Belajar Dari Sepang: Tantangan Besar Penyelenggaraan F1 di Bintan

Formula 1 menjadi salah satu perlombaan jet darat terpopuler yang ada di dunia. Ajang balap yang sudah digelar sejak tahun 1950 ini menjadi salah tempat unjuk diri para pembalap dalam menggeber kendaraannya di dalam sirkuit. Sudah menghasilkan beberapa pembalap populer seperti Michael Schumacher, Sebastian Vettel, hingga Fernando Alonso.

Ajang balap ini cukup populer di berbagai penjuru dunia, termasuk di Indonesia. Kehadiran Rio Haryanto sebagai pembalap F1 pertama asal Indonesia yang membalap bersama tim Manor Racing pada tahun 2016 semakin menambah gaung olahraga tersebut di Indonesia. Tetapi, selepas perginya Rio Haryanto pada pertengahan tahun 2016 dari ajang tersebut, pamor olahraga tersebut seperti naik turun di negara ini.

Hadirnya penyelenggaraan MotoGP di Mandalika pada tahun 2022 menjadikan isu adanya F1 ke Indonesia semakin membumi. Puncaknya, Ikatan Motor Indonesia (IMI) melakukan kerjasama dengan perusahaan asal Singapura untuk membangun sirkuit F1 di kawasan Lagoi, Bintan. Sirkuit yang akan diberi nama Bintan International Circuit tersebut sudah di groundbreaking dan rencananya akan selesai dalam waktu dua tahun serta menghabiskan dana sebesar 1,2 triliun rupiah. Meskipun belum ada pernyataan resmi dari pihak Formula 1 mengenai masuknya Indonesia ke dalam kalendar mereka, namun ambisi dalam menyelenggarakan ajang balap tersebut di Indonesia sekaligus turut mengembangkan kemampuan balap para anak bangsa terlihat cukup menjanjikan.

Namun, sebelum berekspektasi besar mengenai kehadiran F1 ke Indonesia, kita harus belajar banyak dari penyelenggaraan event tersebut di Asia Tenggara, terkhusus yang terjadi kepada gelaran F1 di Malaysia. F1 di Malaysia bagaikan sebuah kisah lama yang harus berakhir tragis. Menjadi salah satu seri yang cukup ‘senior’ di kawasan Asia Tenggara, Malaysia harus mengakhiri kerjasamanya untuk menyelenggarakan F1 pada tahun 2017.

Salah satu faktor utamanya, gelaran F1 di Sepang mengalami kerugian besar imbas turunnya penonton dan persaingan ketatnya dengan gelaran di negara tetangga, Singapura. F1 di Malaysia hanya mampu menyedot penonton sejumlah 45.000 dari 120.000 kapasitas yang ada di Sepang International Circuit. Minimnya penonton disinyalir disebabkan oleh persaingan dengan F1 seri Singapura yang berada dalam jarak waktu tidak terlalu jauh. Hadirnya F1 Singapura dengan konsep night race, sirkuit jalanan kota, sekaligus menyajikan berbagai macam pertunjukan artis dinilai lebih menarik minat masyarakat, terutama mereka yang berada di area Asia Tenggara dibandingkan menghadiri perhelatan GP Malaysia.

Biaya besar juga menjadi bayang-bayang dalam penyelenggaraan F1. Mantan Menteri Pariwisata dan Budaya Malaysia sempat mengatakan biaya perhelatan F1 setiap seri-nya bisa menembus sekitar 996 miliar rupiah. Angka yang cukup besar ini akan semakin terasa berat mengingat Formula 1 merupakan event yang dilaksanakan secara berkesinambung setiap tahunnya atau tidak hanya pada satu tahun saja. Berdasarkan alasan-alasan tersebut, pembangunan Bintan International Circuit yang salah satunya diproyeksikan untuk F1 menjadi sedikit riskan.

Lokasi Bintan yang bertetangga langsung dengan Singapura menjadi salah satu alasan mengapa Bintan International Circuit sangat riskan dan juga bisa bernasib sama dengan penyelenggaraan F1 di Malaysia. Penyelenggaraan F1 di Bintan perlu memunculkan banyak keunggulan dan juga hal-hal yang menarik animo penonton, baik penonton dari dalam maupun luar negeri. Selain itu, bisa menyaingi animo atau bahkan melebihi pamor dari gelaran F1 di Singapura.

Tantangan lainnya ialah, lokasi Bintan juga cukup sulit untuk dicapai dari beberapa kota yang ada di Indonesia. Lokasinya yang berada hampir di perbatasan antara Indonesia dan Singapura membuat masyarakat harus mengeluarkan biaya lebih untuk transportasi seperti pesawat ataupun kapal menuju ke tempat tersebut.

Berkaca dari gelaran MotoGP Indonesia 2022 yang diselenggarakan di Lombok, animo penonton yang menghadiri gelaran balap motor tersebut masih dibawah penyelenggaraan MotoGP di Malaysia ataupun Thailand. Sehingga, patut diperhitungkan juga apakah penyelenggaraan F1 di Bintan dapat mudah diakses oleh masyarakat dan juga pecinta olahraga tersebut.

Maka dari itu, tantangan besar menanti Indonesia dibalik keinginan untuk menghadirkan ajang jet darat paling mutakhir di bumi tersebut. Berkaca dari kesulitan Sepang International Circuit dalam menembus pasar Asia Tenggara, Indonesia perlu menyiapkan banyak hal untuk bisa melebihi keperkasaan Singapura jika memang ingin serius dalam menggarap pasar Formula 1. Jika memang ingin mendatangkan olahraga tersebut di Indonesia, maka diperlukan banyak persiapan agar nantinya tidak menjadi proyek yang besar, megah, mewah, namun hanya menghasilkan kesia-siaan belaka.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Mahasiswa Binus University Jurusan Komunikasi Massa