Artikel merupakan kiriman dari pembaca Hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tentang rindu dan harapan, kita tentu memiliki beragam pandangan tentang bagaimana membawakannya di dalam kehidupan. Sedikit banyaknya, dua perkara itu bersentuhan dengan idealisme dan prinsip yang kita junjung. Adapun yang merindu dengan cara yang aneh dan tak terarah, atau menggantung harapan dengan segala bentuk khayalan yang semu. Itu semata berasal dari kegalauan yang menyelimuti jiwanya. Karena belum mengenal diri, bingung dalam berprinsip, apalagi menyuarakan idealismenya kepada dunia.

Kita bahas tentang rindu yang terkait dengan hati yang tengah jatuh cinta. Mungkin bagi sebagian orang yang sudah mulai menjajaki kedewasaan hidup, yang telah mengenal kehidupan yang efektif dan efisien, tentunya akan merasa bahwa persoalan ini hanyalah sesuatu yang hanya akan membuang-buang waktu saja. Namun, sejatinya ia tidak bisa terlepas dari perkara itu karena dalam suatu masa, ketika ia tidak mampu menghadapi persoalan hidup dengan dewasa, maka ia akan membutuhkan cinta dan kemudian akan terjebak dalam kerinduan amat mendalam, dan terkadang tiada ujungnya.

Cinta membutuhkan idealisme, rindu memerlukan pemikiran yang kokoh. Sepertinya, ini terdengar cukup berlebihan dan jika dibaca sekilas, sungguh menggelikan bukan? Namun, jika direnungkan secara seksama, kita akan menemukan betapa pemikiran yang kokoh serta idealisme yang kuat diperlukan untuk dua hal ini. Agar, ketika sudah mulai mengenali cinta dan kemudian hidup sudah mulai tertakluk pada rindu, maka kita akan merasakan bagaimana pentingnya pemikiran serta idealisme kita dalam mengendalikannya.

Banyak tokoh-tokoh termasyhur di masa lampau menerapkan idealismenya terhadap cinta yang ia puja. Ia mau berkorban apa saja demi cinta, namun itu semata tidak mengurangi nilai dirinya sebagai manusia dan bahkan malah menaikkan derajat keberadaanya sebagai manusia di dunia. Kita mengenal Bilal bin Rabah, seorang hamba sahaya yang rela berkorban demi cintanya kepada Allah, Rasul, dan agamanya meskipun telah disiksa dengan sedemikian rupa. Namun, cinta yang amat mendalam ini, menyentuh pencinta lainnya hingga ia pun berkorban untuk Bilal. Ya, bagaimana seorang Abu Bakar mengorbankan segenap harta bendanya untuk menebus Bilal, hingga ia menjadi orang merdeka dan menjadi semakin leluasa dalam mencurahkan cinta-nya kepada Tuhan dan agamanya.

Advertisement

Lain Bilal, lain pula yang terjadi di antara Ali dan Fatimah. Ya, ketika dua insan yang sama-sama memiliki keimanan yang amat istimewa menjalani hidup dengan keromantisan yang tiada tara di tengah kesederhanaan hidup, dan di tengah perjuangan dalam menegakkan agama. Hingga, cinta yang mereka jalin menjadi teladan bagi generasi setelahnya.

Semua itu terwujud, tentunya tak lepas dari keberadaan idealisme serta pemikiran yang matang serta kokoh dalam memaknai cinta sebagai bagian penting di dalam hidup. Mereka menikmati keindahan cinta serta syahdunya hidup di kala merindu, namun sama sekali tidak terbuai olehnya. Sehingga, cinta semakin mendekatkannya kepada makna kehidupan yang sesungguhnya dan tentunya, mereka akan semakin dekat pencipta yang mereka merasakan bagaimana bahagianya hidup ketika cinta dipahami serta dijalani dengan idealisme yang kokoh.

Kita sungguh menyayangkan. Karena merasa indah dengan kedatangan cinta, ada yang memaksakan kehendak dalam memahami cinta itu. Hingga akhirnya ia terbuai dan terjebak dalam kelalaian hidup. Sungguh itu menjadi sesuatu yang sangat disayangkan karena sejatinya kehadiran cinta adalah untuk memperkokoh keberadaanya sebagai manusia yang memahami hakikat hidup di dunia sebagai jalan untuk mencapai kehidupan hakiki dan abadi.

Oleh karena itulah, alangkah lebih baik jika kita melandasi segala sesuatunya di kehidupan ini dengan idealisme yang kokoh. Agar kita tidak terjebak di dalam kesia-siaan hidup yang tentunya hanya akan meniadakan hakikat keberadaan kita sebagai manusia. Dan idealisme itu, berasal dari bagaimana kita memahami pengajaran dari Tuhan tentang hidup dan apa yang harus senantiasa kita lakukan agar hidup dengan benar. Kuatkanlah pemikiran, agar mencapai idealisme yang kokoh, dan supaya tidak sesat dalam mencinta, tidak rapuh dalam merindu.