Kamu masih saja merasakan tekanan saat harus berkomunikasi denganku, ternyata. Ya, hanya denganku. Tidak dengan teman-temanmu, sosial mediamu, atau kebiasaan-kebiasaanmu lainnya. Buktinya, kamu tetap merasa baik-baik saja saat sedang bercengkrama dengan temanmu, bertukar pikiran bahkan perhatian pada mereka. Kamu juga tetap merasa baik-baik saja saat kamu mengotak-atik sosial media tanpa ada hubungan dengan urusan kerja. Dan kamu merasa tak terjadi apa-apa saat aku tak "mengganggumu" seperti biasanya.

Sementara denganku, aku merasa kamu semakin bersikap tak menentu. Apa yang salah denganku? Apa kamu berusaha menjaga jarak agar kita semakin jauh? Tapi mengapa? Bahkan untuk bercanda bertukar tawa pun kamu enggan rasanya. Apakah "rasa" itu telah mati disana? Kemana rasa yang waktu itu kamu tanam dan kita pupuk bersama? Apakah sudah layu atau hilang dimakan serangga? Karena jika ia masih ada, kamu pasti akan menjadikannya penyegar jiwa, dan menjadikanku rumah dikala lelah.

Advertisement

Aku semakin merasa bahwa aku penyebab kekacauan ini. Penyebab kekacauan hidupmu terutama pada bagian pikiran dan hati. Aku semakin merasa akulah penyebab kamu terbebani. Katamu, kamu tak ingin mainmain lagi; kamu tak ingin berada di zona nyaman lagi; kamu tak ingin tak produktif lagi; katamu, kamu bukan dirimu lagi. Dan aku merasa, hanya karena akulah kamu terlalu banyak main-main, hanya karena akulah kamu merasa terlalu menikmati zona nyaman, hanya karena akulah kamu tak produktif, dan hanya karena akulah kamu merasa tak menjadi dirimu sendiri.

Maafkan aku, sungguh ku tak ingin mendominasi pikiran dan hatimu saat ini. Jika kamu tetap merasa terbebani akan hadirnya diriku, aku akan coba mengundurkan diri. Bukan, aku bukan ingin pergi. Aku hanya ingin menanti dirimu kembali. Tidak pun kini, semoga saja nanti. Karena kini, cemburu dan rinduku mungkin tak ada artinya lagi. jadi biarlah ini kusimpan saja sendiri. Semoga kamu segera menyadari, ada aku yang masih tetap menanti.

Tapi jika nanti kamu masih tetap saja merasa terbebani, mungkin ada yang telah mati di sini-entah itu perasaan atau hati. Dan kumohon, mintalah aku untuk segera pergi. Karena tanpa kamu minta, aku takakan pernah bisa mengerti dan akan semakin membuatmu terbebani. Aku tak ingin lagi memaksa diri untuk tetap bertahan menjaga hati. Karena aku pernah berjanji, akan terus ada disini hanya jika kamu ingini. Jika tidak, aku pun telah berjanji akan menutup hati dan mencoba pergi.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya