Malam ini, aku ditemani rintik hujan sambal mendengarkan lagu-lagu indie kesukaanku. Di sudut kamar, aku memandang langit-langit dan mencoba berdiskusi dengan suara hujan. Aku bertanya, mengapa aku merasa menjadi perempuan yang paling tolol? Karena mencintaimu dengan begitu susah payahnya, tanpa banyak menuntut dan meminta.

Aku tak terbiasa memercayai seseorang, aku telah begitu paham bagaimana cinta bisa memanipulasi logika. Bagaimana cinta bisa membuat seseorang sangat tak mau memakai logika. Namun bagiku, ketika kau datang, aku tak bisa untuk tidak menaruh harapan padamu, membangun mimpi-mimpi bersamamu.

Advertisement


Kau berikanku pelangi, bahkan saat hujan tidak turun sebelumnya. Kau sediakan pelangimu sendiri, juga untukku. Pelangi kita, yang baru kusadari— hanya semu.


Di bagian selatan Jakarta, kedai kopi favoritku, aku dan kamu bertemu untuk pertama kalinya. Saat pandangan kita bertemu, saat aku melihat senyummu, saat kamu menyebutkan namamu, aku jatuh cinta padamu. Bagaimana mungkin perempuan yang sulit sekali percaya dan tidak mudah jatuh cinta bisa kau taklukkan hanya dalam hitungan menit?

Pesan-pesan yang kau kirimkan setelahnya, suara-suara yang aku dengar hampir setiap malam, menjelang pagi. Cerita-cerita yang kau bagikan, tawa yang kau hadirkan, lagu-lagu yang kau nyanyikan membuat aku jatuh, jatuh, jatuh, dan jatuh cinta lagi. Pada pertemuan kita selanjutnya, jangan kau tanya sebahagia apa aku..

Advertisement

Aku masih ingat bagaimana lembut tanganmu saat menggenggam jariku. Bagaimana rasanya aku memelukmu untuk pertama kali, bagaimana aku merasakan manisnya ciumanmu. Sayang, aku sangat begitu ingat bagaimana wanginya parfummu yang melekat pada tubuh yang memiliki pelukan paling hangat itu.

Kesalahanku, menilaimu begitu tinggi. Meskipun dunia dan seisinya menolak bahkan melarang kita bersama, aku tetap bersikukuh mencintai dan mempertahankanmu. Aku merasa begitu naif, aku tidak mempedulikan apapun, apapun yang menyiksa perasaanku. Aku jatuh cinta, lebih parahnya, aku sangat mempercayaimu, sayang. Tidakkah cukup kau menilaiku perempuan paling tolol yang pernah kau kenal?

Aku tahu jawabannya. Seharusnya, aku tak perlu sedalam ini mencintaimu.

Kita berpisah. Dan mimpi yang masing-masing selama ini kita miliki, tidak akan pernah menjadi nyata. Mimpimu yang membayangkan kita, kelak bisa mengikuti kebaktian bersama, merapal doa yang sama dan memanggil nama Tuhan dengan panggilan yang sama. Aku telah membangun mimpi lain, mimpi di mana kamu dan aku tidak bosan salat berjamaah di rumah, sama-sama menjalani puasa penuh di bulan Ramadhan dan ada di sampingku ketika aku merayakan Hari Raya Idul Fitri. Mimpi-mimpi yang kita bangun, kau hancurkan begitu saja.


Kau remukkan semua, kau meninggalkanku yang selalu berada di sampingku selama bertahun-tahun. Bagaimana aku bisa menerimanya?


Aku harap kamu tahu rasanya jadi aku.. Jadi perempuan yang setiap mengingatmu, menangis tersedu-sedu. Mempertanyakan banyak hal yang tak pernah kutemui jawabannya. Yang hanya terisak, ketika merindukanmu. Kamu tidak tahu kan rasanya jadi aku? Perempuan yang paling memercayaimu, tapi kau bohongi sesuka hatimu, selama ini.

Kau benar. Aku tolol. Sangat tolol karena mau kau bodohi, kau bohongi. Sekarang, aku yang harus berusaha melupakanmu. Caramu berbicara padaku, caramu memandangku, caramu mencubit pipiku, caramu… Aku tak bisa. Bagaimana caranya aku melupakan pelukmu, yang selama ini aku anggap sebagai rumah untuk aku pulang? Aku tidak bisa melupakan dialek anehmu saat berbicara, gaya bicaramu yang selalu membuatku rindu. Aku tidak bisa melupakan genggaman erat jemarimu yang entah bagaimana bisa seketika menenangkanku.

Jahatnya kau, membuatku sangat ingin membunuhmu. Kau jadikan aku perempuan bodoh yang hanya bisa menangisi mimpi-mimpi semua lalu menuliskan betapa hancurnya hatiku kau hancurkan. Kebohongan-kebohongan yang selama ini tak bisa dimaafkan, tapi selalu berusaha aku maafkan. Apa artinya? Selain menggambarkan betapa bodohnya aku.


Kesalahanku yang lain adalah menjadikanmu pria yang membuatku merasa kehilangan setengah warasku, membuat duniaku jungkir balik, dan terisak ketika hujan turun di sudut mataku.


Aku sudah terbiasa denganmu. Terbiasa dengan pesan singkatmu, terbiasa dengan sapaanmu di ujung telepon, terbiasa kamu tentu tidak akan pernah tahu rasanya jadi aku. Rasanya jadi gadis yang selalu menatap ponsel hanya karena menunggu kabar darimu. Kamu tak akan pernah tahu rasanya jadi aku– yang selalu menunggumu pulang, ke hatiku

Kamu memang tidak akan pernah mengerti tentang mimpi-mimpi yang selama ini aku perjuangkan. Karena kamu ternyata tidak pernah membangun mimpi dengan melibatkan aku di dalamnya. Aku tidak ingin menjadi kekasihmu lagi, yang ternyata tak kau hargai perasaan dan rasa percayanya. Aku hanya ingin memelukmu, sangat lama. Menghirup aroma tubuhmu yang selama ini memabukkanku. Setelah itu, pergilah. Jangan lagi kau bawa-bawa Tuhanku karena aku tidak pernah berpura-pura seakan aku mengenal Tuhanmu.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya