Badut yang Menjadi Seorang Guru Mengaji

Abu Nawas Modern

Aku meletakkan kaca di atas meja rias setelah aku meyelesaikan dandananku dan Bacil. Tak terasa sudah sepuluh tahun aku mengajar anak-anak Panti Asuhan Darussalam mengaji dengan kostum badut. Awalnya, aku hanya seorang badut panggilan untuk acara seperti ulang tahun. Namun, guruku berkata bahwa aku harus menjadi Abu Nawas masa kini yang ceria dan jenaka. Kata-kata itu membakar semangatku. Oleh sebab itu, aku mulai menjadi badut sekaligus guru ngaji di Panti Asuhan Darussalam.

Advertisement

Panti Asuhan Darussalam itu letaknya tidak terlalu jauh dari rumahku. Hanya sekitar 10 menit menggunakan motor. Aku sudah tidak sabar melihat anak-anak muridku. Melihat mereka dapat tersenyum bahagia adalah salah satu motivasiku untuk mengajar ngaji walaupun harus memakai kostum badut. Ya, walaupun awalnya banyak murid-murid yang takut denganku karena kostum badutku, seiring berjalannya waktu, mereka menjadi berani. Apalagi ketika aku ditemani oleh Bacil, anak laki-lakiku. Mungkin karena mereka melihat Bacil yang sebaya dengan mereka dan menggunakan kostum badut juga yang membuat mereka mulai berani.

Aku menyapa murid-muridku ketika aku masuk ke dalam ruang kelas bersama Bacil. Murid-muridku tampak senang dan juga bersemangat. Murid-muridku tidak terlalu banyak. Hanya dua puluh anak. Mereka tersenyum lebar karena melihatku dan Bacil yang sudah masuk ke kelas. Terkadang, senyuman mereka membuat hatiku meleleh. “Mana suaramu?” tanyaku dengan lantang kepada murid-muridku untuk membakar semangat mereka. Sebelum mengajar, aku selalu mengawali pembelajaran dengan membaca ta'awudz, yaitu doa untuk memohon perlindungan dari Allah Swt. dari godaan setan yang terkutuk. Bacil juga ikut membaca ta'awudz tersebut bersama murid-muridku. Terkadang, aku menunjuk salah satu dari muridku untuk mengulangi pelafalan ta'awudz yang sudah kuajarkan.

Sebagian besar dari mereka sudah sempurna melafalkan ta'awudz. Namun, ada beberapa yang belum begitu sempurna melafalkan doa tersebut. Aku menyemangati mereka dan berkata bahwa supaya pelafalan mereka sempurna, mereka harus terus berlatih dan mencoba untuk melafalkannya secara berulang-ulang. Semua butuh proses dan tidak ada yang instan.

Advertisement

Bacil menjadi asistenku ketika mengajar. Biasanya, dia yang membantuku untuk memberi contoh untuk pelafalan kata yang sedang aku ajarkan kepada murid-muridku. Aku mengajak Bacil untuk menemaniku mengajar agar murid-muridku mendapat motivasi dan lebih bersemangat untuk belajar mengaji. Tak terasa sudah setengah jam aku mengajar. Biasanya, aku menyelipkan beberapa atraksi sulap di sela-sela pembelajaran sebagai waktu istirahat agar murid-murid tidak jenuh dan bosan. Aku meminta Bacil untuk mengambilkan tas hitamku. Aku bertanya kepada murid-muridku siapa yang ingin melihat atraksi sulapku sambil mengeluarkan buku hitamku dari dalam tas. Aku melakukan beberapa atraksi sulap, seperti memunculkan api dari buku, dan mengeluarkan sebuah merpati dari buku hitamku. Murid-muridku lalu bertepuk tangan sambil tertawa dengan riang.

Tak terasa, jam sudah menunjukkan pukul setengah tiga sore. Waktunya aku dan Bacil berpisah dengan anak-anak panti asuhan. Aku dan Bacil berpamitan kepada mereka dan memberitahu mereka bahwa aku dan Bacil tidak akan datang besok. Tidak lupa, aku memberi pesan kepada mereka untuk terus berlatih sambil melambaikan tangan. Aku keluar dari kelas sambil mencari pengurus panti.

Aku ingin meminta izin untuk tidak hadir besok karena ada panggilan acara. Walaupun aku sangat senang untuk mengajar murid-muridku, aku tidak boleh meninggalkan kewajiban dan tanggung jawabku sebagai ayah dan kepala keluarga. Aku harus tetap bekerja untuk mencari nafkah untuk menghidupi istriku dan Bacil. Aku tidak memungut biaya sepeser pun ketika aku dan Bacil mengajar di panti asuhan tersebut. Hatiku berkata bahwa aku ikhlas berpenampilan sebagai badut dalam mengajar anak-anak panti tersebut untuk mendapat keberkahan.

Namaku Yahya Edward Hendrawan. Aku memiliki cita-cita untuk menyiarkan agama Islam melalui profesiku sebagai badut. Aku tidak malu menjadi badut karena lewat badut, aku dapat menjadi figur yang dapat ditiru oleh anak-anak. Aku ingin menunjukkan kepada orang-orang bahwa seorang badut bisa menjadi seperti seorang ustaz yang mengajarkan etika-etika, dan mengaji dengan suara yang merdu bagai buluh perindu.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

CLOSE