Warna merah dan kata semangat sudah cukup untuk menghiasi tahun 2022 saya di tengah perjalanan menggapai cita-cita. Bangkit dan berdamai dengan masa itu tentu tidak mudah, tetapi orang tua saya selalu mendukung saya dalam keadaan apa pun. Maka dari itu, saya ingin menyampaikan rasa terima kasih saya melalui kegiatan yang saya jalani di masa perkuliahan. Saya mulai mencari tahu kegiatan serta UKM apa saja yang ada di fakultas saya.
Saya sadar bahwa saya harus bisa dalam memanfaatkan segala kesempatan selama perkuliahan ini. Sejak di bangku sekolah, minat saya pada kegiatan pertukaran pelajar sangat besar dan saya bersyukur bisa menemukan peluang untuk dapat mengikuti kegiatan tersebut melalui salah satu UKM. Saya tertarik pada program pertukaran pelajar yang ditawarkan UKM tersebut. Namun, untuk dapat mengikutinya, saya harus mengikuti seleksi berkas melalui beberapa persyaratan. Beberapa persyaratan yang diperlukan adalah Curriculum Vitae (CV) serta Motivation Letter.
Awalnya, saya merasa kurang percaya diri untuk mendaftar program pertukaran pelajar ke Malaysia karena saya adalah anggota baru di UKM tersebut dan merupakan mahasiswa baru yang belum memiliki pengalaman. Lalu, ibu saya berkata bahwa jika saya belum memiliki pengalaman untuk dicantumkan dalam CV, saya harus membuat Motivation Letter yang lebih menarik. Sejak saat itu, saya berusaha menulis Motivation Letter secara maksimal. Setelah mengirim seluruh berkas yang diperlukan, saya tidak berekspektasi banyak karena saya tidak begitu percaya diri. Bahkan, saya tidak mencari informasi lebih lanjut tentang program tersebut.
Saya banyak menghabiskan waktu saya bersama keluarga di bulan itu karena saya ingin memanfaatkan waktu liburan saya dengan keluarga. Di suatu malam, saya tidak membuka smartphone saya dalam waktu yang lama. Setelah saya memeriksanya, banyak pesan yang masuk sejak tadi. Banyak senior dan teman yang mengucapkan selamat kepada saya dan saya baru tersadar bahwa saya diberi kesempatan untuk menjadi salah satu delegasi dari Indonesia yang berangkat menuju Malaysia.
Orang tua saya pun sama kagetnya dengan saya mendengar kabar tersebut. Selain rasa senang, saya juga merasa bersyukur, takut, dan bingung di saat yang bersamaan. Saya sering berpikir berlebihan tentang hal sepele yang menyebabkan rasa takut saya semakin besar. Namun, teman-teman dekat saya dan orang tua yang selalu mendukung membuat saya sadar bahwa kesempatan ini tidak boleh disia-siakan. Selama sisa waktu yang ada, saya mulai mencari tahu apa saja yang diperlukan untuk mengikuti program tersebut karena saya harus meninggalkan kegiatan akademik selama satu minggu.Â
Di hari keberangkatan, saya bertemu teman pertama saya dari Jogja yang sangat ramah. Selang beberapa saat, di bandara transit, saya juga bertemu teman-teman dan kakak-kakak dari seluruh Indonesia. Sebelum bertemu mereka, saya mengira mereka hanya akan berteman pada orang yang mereka kenal saja. Ternyata, dugaan saya salah karena saya justru merasa dirangkul dan dilindungi. Sejak saat itu, saya merasa bahwa satu minggu ini akan menjadi salah satu momen yang paling berkesan dalam hidup saya.
Sesampainya di kota tujuan, Kuching, saya disambut hangat oleh teman-teman dari Malaysia. Setelah berswafoto, saya dan delegasi lainnya diajak untuk makan malam lalu berkenalan serta bertukar cerita. Malam itu, para delegasi serta panitia dari Malaysia menjadi cukup dekat. Kemudian, karena sudah cukup larut, para delegasi diantar menuju asrama untuk istirahat.
Kegiatan pertama di Malaysia dimulai dengan upacara pembukaan serta tarian khas Sarawak yang meriah. Setelah itu, saya diajak untuk mengikuti diskusi dengan metode yang diterapkan di Malaysia. Saya menyadari kurikulum yang diimplementasikan pada universitas di Malaysia dan Indonesia memiliki sedikit perbedaan. Saya banyak belajar dari metode tersebut yang saya rasa lebih terstruktur serta inklusif.Â
Hari berikutnya, saya dikenalkan dengan budaya khas Sarawak, Malaysia, dari mulai bahasa hingga permainan tradisionalnya. Banyak kegiatan yang dilakukan secara berkelompok dan hal tersebut secara tidak langsung juga membuat saya lebih mengenal teman-teman delegasi dari Indonesia. Selain itu, selama kegiatan berlangsung, saya banyak bertanya dan bertukar cerita dengan panitia dari Malaysia. Hal tersebut menjadi salah satu alasan saya ingin mengetahui lebih lanjut tentang banyak hal menarik di negeri tetangga ini. Hari-hari berikutnya diisi dengan kegiatan sosial, akademik, serta kegiatan yang membuat para delegasi dan panitia menjadi lebih dekat.Â
Sejak lama, saya ingin mengetahui bagaimana pemikiran seseorang yang tumbuh di budaya yang berbeda dari Indonesia terhadap suatu hal. Melalui program ini, saya mendapat gambaran tentang jawaban yang saya cari. Pada awalnya, saya rasa saya harus berani untuk keluar dari zona nyaman agar bisa belajar banyak hal baru. Namun, saya rasa kata yang tepat untuk mendeskripsikannya adalah memperluas zona nyaman. Banyak sekali hal yang saya pikirkan sebelum mengikuti kegiatan ini. Lambat laun, saya justru merasa nyaman dan sudah memperluas koneksi dengan teman-teman di seluruh Indonesia serta Malaysia secara tidak sadar.
Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya
“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”