Dua tahun telah berlalu. Semua proses untuk melupakanmu telah kujalani. Tak mudah bagiku untuk menjalaninya. Karena mengenal dirimu bukan hanya satu atau dua hari, melainkan bertahun-tahun. Begitu pula saat aku ingin melupakanmu.

Aku berjuang dengan sangat keras, menyibukkan diri dengan mencari potensi-potensi yang ada dalam diriku, menyadarkan diri bahwa masih banyak hal yang bermanfaat yang bisa kulakukan dengan tak hanya berdiam diri dan terus memikirkanmu. Hingga pada akhirnya aku berhasil melalui setiap proses itu.

Advertisement


Menyedihkan pada akhirnya harus seperti ini. Yang dulunya sedekat nadi, namun kini sejauh matahari. Bahkan kita harus seperti saling tidak mengenal satu sama lain. Namun ku sadar, inilah takdir yang memang harus kujalani. Aku ikhlas atas semuanya ini.


Entah mengapa pada malam itu, sosok dirimu kembali hadir di dalam mimpiku. Aku kembali teringat pada semua yang pernah kita lalui bersama. Terutama pada gelang yang sedang kau kenakan pada tanganmu saat ini, ya gelang itu. Gelang kenangan kita.

Aku tak tahu apakah itu gelang yang sama seperti dulu ataukah sudah ada penggantinya? Rasa rindu yang tak dapat kutahan, membuatku merasa sakit dan sesak di dalam. Semua kenangan itu, terekam dengan sangat jelas di dalam benakku. Tak banyak yang dapat ku lakukan, karena aku sadar kau sudah menjadi miliknya.

Advertisement

Aku tahu, aku tak bisa terus begini. Rasa rindu ini sangatlah wajar. Namun untuk menyayangi dan mencintaimu kembali, itu tak mungkin terjadi. Tak banyak yang bisa ku sampaikan padamu, biarlah rasa rindu ini hilang dengan sendirinya. Ku harap, semoga kau bisa menemukan kebahagiaanmu sendiri.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya