Jurnalistik saat ini adalah industri. Daya serap tenaga kerjanya pun makin besar. Badan usaha penerbitan media berkembang pesat. Mulai dari media cetak (koran, tabloid, majalah), media elektornik (TV & Radio), dan media online makin tak terbendung. Penyajian berita makin kaya dan bervariasi. Gaya hidup makin meningkat akibat trend yang dibentuk media massa. Mengapa kita tidak mendalami jurnalistik?

Jurnalistik adalah keterampilan dan profesi. Jurnalistik sebagai keterampilan tidak hanya mengharuskan pengetahuan yang cukup untuk memahaminya, tetapi juga harus dilatih dan digeluti layaknya para wartawan bekerja. Sikap untuk selalu mempertanyakan, piawai dalam wawancara, taktis dalam melakukan liputan, dan mampu menulis berita menjadi bukti jurnalistik sebagai keterampilan.

Sungguh jurnalistik butuh keterampilan. Belajar jurnalistik tak hanya kompleks, tapi butuh latihan agar menjadi terampil. Terampil dalam jurnalistik pun tidak harus menjadikan seseorang berkecimpung dan terjun ke dunia jurnalistik. Terampil wawancara dapat menjadikan kita sebagai pembicara yang ulung. Terampil menulis dapat menjadikan kita sebagai penulis yang produktif dan mendapatkan income. Itulah makna jurnalistik sebagai keterampilan.

Di sisi lain, jurnalistik juga menjadi profesi. Industri jurnalistik menjanjikan lapangan kerja dan pilihan profesi. Wartawan merupakan profesi, desainer juga profesi, dan bahkan agen media cetak maupun iklan pun suatu pilihan profesi. Kini, profesi wartawan dikenal masyarakat sebagai profesi yang ”berkelas” karena mampu menimbulkan ”keseganan” di mata masyarakat.

Setidaknya puluhan ribu orang saat ini secara langsung menekuni profesi di bidang jurnalistik. Apalagi yang tidak langsung, seperti mereka yang bekerja di periklanan, penerbitan, inhouse megazines. Bekerja di industri jurnalistik mulai dapat diandalkan untuk hisup. Tidak sedikit wartawan profesional yang mampu mencapai karier dan penghasilan "di atas rata-rata".

Advertisement

Bahkan maraknya media massa telah menimbulkan ”angin” bajak-membajak wartawan di antara media yang satu dengan yang lainnya. Lihat saja perpindahan wartawan senior A dari satu media cetak ke media cetak lain atau wartawan TV A pindah ke TV B. Kondisi ini mempertegas bahwa jurnalistik adalah suatu pilihan profesi bagi siapapun yang berminat.

Apapun pilihannya, ingin terampil di jurnalistik maupun memiliki profesi bidang jurnalistik sama baiknya. Karena keterampilan atau profesi di bidang jurnalistik bersifat produktif. Produktif dalam berpikir, produktif dalam menulis, bahkan produktif dalam meraih penghasilan. Namun patut diketahui, jurnalistik sebagai keterampilan maupun profesi bukanlah aktivitas yang bersifat instan atau langsung jadi.

Tugas jurnalistik sangat berat dan menantang. Untuk dapat terampil dan menekuni profesi jurnalistik membutuhkan proses belajar dan latihan yang memadai. Keterampilan dan profesi jurnalistik diperoleh dari proses yang berkelanjutan, yang dibekali pengetahuan cukup dan praktik yang mahir.

Lalu, bagaimana kita mengambil posisi di tengah perkembangan jurnalistik yang ada sekarang ? Setidaknya ada tiga argumen yang patut dikemukakan untuk mengambil posisi di industri jurnalistik era milenium global saat ini, yaitu:

1. Jurnalistik harus dipandang sebagai suatu keterampilan yang perlu dikuasai sebagai alternatif profesi atau pilihan kerja. Jika tidak pun, keterampilan jurnalistik tetap bersifat produktif sehingga dapat dimanfaatkan dalam bidang kerja lainnya sebagai nilai tambah.

