Sibuk dengan urusan sendiri, lebih sering berkumpul dengan sahabat daripada ibu kandung sendiri, jarang bertegur sapa dan menjenguknya adalah sebuah gambaran untuk anak egois nan durhaka.

Namun hal itu tidak berlaku untuk saya. Justru saya melakukan semua itu agar saya tidak mendurhakai Ibu.

Advertisement

Ibu menyukai uang. Itu ia buktikan dengan mencampakkan ayah yang tidak pernah selingkuh dan menyiksa ibu secara fisik karena saat saya kecil ayah adalah orang miskin tak beruang. Maka ibu membuang ayah yang tak beruang. Meski ayah sudah ngotot untuk tidak mau berpisah, tapi ibu teguh dengan pendiriannya untuk bercerai dengan harapan mendapatkan ayah baru untuk saya yang berduit.

Beberapa tahun setelah ibu membuang ayah, saya sempat tinggal dengan ibu. Namun tak lama kemudian saya tinggal dengan ayah saja. Hal itu tentu membuat saya lebih dekat kepada ayah ketimbang ibu. Hal itu pula menjadikan saya sebagai replika dari ayah hanya beda jenis kelamin.

Karena saya adalah replika dari ayah, ketika saya kembali ke rumah ibu kemudian mengobrol dengan ibu serta melihat tingkah lakunya, saya jadi kurang srek. Kami jadi tidak cocok, sebagaimana ibu yang tidak cocok dengan ayah.

Advertisement

Tiap kata-karta yang keluar dari mulut saya ibu anggap sebagai tindakan durhaka dan kurangjar. Tiap perbuatan yang saya lakukan padanya adalah bentuk kedurhakaan saya kepada ibu. Padahal semua kata-kata dan perbuatan saya kepada ibu adalah sama dengan yang saya lakukan kepada ayah. Namun ayah tidak pernah berkata bahwa saya adalah anak kurangajar apalagi sampai berkata bahwa saya durhaka. Segala kata-kata dan perbuatan yang ibu anggap tindakan mendurhakai orangtua justru menjadi sesuatu yang makin mendekatkan hubungan antara saya dan ayah.

Maka dari itu saya selalu enggan untuk pulang ke rumah ibu. Bukan karena saya tidak ingin berbakti. Bukan karena saya tidak ingin merawat. Tapi saya sebisa mungkin menghindar untuk mengucapkan kata-kata dan melakukan perbuatan yang ibu anggak sebagai tindakan durhaka.

Kalau toh saya ini memang durhaka, setidaknya saya tidak sebajingan Malin Kundang yang enggan mengakui ibunya sendiri. Tiap kali ibu pinjam uang kepada saya, selalu saya usahakan untuk meminjamkannya meski saya sendiri sedang butuh. Lalu saya tidak akan bergegas menagihnya hingga akhirnya saya lupa.

Saya tidak pernah lupa untuk mengucap salam tiap datang ke rumah ibu dan mencium tangannya tiap kali akan pergi lagi.

Tiap kali saya membuka rekening bank saya selalu mencantumkan nama ibu sebagai nama ibu kandung saya.

Saya jarang pulang bukan karena tidak menyayangi ibu. Justru karena saya tidak mau terus melakukan hal-hal yang Ibu anggap sebagai tindakan yang mendurhakainya maka saya memilih untuk jarang pulang.

Semakin sering kita bertemu maka kemungkinan untuk mendurhakai ibu semakin besar. Orang-orang bertanya pada saya, apakah saya tidak merindukan ibu?

Saya tidak tahu momen apa yang harus saya rindukan saat bersama ibu atau hal apa yang harus saya rindukan dari ibu. Saat ibu membuang Ayah? Atau saat ibu marah-marah karena tidak ada beras?

Ah, mungkin satu-satunya momen paling saya rindukan adalah saat saya masih asyik tidur di dalam rahimmu tanpa memikirkan hal apapun.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya