Aku dan kamu telah berteman cukup lama. Aku dan kamu merupakan sepasang sahabat yang tak terpisahkan. Di mana ada kamu, disitu ada aku. Begitu pun sebaliknya. Kita saling melengkapi satu sama lain.

Entah sejak kapan perasaanku berubah terhadapmu. Dari sekedar perasaan suka sebagai sahabat hingga menjadi perasaan suka sebagai seorang pria. Aku tak menampik bahwa dirimu memiliki pesona serta kharisma yang membuat wanita dengan mudahnya jatuh hati kepadamu. Namun sikap dinginmu itu membuat wanita enggan mengenal dirimu lebih dekat, kecuali aku yang tak lain adalah sahabatmu.

Advertisement

Sejak aku sadar perasaanku berubah terhadapmu, rasa ingin memilikimu ku kendalikan sebisa mungkin. Aku tak ingin merusak persahabat yang telah kita jalin begitu lama. Aku tak ingin kehilanganmu walau aku menipu diri sendiri jika aku bisa menahan perasaan ini.

Hari itu untuk pertama kalinya, kau mengatakan bahwa kau sedang jatuh cinta. Rasanya aku berbahagia, namun kenyataannya aku terluka dan kecewa karena wanita itu bukanlah diriku. Melainkan wanita lain. Sedih dan senang, semuanya bersatu dalam suasana kelabu malam sabtu kala itu.

Hingga beberapa hari kemudian, kau mengatakan dia menerima pernyataan cinta darimu. Ini menyakitkan bukan? Aku sadar bahwa kau tak pernah memandangku sebagai seorang wanita. Namun aku juga mengakui kebodohanku telah jatuh cinta kepadamu.

Advertisement

Dan kini, aku sudah tidak sanggup lagi. Aku pergi ya.. Kan sudah ada dia di sampingmu. Ku harap kau selalu berbahagia dengan orang yang kau cinta. Aku turut berbahagia untukmu, sahabatku. Kenanglah aku dalam memorimu sebagai sahabatmu dan aku akan mengenangmu dalam memori dan hatiku sebagai sahabat dan seseorang yang pernah aku cintai.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya