Rutinitasku setiap pagi kini berubah drastis. Tidak ada lagi frasa “bangun siang” dalam keseharianku. Bersantai pagi sambil ongkang-ongkang kaki di depan teras menjadi barang langka yang sulit ditemui. Aktifitas kala fajar kini terasa begitu sibuk bagiku. Aku seolah tak kalah sibuk dengan mentari pagi yang sudah harus stand by menyinari bumi.

Setengah enam pagi aku sudah harus siap untuk berburu sarapan. Lokasi warung tujuan kira-kira 1 km dari rumah. Warung makan ini menyediakan aneka masakan yang rasanya cukup lezat dan “berbumbu” dibandingkan warung-warung pada umumnya yang buka di pagi hari. Biasanya, warung ini menyediakan beraneka macam lauk pauk, sayuran kering/oseng dan hanya 2 jenis sayuran yang berkuah (seperti sup, bening, kare, sayur asam, lodeh, dan lain-lain). Kira-kira pukul 6 pagi, sayuran berkuah yang disediakan sudah habis. Jadi, jika ingin membeli sayur berkuah, datanglah sebelum pukul 6.

Advertisement

Suatu pagi, aku membelikan sup untuk ibuku yang sedang dalam masa pemulihan setelah hampir 1 bulan opname di rumah sakit. Cukup banyak makanan yang harus dibatasi demi mempercepat proses pemulihan ibuku. Hal ini membuatku merasa kesulitan dalam memilih lauk dan sayur apa yang nantinya akan disajikan untuk ibu tersayang. Dalam hati aku menggumam, “Ah, kalau sup pasti segar dan makannya ibu akan menjadi lahap!”

Setibanya di rumah, aku menghampiri ibu yang ketika itu sedang berlatih untuk jalan menggunakan alat bantu. Ibu bertanya,”Apa menu hari ini, nduk?” Aku menjawab dengan senang hati,” Sup Bu!” Tiba-tiba tanggapan yang tidak diharapkan pun datang dari ibu. Ibu berkata,” Kok sup terus, to? Ibu bosan!” Seketika hatiku terasa sakit. Aku merasa bahwa usahaku setiap hari untuk beli lauk pagi-pagi sama sekali tidak dihargai. Tidak tahukah ibu kalau mencari lauk dan sayur yang enak pagi-pagi sekali itu sangat sulit, apalagi ibu tidak boleh makan sayur dan lauk yang sembarangan.

Terlanjur sakit hati, aku bergegas ke kamar dan mutung. Tidak seperti biasanya, aku tidak menyiapkan berbagai macam obat yang rutin dikonsumsi ibu sehabis sarapan. Aku berpikir masa bodoh! Capek! Jenuh! Sampai akhirnya ibuku dengan suara lirih berucap,” Dek, ibu minta maaf ya! Makasih sudah dibelikan sarapan. Adek jangan mutung. Ibu cuma punya kamu…” Mendengar ucapan ibu, aku terharu. Tentu aku tidak memperlihatkan air mataku di depan ibu. Aku ingin terlihat kuat dan tegar di hadapan ibu. Segera kuhapus sisa-sisa linangan air mataku, lalu kuhampiri ibu dan kusiapkan obat sambil tersenyum.

Advertisement

Kasih antara seorang ibu dan anaknya sampai kapanpun tidak akan pernah terputus. Kasih sayang yang tulus mampu mengalahkan sikap mutung yang ada. Beruntung aku tidak jadi mutung. Jika aku tetap kokoh untuk bersikap mutung, aku tidak akan pernah belajar pentingnya kesabaran. Ya, kasih itu sabar dan tidak berkesudahan. Aku harus bersabar dalam mendampingi ibuku yang sedang dalam masa pemulihan. Aku tahu bahwa aku tidak sendiri karena Tuhan pun turut menemani tiap langkahku dan meringankan segala bebanku. Aku paham bahwa aku harus mengesampingkan lelah fisik dan lelah hati yang kurasakan. Kesembuhan ibu adalah semangat bagiku dan kesabaranku adalah obat bagi ibu. Semangat berjuang, ibu!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya