"Aku masih sama, seperti yang kau kenal dulu. Aku, masih mencintaimu dan cinta ini tidak berubah sedikitpun. " bisik seorang wanita padaku

Cinta itu seperti akar pohon besar, semakin kau kubur dalam dalam, maka akan semakin kuat untuk menopang terpaan badai. Mendengar ucapan tersebut, aku slow aja. Karena aku sudah terbiasa dengan ucapan begituan dari banyak wanita lainnya. Hal ini terjadi bukan karena aku tampan atau hidupku mapan. Tapi karena aku selalu jadi orang menyenangkan, hingga mereka dengan tanpa sengaja jatuh hati dan ingin menjadi pasanganku hingga mati.

Advertisement

Beberapa hari kemudian aku mendengarkan bisikan yang sama, dan aku selalu meresponnya dengan slow dan senyuman aja.

Ah, biarlah. Nanti akhirnya ia akan lelah juga, pikirku.

Namun, logika berpikirku ternyata salah. Semakin lama, wanita itu semakin sering mengucapkan ungkapan cinta yang dia rasakan setiap kali ia bertemu denganku. Cinta yang menurutnya masih sama seperti dulu, seperti saat kita bersama, menjadi dua insan yang terikat oleh rasa yang sama.

Advertisement

Meskipun akhirnya dia menghilang tanpa alasan dan aku mengubur dalam dalam cintaku padanya. Tapi, ia tiba-tiba datang kembali dalam hidupku tanpa memberikan penjelasan mengapa ia pergi begitu aja. Ia seperti wanita yang tak punya hati, tanpa rasa bersalah pergi dan datang begitu saja di kehidupanku, pria yang begitu mencintainya.

Semakin hari, ia semakin menggila. Bukan hanya saat bertemu ia mengungkapkan perasaannya, bahkan ia juga selalu berusaha selalu berada di dekatku dengan bisikan cinta yang selalu terucap dari bibir manisnya.

Ya, bisa kamu bayangkan kan. Jika kamu berada dalam situasi seperti ini. Rasa kesal, jengkel, marah akan menjadi satu. Namun, karena ia adalah wanita yang pernah aku cintai. Aku hanya bisa membisu tanpa kata.

Kegilaannya semakin hari semakin menjadi, tak perduli aku berada dimana, dengan siapapun dan dalam suasana apapun. Ia tak pernah lepas lagi dari kehidupanku, selalu berada disampingku dengan kata-kata yang sama meskipun aku abai akan perasaannya karena masa lalu yang tak pernah aku lupa akan perlakuan dirinya padaku.

Aaah, ngggak bisa aku biarkan hal ini terus terjadi. Ia akan mengacaukan kehidupanku dengan kegilaan yang ia lakukan. Aku harus menghentikannya, bisikku pada diri sendiri.

Lalu, aku terduduk, menangis berteriak keras pada Tuhan saat pekat malam semakin menerangkan cahaya bintang.

Tuhan, kenapa kau hadirkan wanita yang begitu aku cintai dalam kehidupanku kini? Kenapa Engkau buat dia datang kembali padaku, berada di dekatku dan mengatakan cintanya masih sama seperti dulu padaku. Sedangkan aku berusaha mengubur cintaku yang begitu dalam untuknya. kenapa Engkau lakukan itu padaku Tuhan? Kenapa ? Kenapa? Padahal ia telah pergi selamanya dalam hidupku, sejak kecelakaan yang telah merenggut hidupnya di dunia ini. Kenapa ?

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya