Catcalling: Pelecehan Mengakibatkan Trauma

Ketakutan yang Mengakibatkan Kecemasan Sosial, Marasa Minder hingga Hilangnya Kepercayaan Diri,Gangguan Kesehatan Mental

"Hai cantik! sini dong temenin Abang"

Ternya belum banyak orang menyadari bahwa candaan yang dilontarkan dapat menimbulkan pelecehan atau sering disebut catcalling. Kata-kata candaan yang bermakna menggoda membuat korban merasa risi, kesal, dan sakit hati karena kata-kata yang dilontarkan menjatuhkan bahkan mempermalukan korban. Biasanya catcalling ditemukan di terminal, halte, pasar, stasiun, bahkan di media sosial. Catcalling dapat berupa perilaku verbal maupun non verbal. Contoh perilaku verbal berupa siulan, komentar mengenai bentuk tubuh, menjilat bibir bawah yang memperlihatkan nafsu. Adapun contoh perilaku non verbal berupa kontak fisik terhadap bagian tubuh yang sensitif. Korban catcalling sering ditemukan pada perempuan ketika sedang berjalan sendirian, tetapi tidak menutup kemungkinan dapat ditemukan pada laki-laki.

Catcalling tidak bisa dianggap hal yang wajar dan dijadikan bahan bercandaan karena merasa derajat laki-laki lebih tinggi dibandingkan perempuan. Padahal zaman sekarang tidak ada perbedaan derajat antara laki-laki dan perempuan, sehingga laki-laki tidak boleh melakukan hal semena-mena terhadap perempuan. Jika catcalling dibiarkan dan dianggap wajar maka jumlah korban akan terus bertambah dan akan menimbulkan dampak buruk bagi korban. Oleh karena itu, kita harus mengetahui dampak buruk apa sajakah yang dapat memengaruhi korban?

Ketakutan yang Mengakibatkan Kecemasan Sosial

Menurut Brecht (2000) Kecemasan sosial menimbulkan rasa takut akan ke khawatiran mendapatkan penilaian buruk dari orang lain dan merasa nyaman apabila sedang sendiri. Dapat diketahui dari pernyataan tersebut, korban catcalling akan merasa takut ketika hendak bepergian, dia akan merasa terancam jika berada di luar rumah dan merasa ruang geraknya akan terbatas, serta takut jika orang lain akan berpikir buruk tentang dirinya. Namun Ketika sedang sendiri dia merasa dapat melakukan apa pun yang diinginkannya tanpa takut orang lain tidak suka akan tindakannya, dia tidak akan cemas akan penilaian yang orang lain berikan untuk dirinya.

Marasa Minder hingga Hilangnya Kepercayaan Diri

Menrut Lauster (1997) Sumber timbulnya rasa rendah diri pada dasarnya disebabkan Ketika seseorang memiliki rasa tidak nyaman, kurang kasih sayang dan kurang perhatian. Dari pernyataan tersebut dapat diketahui bahwa muncul rasa tidak nyaman berada di ruang publik akan merasa tidak percaya diri sehingga tidak dapat menampilkan kemampuan dalam diri. Rasa tidak percaya diri dapat membuat kita membandingkan diri kita dengan kemampuan orang lain, akibatnya kita sering merasa ragu dalam mengambil keputusan dan merasa minder Ketika berinteraksi dengan orang lain. Ketika kita sulit berinteraksi karena minder dengan orang lain, maka interaksi kita dengan orang lain akan terbatas, sehingga untuk kita sulit berinteraksi karena minder dengan orang lain, maka interaksi kita dengan orang lain akan terbatas, sehingga untuk kita tampil di depan banyak orang akan merasa tidak percaya diri. Rasa tidak percaya diri tersebut dapat menurunkan kualitas yang kita miliki, akibatnya bakat-bakat yang kita miliki akan terpendam.

Gangguan Kesehatan Mental

Menurut Burlian (2016) gangguan kesehatan mental adalah perilaku dan keadaan emosi yang menyebabkan seseorang menderita, atau perilaku merusak diri sendiri. Dari pernyataan tersebut keadaan emosi yang tidak stabil akan menimbulkan kemarahan pada diri sendiri, keadaan dan orang di sekitar. Emosi yang stabil membuat diri cepat merasa lelah karena candaan yang dilontarkan dan membuat kita mudah tersinggung akibat perkataan orang lain.

Catcalling bukan hanya sekadar candaan wajar yang bisa kita maklumi. Namun, harus kita hilangkan karena banyak dampak buruk yang ditimbulkan. Jangan sampai hal ini ditemukan pada keluarga kita ataupun orang yang kita kenal. Jika kita sebagai korban harus menolak bahwa kita tidak suka mendapat perlakuan tersebut.

——————————————————————————————————————————————–

Sumber

Brecht, G. 2000. Mengenal dan Menanggulangi Stres. Jakarta: Prenhallindo

Burlian, Paisol. 2016. Patologi Sosial. Jakarta: Bumi Aksara

Lauster, P. 1997. Test Kepribadian ( terjemahan Cecilia, G. Sumekto ). Yokyakarta: Kanisius

 

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Mahasiswa Psikologi UIN Jakarta