2. Jurnalistik telah berkembang pesat dan menjadi industri atau bisnis-komersial. Kita perlu ikut ambil bagian dalam mengembangkan dan meningkatkan kualitas jurnalistik yang ada dan terus berlangsung. Euforia dan kebebasan jurnalistik yang sudah ada sekarang perlu dikawal secara lebih bertanggung jawab.

3. Jurnalistik hadir tidak untuk menyesatkan, melainkan untuk memberdayakan masyarakat dan karenanya setiap kita perlu menjadi subjek yang terlibat aktif dalam mengamati perkembangan industri jurnalistik, termasuk menjadi pengguna produk jurnalistik yang cerdas dalam mencerna informasi.

Peran penting jurnalistik tidak terbantahkan. Jika kita tengok ke belakang, banyak peristiwa revolusi dan reformasi suatu bangsa di belahan dunia yang diawali dari pena wartawan, dari karya jurnalistik. Kemajuan peradaban manusia dan bangsa seringkali bertumpu pada peran dan fungsi jurnalistik yang berlangsung di mata masyarakat.

Jurnalistik merupakan karya besar yang dapat mengubah nasib suatu bangsa. Bahkan jurnalistik dapat mengubah ”orang biasa” menjadi ”orang tenar”, dan sebaliknya ”orang tenar” bisa menjadi ”orang biasa” akibat karya jurnalistik.

Napoleon Bonaparte, seorang Revolusioner Perancis bilang "Saya lebih cemas dimusuhi empat buah koran (wartawan) daripada seribu bayonet." Atau Thomas Jefferson, Pencipta Declaration of Independent Amerika Serikat menyatakan "Saya lebih suka di satu daerah yang mempunyai surat kabar dan tanpa pemerintah, daripada berada di daerah yang punya pemerintah tetapi tanpa surat kabar." Sungguh, betapa pentingnya jurnalistik?

Di masa datang, banyak potensi dan peluang yang terbuka dalam industri jurnalistik, di samping tantangan dan ancaman yang besar pula. Untuk itu, aktivitas jurnalistik harus didukung oleh pengetahuan teoretik yang tepat, di samping kemampuan praktikal di lapangan yang mumpuni. Teori dan praktik jurnalistik memerlukan kesetaraan sehingga pembelajaran jurnalistik tidak jauh panggang dari api.

Itulah yang dinamakan jurnalistik terapan. Karena itu, orientasi pembelajaran jurnalistik harus lebih diarahkan pada upaya untuk menyelaraskan konsep teoretik dengan praktik yang ada di lapangan. Teori jurnalistik harus sesuai dengan fakta dan perilaku jurnalis di lapangan. Sebaliknya, praktik jurnalistik yang terjadi di lapangan harus relevan dengan teori yang ada agar tidak melanggar kode etik jurnalistik.

Pekerjaan jurnalistik yang penuh tantangan dan bahkan mengandung risiko tidak dapat dilakukan tanpa dasar keilmuan. Sekalipun praktik di lapangan dapat menjadikan kita lebih ”antisipatif” dalam menjalankan tugas-tugas jurnalistik, namun dukungan aspek teori tetap diperlukan. Dikotomi antara teori dan praktik jurnalistik tidak menjadi penting untuk diperdebatkan.

Namun yang lebih penting adalah mencari ”titik temu” antara teori-teori yang terus berkembang dengan praktik jurnalistik yang semakin kompleks di era milenium global sekarang ini. Kecepatan dinamika masyarakat yang menuntut kecepatan praktik jurnalistik harus tetap dapat diselaraskan dengan aspek teori-teori yang membekali praktik jurnalistik.

Harmoni antara teori dan praktik jurnalistik inilah yang disebut sebagai Jurnalistik Terapan. Bukan jurnalisme, bukan juga jurnalistik biasa….. tapi Jurnalistik Terapan, pertemuan teori dan praktik jurnalistik yang sinergis sehingga mampu menjadikan dunia jurnalistik makin berkualitas.

Saatnya belajar dan berproses melalui Jurnalistik Terapan untuk meraih keterampilan dan profesi yang kita inginkan … !! Dapatkan tips untuk memahami jurnalistik melalui buku "Jurnanlistik Terapan" karya Syarifudin Yunus, terbitan Ghalia Indonesia. #SalamJurnalistikTerapan