Curahan Hati Seorang Anak yang Selalu Dikekang Orang Tua dan Direnggut Kebebasan Berekspresinya

Anak dikekang orang tua

Dari dulu apapun yang aku suka, pasti dicela, dikatakan gak berguna, bahkan orang tuaku sering banget menghina kesukaanku di depanku dan keluarga serta tetangga. Memangnya kenapa kalau anakmu suka hal-hal yang berbeda dengan kalian? Memangnya kenapa kalau kita suka hal-hal yang katanya tidak berguna ini?

Advertisement

Di saat aku mengidolakan penyanyi tertentu, dan selalu menonton setiap penampilannya di TV, orang tuaku suka banget menyindirku. Mengatakan aku hanya buang-buang waktu menunggu hal yang tidak berfaedah ini. Bahkan tidak segan-segan mengatakan sesuatu yang menurutku termasuk body shamming terhadap si penyanyi itu saat aku sedang menikmati penampilannya. Entah apa tujuannya. Saat si penyanyi terjerat gosip, jangan tanya betapa jahat komentar yang mereka lontarkan kepada si penyanyi tersebut dan bagaimana mereka menyuruhku berhenti mengidolakan dia.

Paling parah adalah saat aku punya hobi baru, yaitu menggambar. Mereka mengatakan kalau hobi ini hanya memboroskan kertas, alat tulis, dan waktu. Akibatnya aku harus selalu menggambar diam-diam, selalu menyembunyikan alat gambar dan hasil karyaku. Kebiasaan ini terus menerus kulakukan hingga sekarang, walaupun aku sudah tinggal terpisah dengan mereka.

Jangan tanya berapa banyak komentar-komentar, dan sindiran-sindiran “halus” lainnya yang mereka lontarkan selama masa kecilku. Juga berapa banyaknya hobi-hobi yang dipaksakan oleh mereka untukku. Akibatnya? Aku merasa tertekan, setiap kali aku tertarik dan ingin mencoba hal-hal baru, aku selalu takut. Takut di-judge, takut kalau aku harus menyukai diam-diam lagi, dan terutama, aku takut ketahuan lalu disuruh berhenti.

Advertisement


Lebih parahnya, aku juga jadi takut mengekspresikan diri sendiri. Setiap pilihan yang aku buat, harus disetujui dulu. Setiap hal baru yang ingin aku coba, harus memohon minta ijin dulu baru bisa mencoba. Tapi mau sampai kapan?


Setiap kali aku mau mencoba mengekspresikan diri dan berkarya, mereka selalu mengatakan, “Nanti apa kata orang lain, pasti karena orang tua didiknya nggak benar!" 

Advertisement

Hai papa dan mama, mau sampai kapan kami terus menerus diikat dan disuapi kalian? Sampai kami beruban? Atau sampai kami tinggal sendirian dan sebatang kara?

Katanya kalian melakukan ini demi melindungi kami, demi kebaikan kami, agar kami siap berdiri dengan kaki sendiri. Tapi kok kalian tidak memberikan sedikitpun ruang untuk kami mencoba mempraktekkan apa yang sudah kalian ajari?

Dari dalam kandungan hingga sekarang, belasan tahun kalian merawat kami dan mengajari kami banyak hal. Tentang sopan santun, nilai-nilai hidup, budaya, iman kepercayaan, dan lain-lain. Bisa dibilang, terlalu banyak. Tapi apalah itu semua kalau tidak dipraktekkan, kalau tidak dilakukan. Itu semua tidak lebih hanya sebatas isi buku pelajaran yang kemudian tidak pernah keluar waktu ujian. Hanya sebatas sebaris huruf yang distabiloin lalu lupa total.

Pa, ma, kami anak-anakmu sudah besar. Kami tahu, kalian juga manusia dan tidak mungkin luput dari kesalahan. Masalah yang sudah lalu biarkan berlalu, kami juga sudah ikhlas, karena tidak ada yang bisa kita lakukan untuk mengulang semua lagi.

Trauma ini juga sudah tergores dan membekas. Sekarang biar ini menjadi tugas anakmu untuk berdamai dengan dirinya dan masa lalunya. Tidak perlu menambah luka baru dan mengekang kami selamanya. Tolong relakan anakmu yang kini sudah besar. Percaya dirilah dengan apa yang sudah kalian ajarkan dan wariskan pada kami.

Karena toh, kalian bisa menjadi sebaik ini karena kesalahan-kesalahan kalian dulu. Kalian bisa berbuat salah, karena kalian berkesempatan mencoba hal-hal baru. Kalau kalian tidak pernah membuat kesalahan, tidak mungkin kalian bisa seperti ini. Biarkan kami mencoba, salah, gagal, dan mencoba lagi. Karena pada akhirnya kami juga yang harus bertanggung jawab atas hidup kami. Bukan orang lain apalagi kalian, orang tua kami.

Disclaimer: Artikel ini diangkat bukan untuk menghujat orang tua atau mengajak anak membangkang melawan mereka. Tapi sebagai reminder, hidup anak bukanlah milik orang tuanya meski berbakti tetap menjadi hal utama.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Spilling irregular ideas through words

Editor

Not that millennial in digital era.

CLOSE