Hai Kekasih,

Saat aku menuliskan surat terbuka ini, aku masih tidak percaya bahwa kamu menjadi sosok yang aku rindukan saat ini. Masih tidak percaya bahwa aku dipertemukan denganmu. Kita berdua saling mengucap cinta dalam dekapan hangat pelukmu di sela-sela dinginnya kota Yogyakarta.

Advertisement

“Ketika aku menyatakan ini, aku siap dengan segala risiko yang ada di depan nantinya” katamu waktu itu, sebelum akhirnya aku mengangguk sebagai tanda bahwa aku pun siap menanggung risiko itu. Namun, kala itu meskipun mengangguk yakin aku tetap merasa ada keraguan di dalam diri kita. Aku menatapmu, hanya untuk memastikan bahwa kita benar-benar yakin dan siap dengan segala risiko yang ada.

Aku tau, kita sangat paham dengan keadaan yang kita alami saat ini. Membingungkan bahkan kita tidak dapat memahami secara lebih mendalam. Bahkan mulutku seakan bungkam dan tidak ingin berkata.

Terkadang aku berpikir :

Advertisement


“Kenapa rasa ini harus hadir?”

“Kenapa rasa ini hadir di saat kami sama-sama sudah memiliki pasangan?”

“Kenapa perasaan itu terus berkembang?”

“Kenapa aku selalu memikirkanmu?”


Jujur mencintaimu itu menyenangkan, tetapi ada luka tak berdarah. Luka yang terbentuk ketika aku melihatmu dengan dia. Dan jujur, aku bingung kemana mengarahkan hubungan kita ini.

Tidak. Tidak. Tidak perlu kau minta maaf karena telah membuatku jatuh hati padamu. Jangan kau salahkan cinta ini, sayangku. Cinta ini tidak salah, hanya saja kedatangannya di waktu yang tidak tepat.

Apakah aku merasa menyesal telah jatuh hati padamu? Tentu saja tidak. Lalu bagaimana dengan luka yang aku rasakan? Tidak, kamu tidak usah pedulikan rasa ini. Biar aku saja yang merasakannya.

Teruntuk kamu yang mungkin perasaannya sedang tidak menentu, terkadang apa yang kita harapkan tidak selalu sesuai dengan kenyataannya. Semesta selalu menyimpan misteri yang tidak pernah terduga. Pertemuan ajaib kita pun tidak pernah terduga. Tuhan adalah sutradara kita. Ia yang akan mengarahkan aktornya dengan skenario yang masih menjadi rahasia. Setidaknya saat ini kita masih bisa bersama, mencintai dalam diam, mencintai dalam rahasia, dan mencintai dalam doa. Meski tidak harus bersatu.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya