Sudah hampir setegah windu berlalu, namun aku masih merasakan tangisan duka di senja itu. Senja terakhir pertemuanku dengan ragamu. Kurasa langit tidak begitu gelap kala itu, tapi seakan mataku gelap menerima ketetapan Tuhan. Ragaku tumbang, seakan nyawaku ikut melayang menghadapi kenyataan pahit yang harus ku telan.

Aku terbangun dari tidur yang entah kapanku mulai, reramai orang dengan air mata terlihat sejauh mata memandang. Lelantun ayat Al-Qur'an terdengar nyaring, hingga ku dapati sebuah raga berbaring. Mataku nanar menatap seseorang yang tertutup kain batik, terbujur diam tanpa gerak menelisik.

Advertisement

Tiba-tiba sebuah tangan menepuk bahuku, kemudian suaranya membisikkan kata 'sabar' di telingaku. Seketika otakku memutar kembali memori yang sempat terhenti, kemudian aku tersadar bahwa penyebab tidurku adalah kabar meninggalnya dirimu.


Lelakiku. Ya! Begitulah aku menyebutmu.


Air mataku kembali tumpah setelah ku pandang sebuah wajah yang tadi pagi masih mengantarku sekolah. Sebuah tangan yang telah terlipat, sedangkan tadi pagi masih ku cium untuk berpamitan. Aku sangat mengenali wajah itu, wajah yang senantiasa memarahi kesalahanku, wajah yang hampir tak pernah ku lihat menyunggingkan senyum.

Advertisement

Aku mematung di hadapan raga yang entah sudah di mana nyawanya, aku terdiam memandang begitu dalam mata yang terpejam. Aku tak pernah mempercayai bahwa ia telah pergi, hatiku menolak kenyataan yang terjadi. 'Tidak! Lelakiku hanya tertidur, tunggulah sampai ia bangun.'

Kemudian sebuah raga memelukku, ku dengar sesenggukan, dan cucuran air mata kurasakan. Aku menoleh ke arahnya, ia adalah permaisuri lelakiku. Aku terus mengatakan bahwa raga di depanku hanya sedang bermimpi indah, sehingga untuk dibangunkan sangat susah. Tapi yang ku dapati hanya tangisan yang semakin keras.


Tak usah menasehatiku perihal sabar karena kepergian, jika kau sendiri tidak berada diposisi yang sama. 


Puluhan bahkan mungkin ratusan tangan bersalaman denganku, hampr semua dari pemilik tangan itu mulutnya membisikkan kata sabar. Lengkap dengan tambahan kata yang meraka rangkai menjadi kalimat yang mungkin menurut mereka akan membuatku kuat. Begitu banyak suara dengan kata yang sama mengiang di telinga, sampai-sampai telingaku menuli tiba-tiba.

Sabar itu bukan perihal ucapan, tapi perihal hati dengen segala penerimaan. Kalian dapat mengatakan kata 'sabar', tapi jika kalian yang ada di posisiku, apakah kalian mampu sesabar ujaran kalian? Sabar itu perkara waktu, mengikhlaskan kepergian perihal kematian tidaklah semudah berkata 'sabar' tanpa merasakan. Jika aku bisa ikhlas dengan sekejap, apakah itu bukan berarti aku tak memiliki rasa pada lelakiku yang telah pergi?


Nisan dan gundukan menjadi batas pemisah pertemuan.


Aku masih terpaku dengan tatapan nanar, air mataku mengering seiring tanah yang mulai menutupi raga lelakiku. Aroma yang sangat wangi tercium begitu dekat, warna warni bunga, dan sepasang nisan putih yang aku larang untuk diberi nama. Semua terpajang jelas di hadapan mata yang meratapi kekosongan.

Secepat inikah Tuhan memisahkanku dengan lelaki yang mengenalkanku pada cinta untuk pertama kali? Tidakkah ada waktu sebentar saja untuk lelakiku agar dapat menyerahkan estafet tanggung jawabnya kepada seorang laki-laki yang disebut menantu? Sehingga tanggung jawab itu harus digantikan oleh permaisuri lelakiku lebih dulu.

Setengah dari jiwaku dibawanya pergi, ikut terkubur bersama raga yang terlelap sendiri. Dan ini adalah sebenar-benarnya luka yang tak berdarah. Sesakit-sakitnya rasa sakit yang setiap anak perempuan rasakan ketika ayahnya lebih dulu dijemput oleh kematian. 

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya