.
Tiap tetes air mata pun mulai membasahi pipi. Sekuat hati aku menahan agar tak ada lagi tangisan, tetapi tetap saja aku dikalahkan kenangan. Mungkin ini bagian dari penyesalan, karena dulu setiap tangismu selalu disebabkan olehku. Tolong, ajari aku caranya melupakan, aku tak ingin lagi bergelut dengan ingatan. Ajari aku cara melarikan diri, aku hanya ingin menganggapmu kisah masa lalu yang seharusnya tak selalu menjadi bayanganku. Agar bukan lagi kamu yang menjadi objekku untuk memintamu kembali seperti dulu.

Mungkin ini berat, namun inilah jalan yang tepat. Aku pergi, mengubur segala cita-cita, membunuh segala tentang kita. Tapi tidak untuk kenangan aku dan kamu, meski masih membuatku hampir terbunuh. Atas nama segala rasa yang kian memenjara kita, aku keluar dari skenario yang tidak ada ujungnya, semoga kamu bahagia dengan hidup barumu yang sama sekali tak melibatkan aku.

Advertisement

Aku, pamit.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya