Sesaat rasa sakit dan kecewa masa lalu telah usai, mengapa sekarang hati ini harus terjebak dalam perasaan terhadap sosok pendatang? Entah ini ujian atau apa? Mengagumimu dalam diam, apa yang bisa aku lakukan selain berdoa?

Aku tidak ingin menjadi gila karena dipengaruhi oleh khayalan. Terkadang aku seperti orang yang bodoh, dirimu setiap detik melintas di pikiranku. Secara tak sadar tingkah absurd yang aku lakukan pun sebagai peralihan dari menahan perasaan ini.


Aku tidak ingin tergesa-gesa dalam mengambil keputusan dan kesimpulan. Aku juga tidak ingin menaruh harapan kepada selain Illahi.


Perasaan ini selalu bergejolak. Inilah hal yang tidak mudah, belajar untuk mengendalikan hati. Aku hanya wanita polos yang tak mudah mengutarakan perasaanku. Aku juga tak berani menyapamu secara intens. Aku hanya bisa memandangmu dari kejauhan, melihatmu lewat dunia maya, walau pernah beberapa kali kita berjumpa. Dan untuk membuka obrolan pun aku tak berani, hanya saja kesempatan itu datang saat kamu mulai menyapaku terlebih dahulu.

Aku hanya bisa meminta pertolongan kepada Illahi agar ditunjukan pilihan yang tepat. Jika perasaan ini diridhoi maka biarkan Sang Illahi yang akan mempertemukannya di saat yang tepat, dan biarkan Sang Illahi memberiku kesabaran untuk menantikannya. Namun jika hadirnya dirimu hanya sebagai ujian atas hatiku, maka biarkan Sang Illahi juga memberi aku kekuatan untuk dapat mengendalikan hati dan perasaan ini sehingga waktu yang akan memudarkannya.

Advertisement

Setelah sekuat tenaga hati dan logika terus bergulat, kali ini logika lebih dominan berspekulasi dari hasil apa yang terlihat olehku. Sepertinya kamu juga sudah ada sosok lain yang sedang mendekat. Dan kamu pun saat berkomunikasi denganku dibumbui dengan sikap yang agak dingin. Aku harus menurunkan egoku atas perasaan ini.


Ya walau kadang hati tak bisa berbohong untuk terus berteriak agar inginnya ini tetap dimunajatkan kepada Illahi, tapi hati bisa saja keliru.


Saat ini aku hanya ingin menyibukan diri agar bayangmu tak intens mampir di pikiranku. Bukan menolak perasaan cinta yang sejatinya anugrah dari Yang Maha Kuasa, namun aku tak mau rasa cintaku kepadamu mengalahkan cintaku kepada-Nya, aku tak mau salah langkah lagi.

Biarlah waktu yang akan mengungkapnya. Aku saat ini aku hanya cukup menyediakan kekuatan berupa sabar dan ikhlas sebagai tameng. Jika rasa ini diridhoi maka sabarku akan berbuah manis, namun jika rasa ini keliru maka aku akan dengan mudah mengikhlasnya, pastinya dengan keyakinan bahwa kelak akan hadir jodoh yang tepat dan baik sesuai dengan kapasitas diri ini.