Belajar tentang Self Acceptance: Memahami bahwa Kita Tercipta dengan Segala Keunikan Masing-masing

belajar memahami self acceptance


"Apa kabar?", tanya seseorang kepadamu.

Pasti jawabannya, "Baik".


Advertisement

Akan ku tanyakan pada kalian semua. Apakah hari ini masih memiliki rasa kesal di hati? Mungkin rasa kekecewaan? Atau mungkin rasa marah tetapi tidak bisa diungkapkan? Yaps! Ini sudah tidak baik namanya. Baik itu memiliki arti luas dan dalam karena baik secara fisik mungkin iya, tetapi tidak dengan mental atau jiwa yang kita rasakan. Jika perasaan yang tidak baik maupun negatif masih ada di dalam jiwa kita masing-masing ini sebagian kecil dari bagian penerimaan diri. 

Self acceptance atau penerimaan diri adalah menerima sesuatu yang terjadi di dalam diri kita maupun menerima sesuatu yang terjadi di luar kendali kita. Nah, di umur yang sekarang coba kalian tanya sama diri sendiri dari 1-10 berapakah penerimaan diri kalian sepanjang umur kalian saat ini? Semakin besar angkanya maka semakin besar juga penerimaan dirinya begitupun sebaliknya.

Di umur yang menginjakan 20++ ini sudah dimulai dengan krisis penerimaan seperti, ada teman yang lebih baik daripada kalian langsung down, atau masih berkonflik dengan diri sendiri seperti, merasa kesal atau marah sama diri sendiri karena tidak berani keluar dari zona nyaman ataupun ketika suatu kejadian tidak sesuai dengan harapan malah menyalahkan diri sendiri. Tidak hanya itu, di luar diri kita juga sangat terpengaruh, seperti lingkungan sekitar. Misalnya, memiliki masalah dengan pekerjaan atau dimarahi oleh atasan dengan mengatakan bahwa kinerja kita buruk itu juga membuat diri menjadi tidak percaya diri sehingga bekerja juga setengah-setengah alias tidak proper. Ketika lingkungan tidak mendukung kita seolah-olah dunia kita hancur. 

Advertisement

Adakah yang mengalami kejadian di atas? Pasti ada, itu normal kok. Bagaimana caranya bisa menerima?


Hal yang paling utama adalah berdamai. Berdamai dengan semua yang ada, berdamai dengan apa yang terjadi, berdamai dengan apa yang diberikan, berdamai pada diri sendiri, dan berdamai dengan kenyataan yang ada.


Advertisement

Susah? Iya banget. Proses berdamai itu membutuh waktu selamanya, kenapa begitu? Karena selama kita masih hidup di dunia ini, masalahnya cuma satu, yaitu penerimaan diri. Menerima segala yang terjadi dalam hidup kita, baik dari dalam diri maupun di luar kendali kita. Berdamai sama dengan memaafkan, memaafkan hari ini, esok, lusa, seminggu kemudian, sebulan kemudian dan setahun kemudian. Intinya setiap detik, menit, jam, hari, bulan, dan tahun selalu berdamai dengan memaafkan segala hal yang terjadi di dalam hidup kita. 

Selanjutnya adalah mengenal diri sendiri lebih jauh karena setiap manusia ada kelemahan dan kelebihan. Jadikan kelemahan dan kelebihan sebagai teman bukan musuh tetapi sebagian orang menganggap kelebihan sebagai saudara. Kenapa sebagai teman? Karena teman itu bisa diandalkan, bisa membantu, bisa menjadi support system tetapi bisa juga jadi penghancur bila tidak digunakan dengan baik.

Sedangkan sebagai saudara? Karena ini yang paling dekat, selalu dibangga-banggakan, selalu ditonjolkan padahal yang namanya terlalu akan tidak bagus hasil sehingga lebih baik secukupnya saja.


Ingat, di dunia ini yang tau diri kalian cuma kalian bukan orang lain. Ingat pula yang cinta dan sayang harus dari dalam diri kalian bukan orang lain, sebisa mungkin perasaan itu lebih besar ke diri sendiri bukan orang lain. 


Tanamkan di dalam diri, hidup itu berproses, hidup itu belajar, proses dan belajar adalah dua hal yang berbeda. Proses itu perubahan di dalam perkembangan sedangkan belajar adalah usaha atau upaya dari yang dipelajari. Intinya hidup itu belajar dari sebuah proses, sehingga waktu yang dibutuhkan setiap manusia itu berbeda-beda dan tidak sama, akan berlangsung seumur hidup, meskipun sudah berusia matang tetapi belajar dan berproses itu harus karena bentuk dari mengembangkan diri. 

Kemudian, open minded. Mengubah persepsi kita dengan lebih open. Dimulai dengan membuka pikiran, dengan cara bertukar pikiran dengan teman, orang tua atau seseorang yang berbeda dengan kita. Informasi yang didapat dimasukin ke dalam otak untuk melihat persepsi baru dari cara pandang orang lain (sisi orang lain) sehingga pemikiran kita akan bertambah ilmu dan pengetahuan. Walaupun membuka pikiran tidak mesti untuk mengikuti apa yang orang lain katakan. Ingat, ini hidup anda jadi buatlah hidup anda sesuai dengan versi anda sendiri. 

Yang terakhir adalah bersyukur dan rasa terima kasih. Bersyukur setiap berkat yang diterima, bersyukur setiap kejadian yang terjadi, bersyukur setiap perasaan yang dirasakan, dan jangan lupa berterima kasih dengan diri sendiri, dengan perasaan yang ada dan dengan orang-orang sekitar. Kamu itu unik, kamu ya kamu, kamu menciptakan dan kreativitas di dalam hidup kamu sendiri karena bahagia itu diciptakan dari diri sendiri bukan dari orang lain.  Berharap boleh tetapi secukupnya. 

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Cita-cita paling tertinggi adalah ingin menjadi manusia yang baik untuk diri sendiri, Allah, pasangan dan anak.

Editor

une femme libre

CLOSE