Benarkah kita menginginkan perdamaian?

Bila benar, mengapa pencapaian lebih kita utamakan dibanding teman? Mengapa kebahagiaan seringkali kita ukur melalui harta dan kepemilikan? Padahal kedua hal ini adalah dasar dari ego dan perpecahan.

Advertisement

Benarkah kita menginginkan perdamaian?

Bila benar, mengapa kita masih terus berupaya berkompetisi? Mengapa kita terus berusaha untuk menjatuhkan pihak yang tidak berada dalam satu sisi?

Bayangkan kita mengupayakan sebuah peradaban.

Advertisement

Peradaban yang ketika bertemu, masyarakatnya saling menyapa, menanyakan kabar, saling merasa bertanggung jawab satu sama lain.

Peradaban yang bekerja untuk orang-orang yang mereka sayang, yang ketika pulang menyambutnya dengan ucapan selamat datang, juga kecupan.

Peradaban yang tak harus diderita rasa khawatir atas tuntutan, yang tindakannya fokus pada kebermanfaatan.

Bayangkan kamu berada dalam peradaban ini, kamu bisa merasakan perasaan hangat yang diperoleh ketika orang tua mencium kening anak-anaknya ketika tidur.

Ketika sepasang suami istri saling bersyukur karena telah dipertemukan.

Ketika pagi, bukan tugas yang menyapamu, melainkan keluarga. Ketika keluar rumah, bukan target yang kamu ingin capai, melainkan keterhubungan.

Saya rasa, tugas besar kita untuk menciptakan perdamaian bukan soal kebijakan internasional, atau sumber daya alam, atau terkait konflik kepentingan lainnya. Tugas besar kita, seharusnya bisa lebih mendasar, dimulai dari mendefinisikan hidup seperti apa yang sebenarnya kita inginkan.


Hold your ego and try to understand each other . . .


Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya