Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca Hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Hari pertama puasa di tahun 2012 merupakan salah satu momen yang tidak akan terlupakan dalam hidupku. Berbalut sarung untuk menutupi tubuh dari hawa dingin Subuh, aku memisahkan diri dari teman-temanku yang hendak kembali ke asrama setelah selesai sholat. Seorang temanku bertanya apa yang akan kulakukan, aku hanya menjawab sekenenanya saja sambil berlalu.

Aku sengaja tidak menjawab dengan detil apa yang akan kulakukan karena aku tau betul bagaimana perangai teman-temanku jika aku memberitahu mereka bahwa aku ingin mengungkapkan perasaanku kepada seseorang. Sudah pasti teman-temanku akan ramai mengejekku dan membuat nyaliku makin ciut dibuatnya. Tak pernah ku merasakan jantungku yang berdegup begitu cepatnya hingga terasa di kepalaku.

“Nanti bisa ketemu nggak di depan security cewek abis sholat subuh? Ada yang ingin aku obrolin sebentar.” Begitulah isi pesan yang telah kukirimkan padanya saat sahur yang berharap ia tak membalasku dengan sebuah pertanyaan, “Ada apa?”. Namun rupanya aku salah, ia justru membalasku dengan pertanyaan itu. Aku hanya bisa menjawab, “Aku ingin ngomong sesuatu, penting.” Tak ada balasan lagi darinya yang malah membuatku hilang konsentrasi saat Sholat Shubuh berjamaah di Masjid Asrama karena lebih terfokus dengan kejadian yang akan aku hadapi nanti. Maafkan Aku Ya Allah….

Sampai lebih dulu justru membuatku seperti seorang suami yang sedang menunggu istrinya melahirkan, was-was tidak bisa diam karena khawatir dengan apa yang bakal dihadapi. Namun kejadian itu hanya sebentar karena tak lama dia datang menghampiriku. Seketika aku seperti terkena serangan kejut sehingga membuat tubuhku berhenti bergerak. Segala rasa tiba-tiba bercampur jadi satu. Mungkin tagline permen Nona-Nona itu ada benarnya, manis-asam-asin, ramai rasanya! Begitu ramainya perasaan disetiap langkahnya mendekatiku.

Advertisement

Aku ingat betul bagaimana rupa ketika ia datang mendekat. Piyama putih dengan corak boneka beruang dipadupadankan dengan sebuah pashmina putih yang menutup kepala dan dililitkan di lehernya. Tak lupa juga dengan sandal jepit favoritnya yang berwarna merah muda, sehingga membuatnya tampak manis sekali pagi itu. Mungkin aku butuh defibrilator agar jantungku bisa mengalirkan darah yang membuat tubuhku bergerak.

Sempat ada jeda beberapa saat yang membuat pagi itu malah semakin sunyi. Kukumpulkan keberanian (serta kejantananku) untuk memulai pembicaraan dan memecah aliran udara yang canggung di antara kami berdua. Bertanya mengenai makanan untuk sahur jelas bukan pilihan topik yang pintar karena memang sudah kutanyakan tentang hal ini di handphone. Hawa kesunyian pun sekali lagi berdiri di antara kami berdua. Hingga akhirnya ia menembakku dengan sebuah pertanyaan.

“Sebenernya kamu mau ngomongin apa sih?! Cepet aja!” Aku tak butuh defibrilator, yang kubutuhkan hanya pertanyaan sedikit memaksa darinya agar bisa segera menjawab pertanyaan. Aku segera menjelaskan duduk perkaranya. Tanpa banyak bernarasi aku langsung menanyakannya satu hal.

Advertisement

“Aku suka sama kamu, kamu mau nggak jadi pacar aku?” Duaaarrr!! Rasanya bom atom baru saja dijatuhkan di dadaku! Seperti ada perasaan yang meledak dengan hebohnya hingga membuat jantungku ingin ku ninabobokan untuk beberapa saat, karena ia pasti sangat lelah bekerja begitu kerasnya untuk memacu 100 kali lipat lebih cepat dari biasanya. Hmm… Oke, berlebihan. Mungkin dua kali lipat dari biasanya.

Mendengar pertanyaanku, tak sedikitpun kutemukan adanya ekspresi kaget ataupun terharu. Ia justru tidak memberikan ekspresi apapun setelah mendengarku menanyakan hal tersebut. Malahan ia berbalik bertanya kepadaku kenapa aku bisa suka dengannya. Dengan cerdas-cermat-tepat layaknya peserta kuis kepintaran, aku mengungkapkan hal-hal yang telah membuatku jatuh hati padanya.

Layaknya seorang kepala HRD, ia hanya mengangguk-anggukkan kepala seraya mencoba menganalisa setiap jawaban yang keluar dari mulut calon karyawan baru. Setelah mendengar penjelasannku ia pun lantas berbicara untuk meminta waktu memikirkan jawaban dari pertanyaan yang telah kuajukan. Sejujurnya aku sedikit kesal saat itu, karena bisa-bisanya ia menyiksaku lebih lama lagi dengan rasa yang selama ini kurasakan. Namun satu hal yang pasti bahwa rasa bukanlah suatu hal yang bisa dipaksakan.

Seharian itu aku dibuat begitu penasaran dengan jawaban yang akan kudapatkan. Hingga pada sore harinya ia mengajakku untuk berbuka puasa bersama, berdua saja. Saat itulah ia memberikanku jawaban, ia mengiyakan untuk menerimaku menjadi pacarnya. Gembira bercampur tak percaya! Rasanya kupu-kupu di dalam perutku bisa benar-benar terbang berhamburan di udara. Malam itu menjadi salah satu malam yang akan selalu kuingat.

Empat bulan berselang merupakan waktu yang cukup menantang bagiku. Suatu hubungan romantis yang kami jalani nyatanya tidak begitu mulus. Banyak batu yang harus kami lewati, bukan lagi batu kerikil namun, batu kali yang besar-besar pun rasanya ada. Banyak tantangan yang harus kami cari jalan keluarnya bersama. Seperti sebuah permainan puzzle, akan ada hadiah berupa batu permata tiap kali selesai menyelesaikan level tertentu. Hanya saja dalam kasus kami hadiah tersebut berubah menjadi rasa sayang yang semakin berlipat satu sama lain.

Suatu waktu kami terjebak di level yang sama untuk terlalu lama. Hingga pada akhirnya kami terlalu lelah untuk mencari solusi permasalahan ini. Menurutku hal ini merupakan hal yang tidak seharusnya menjadi masalah. Namun, ia tidak sependapat denganku kali ini. Sehingga kami harus introspeksi diri untuk satu dua hari.

Berawal ketika ia menanyakanku apakah aku cemburu tiap kali dirinya mengobrol dengan salah satu teman baikku, Salim. Aku menjawab tidak, tidak pernah barang sedikitpun terbersit rasa cemburu tiap kali ia berbicara dengan teman baikku. Aku kenal betul siapa Salim karena memang kami berada dalam organisasi yang sama. Sosoknya yang tinggi dan putih dan berdarah campuran arab memang membuat wanita mudah suka kepadanya. Ditambah dengan tuturnya yang santun serta betapa religiusnya ia dengan mudah disukai siapa saja.

Aku berpikir keras dengan sikapnya yang memaksaku untuk mempunyai rasa cemburu tiap kali ia mengobrol dengan pria manapun. Tapi aku gagal, aku tak bisa menemukan alasan yang tepat untuk mencemburui sesuatu yang bahkan aku sendiri berpikir bahwa itu bukanlah sesuatu yang patut untuk dicemburui. Wanita memang sangat membingungkan dengan segala sikapnya. Hingga akhirnya aku mengetahui bahwa menurut wanita rasa cemburu yang didapati dari kekasihnya membuat mereka merasa dibutuhkan.

Aku hanya mengetahui, namun tidak benar-benar kujalani. Agak susah bagiku untuk melakukan sesuatu yang aku sendiri tak punya dasar yang kuat untuk melakukannya. Seperti kau harus membenci warna kuning padahal kau tidak mempermasalahkan warna apa yang kau pakai di bajumu. Aku tidak bisa benar-benar mengikuti sarannya untuk selalu menimbulkan rasa cemburu.

Hingga akhirnya aku berani mengambil suatu keputusan setelah sebulan terakhir rasanya hanya ada kepura-puraan. Aku dengan tegas mengakhiri hubungan romantis yang telah kujalani kurang lebih 6 bulan dengannya. Aku tidak bisa terus-terusan untuk mencemburui sesuatu yang bahkan hal itu tidak pantas untuk dikatakan suatu kecemburuan. Aku menyerah. Permainan puzzleku sudah berakhir, game over.

Ia telah mengajarkanku banyak hal, bahwa dalam suatu hubungan ada perasaan orang tersayang yang harus selalu kau jaga. Kita tidak bisa bermain-main dengan perasaan. Meskipun singkat, tetapi ia telah mengajariku banyak hal. Mengenai bagaimana memperlakukan pasangan sebagaimana kita ingin diperlakukan. Bagaimana untuk berdiskusi untuk menyelesaikan masalah bersama.

Butuh waktu hingga 2 tahun bagikuku untuk dapat benar-benar berani merasakan cinta untuk yang kedua kalinya. Dalam perjalanan 2 tahun itu kutemukan apa yang menjadi alasan mengapa diriku menolak untuk bersikap menjadi seorang pencemburu. Kutemukan alasan itu dalam sebuah artikel singkat mengenai cara menjalin suatu hubungan yang sehat. Dalam artikel itu disebutkan bahwa rasa cemburu merupakan ciri bahwa kita insecure terhadap pasangan kita dan itu bukanlah hal yang baik dalam suatu hubungan.

Aku baru mengerti betul arti kata insecure dan langsung teringat dengat 6 bulanku menjalin hubungan. Insecure bisa diartikan sebagai kurang percaya diri, ketakutan yang berlebihan, keragu-raguan, dan ketidakyakinan. Setelah kupikir ia secara langsung mengajariku untuk menjadikan insecure sebagai dasar dari hubunganku dengannya. Beruntungnya aku karena menyadari lebih dulu mengenai insecure tanpa mengerti apa itu insecure.

Mungkin sebagian orang bilang bahwa cemburu itu tanda cinta. Namun, aku belajar hal lain darinya mengenai rasa cemburu. Apa ada yang ingat judul berita, “Karena Cemburu Seorang Suami Rela Membunuh Istrinya”, “Cemburu Buta, Seorang Istri Tega Memotong Kemaluan Suaminya”, atau “Seorang Pemuda Membakar Kekasihnya Karena Cemburu Pesan dari Sang Mantan”.

Jika memang cemburu merupakan tanda cinta, mengapa aku tidak melihat adanya rasa cinta dan kasih sayang dari rasa cemburu itu. Nyatanya malah cemburu hanya membuat hubungan tidak harmonis. Rasa cemburu yang berlebihan hanya akan mengantarkan kita ke posisi di mana kita tidak bisa percaya sepenuhnya kepada pasangan. Rasa cemburu hanya membuat diri kita lebih kerdil dari pasangan. Di mana seharusnya dalam suatu hubungan posisi kita sejajar.

Aku belajar banyak selama 2 tahun selepas keputusanku untuk menyudahi hubungan dengannya. Terlebih lagi bagaimana untuk mengolah rasa cemburu menjadi hal yang lebih positif. Selalu yakinkan diri sendiri bahwa kita harus selalu menang terhadap rasa cemburu. Jangan biarkan rasa cemburu menguasai kita yang akhirnya hanya akan menimbulkan sikap insecure yang berlebihan.

Kecemburuan adalah hal manusiawi, tetapi dapat berubah menjadi penyakit dalam suatu hubungan. Sudah sepatutnya kita takluk terhadap rasa cemburu, sebaliknya kitalah yang mengontrol kapan seharusnya cemburu itu boleh datang. Umumnya seseorang menjadi pencemburu karena ia pernah memiliki masalah kepercayaan sehingga dia sulit untuk mempercayai orang lain.

Kini sudah hampir 2 tahun aku menjalani hubungan romantis yang baru. Tiap kali rasa cemburu itu datang, aku segera membicarakannya dengan pasanganku. Kami selalu membicarakan hal yang membuat cemburu dan mengungkapkan perasaan masing-masing. Lebih terbuka dan jujur terhadap pasangan terbukti membuat hubungan semakin romantis ketimbang harus bergulat rasa cemburu yang berlebihan.

Kini aku bisa mengatur mana hal yang boleh dan mana yang tidak terkait perasaan cemburu. Awalnya memang tidak mudah. Namun, percayalah! Hubungan yang dipenuhi rasa cemburu hanya akan membuat kita cepat jenuh dan mudah stres sehingga ingin rasanya segera mengakhiri hubungan yang tidak sehat itu.

Cemburu mungkin memang dibutuhkan, tetapi meminta pasanganmu untuk cemburu jelas bukan suatu solusi, sayang.