Tadi pagi banyak teman-teman yang meng-upload foto dengan kostum bertemakan adat Jawa.

Mereka mendedikasikan untuk Hari Kartini. Ucapan selamat dan juga wanita hebat pun memenuhi beranda BBM. Selama ini kita hanya mengenal R.A. Kartini sebagai pemikir ulung yang membuka gerbang kesetaraan wanita di dunia kaum lelaki.

Advertisement

Rupanya pahlawan yang ‘harum namanya’ ini memiliki seorang kakak yang jenius, seorang wartawan yang poliglot dan berkarir cemerlang di tanah Eropa. Mungkin, tanpa peran sang kakak, boleh jadi nama R.A. Kartini tidak akan pernah ‘harum’ dan menjadi pahlawan emansipasi wanita di Indonesia.

Di tulisan ini saya mencoba memperkenalkan sosok yang terlupakan namanya “Sosro Kartono”. Beliau adalah kakak dari Kartini yang menguasai 17 bahasa dan bisa menyembuhkan penyakit hanya dengan bacaan Ayat-Ayat Al Qur'an. Sosrokartono mempunyai daya pesoonalijke magneetisme yang besar sekali yang tak disadari olehnya.

Beliau sudah berpulang dan sampai sekarang masih jarang sekali orang yang tahu tentang sosok Sosrokartono yang juga berpengaruh terhadap emansipasi perempuan di indonesia

Advertisement

Bukan hanya karena kejeniusanya, ternyata Sosro lah yang menulis lalu mengirimi buku dan buletin kepada adiknya Kartini. Buku kiriman Sosro ini lah yang kelak menjadi pencerahan bagi Kartini untuk mendobrak tradisi dan melahirkan emansipasi wanita di Nusantara.

Berikut merupakan kata-kata Sosro Kartono yang tertulis pada batu nisannya:

1. Sugih tanpa banda, digdaya tanpa aji. (Kaya tanpa Harta atau Kaya Hati ; Sakti tanpa Ilmu)

2. Trimah mawi pasrah. (Rela menyerah terhadap keadaan yang telah terjadi)

3. Suwung pamrih tebih ajrih. (Jika tak berniat jahat, tidak perlu takut)

4. Langgeng tan ana susah tan ana bungah. (Tetap tenang, tidak kenal duka maupun suka)

5. Anteng manteng sugeng jeneng. (Diam sungguh-sungguh, maka akan selamat).

Tulisan di atas mengingatkan saya kepada sosok seorang “Bapak”. Jadi selain mengucapkan selamat Hari Kartini saya juga ingin mengucapkan selamat Hari Kartono. Sebuah lagu Ibu Kartini yang sewaktu TK dulu liriknya suka saya ganti menjadi “Bapak kita Kartono, putro sejati” itu ternyata ada sungguhan.

Catatan ini aku dedikasikan kepada Bapak yang telah mendidik saya sampai saat ini. Bapak yang memberikan kebebasan kepada saya dan tidak pernah memaksa saya untuk belajar, sholat, ataupun memaksa untuk melakukan kegiatan yang lainya. Ia hanya memberi wejangan dengan bahasa yang seadanya yang mudah dipahami oleh anak tentang pentingnya melakukan hal-hal itu.

Karna mungkin Bapak tahu kesadaran dan ketaatan itu harus dilakukan dengan hati nurani. Kesadaran dan ketaatan bukanlah hal yang harus dituntut. Karena nanti bukan kesadaran dan ketaatan yang didapat melainkan hanya keterpaksaan sesaat.

Saat aku sudah dipercayai olehnya, Bapakpun melonggarkan peraturannya. maka kadang aku melanggar kepercayaannya. Bapaklah yang setia menunggu aku diruang tamu sampai jam 12 dengan rasa sangat risau, bahkan sampai menyuruh ibu untuk mengontak beberapa temanku untuk menanyakan keadaanku, ”di mana, dan sedang apa aku dil uar sana.”

Di saat aku diterima kuliah di salah satu universitas, Bapak-lah yang selalu mengabari sanak keluarga dengan rasa bangga, "Anaku sekarang kuliah". Bukan karena kesombongan melainkan sebuah kebanggaan karna bisa memperbaiki jenjang pendidikan anaknya karna bapak dulunya hanya lulusan SD.

Di saat aku merengek memerlukan ini–itu, untuk keperluan kuliahku, Bapak hanya mengerutkan dahi, tanpa menolak, beliau memenuhinya, dan cuma berpikir, "Kemana aku harus mencari uang tambahan, padahal penghasilanku pas-pasan dan sudah tidak ada lagi tempat untuk meminjam."

Saat nanti aku berjaya. Mungkin Bapak-lah orang pertama yang berdiri dan bertepuk tangan untukku. Walau kadang aku cuma bisa membelikan baju koko itu pun cuma setahun sekali saat lebaran Bapak akan tersenyum dengan bangga.

Dalam sujudnya Bapak juga tidak kalah dengan doanya ibu, cuma bedanya dia simpan doa itu dalam hatinya. Seperti sosok Sosrokartono tadi walaupun jasanya tidak terlihat tapi ia juga berpengaruh terhadap emansipasi perempuan di indonesia. Sekali lagi selamat Hari Kartini tanpa harus melupakan sosok Sosro Kartono

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya