Benarkah Pernikahan Dini Menjadi Sebuah Solusi?

Pernikahan dini kini kian melonjak

Pernikahan bukan hanya hubungan antara 2 orang sepasang kekasih saja, namun pernikahan menyatukan keluarga dari kedua bela pihak. Pernikahan tidaklah sesederhana yang dibayangkan. Pernikahan bukan hanya yang berkaitan tentang cinta dan keromantisan yang setiap harinya harus di ungkapkan, namun banyak hal dan persiapan-persiapan yang harus kita miliki yang akan menjadi bekal kita nanti dalam berumah tangga, ya terutama seperti persiapan fisik, psikologis, maupun emosional.

Advertisement

Maka dari itu pernikahan dini tidak disarankan. Kedewasaan diri baik secara mental dan finansial juga sangat perlu diperhatikan sebelum pernikahan. Persiapan mental digunakan karena menikah itu menyatukan 2 kepala yang punya pikiran, dan ego masing-masing dan mengharuskan 2 kepala ini harus bisa menerima perbedaan satu sama lain dan kekurangan pasangannya masing-masing yang perlu dilakukan hingga keputusan untuk menikah.

Undang-undang Republik Indonesia No. 1 tahun 1974 pasal 6, yang mengatur batas minimal usia untuk menikah. Dimana menikah hanya diizinkan jika pria sudah mencapai usia 19 tahun dan pihak wanita sudah mencapai usia 16 tahun. Namun di balik semua peraturan itu ternyata dalam sisi medis, dalam usia tersebut masih terlalu dini untuk menghadapi pernikahan. Beberapa peneliti bahkan menunjukkan bahwa pernikahan dini di usia remaja lebih beresiko dan berujung pada perceraian.

Pernikahan dini bagi perempuan tentunya sangat memprihatinkan, ada beberapa alasan mengapa perempuan dirugikan dalam hal ini. Alasan yang paling kuatnya yakni :

Ketika seorang perempuan menikah di usia dini, Ketika itu alat-alat reproduksi belum sepenuhnya berkembang secara sempurna. Berdasarkan penelitian maka perempuan tersebut lebih rentan terkena kanker serviks.

Kehamilan dan persalinan di usia dini tentunya juga akan sangat beresiko terhadap kematian kepada ibunya ataupun pada anaknya.

Advertisement

Terhambatnya perempuan untuk menempuh Pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi karena pernikahan dini. Di Indonesia kini pernikahan di usia dini semakin marak. Pernikahan dini terjadi dengan alasan untuk menghindari fitnah, berhubungan seks di luar nikah dan faktor ekonomi. Selain itu masa pandemi yang memaksa siswa belajar di rumah membuat mereka berpikir untuk menikah. Karena tidak ada kegiatan dan kesadaran tanggung jawab dalam belajar. Akhirnya anak memutuskan nikah dalam waktu yang lebih cepat.

Dan mereka berpikir juga bahwasanya jika orangtua mereka menikahkan mereka yang masih remaja, mereka merasa beban orangtua mereka berkurang karena setelah menikah tanggung jawab akan berpindah menjadi tanggung jawab suami mereka bukan orangtua lagi. Mereka yang dinikahkan berharap setelah menikah akan punya kehidupan yang lebih baik dibandingkan sebelumnya mereka yang masih bersama orangtua mereka.

Advertisement

Namun, sebenarnya jika anak tersebut putus sekolah atau hanya bermodalkan berpendidikan rendah, justru itu akan memperpanjang rantai kemiskinan. Masalahnya juga, praktik pernikahan dini lebih banyak terjadi pada golongan masyarakat menengah ke bawah.

Adapun bahaya pernikahan dini dari segi Kesehatan fisik menurut para ahlinya, yaitu :

Tekanan darah tinggi

Anemia

Bayi lahir premature dan BBLR

Ibu meninggal saat melahirkan

Aturan hukum UU No 16 tahun 2019 mengenai perkawinan membuka celah kesempatan anak di bawah umur melakukan pernikahan dini. Disepensasi yang diberikan oleh pengadilan agama membuat remaja dan pihak keluarga memaksakan diri untuk bisa menikah.

Dispensasi adalah kebijakan orang di bawah umur bisa melakukan pernikahan karena alasan tertentu yang mendesak. Namun, pemerintah perlu juga mengambil ketegasan dalam kebijakan dispensasi tersebut. Dispensasi juga harus di awasi dengan ketat agar remaja tidak langsung mengambil keputusan untuk menikah. Maka dari itu, kita sebagai anak muda sebaiknya kita mencari pengalaman, serta ilmu parenting untuk bekal sebelum menuju pernikahan.

Dan untuk mencegah agar tidak terjadinya pernikahan dini, maka pendidikan bisa menjadi salah satu hal yang berperan penting. Dengan Pendidikanlah dapat memperluas wawasan anak dan para remaja saat ini serta membantu meyakini mereka bahwa menikah itu harus dengan persiapan yang mantap dan usia yang tepat.

Dan dengan Pendidikan juga kita bisa terampil dalam hidup, mengembangkan karier serta cita-cita. Namun berbeda pula dengan menikah, menikah bukanlah suatu ajang perlombaan yang siapa duluan yang melakukanya dialah yang menang dan bukan juga sebagai sebuah jalan pintas agar bisa terbebaskan dari kemiskinan.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

CLOSE