Pernahkah kau melihat pelangi ketika pintu senja hampir tertutup? Ketika itu sayap-sayap malam mengembang dengan sempurna merangkul sisa-sisa cahaya mentari perak. Tepat di perbatasan kaki langit goresan warna-warni serupa tinta nirwana melengkung membentuk separuh lingkaran. Apa yang kau rasakan? Sebuah keindahan terhampar luas di antara bias-bias hujan dan tenggelamnya sinar surya. Ya, akan ada pelangi selepas hujan, akan ada tawa setelah tangisan, dan akan ada kebahagiaan setelah badai masalah datang. Semua akan datang dan pergi silih berganti. Semua akan berlaku sebagaimana yang telah ditetapkan. Namun, bagaimana memaknai tahapan demi tahapannya semua bergantung padamu.

“Hari pernikahanku telah ditetapkan, sebulan lagi janji suci itu akan kami buhulkan.” Aku menarik nafasku dalam-dalam.

Advertisement

“Kamu mencintainya, bukan?”

Rima mulai ragu dengan keputusanku menerima pinangan dari lelaki pilihan orangtuaku. Sorot matanya terlihat begitu lekat menatapku.

“Untuk saat ini aku memang masih samar soal cinta, tapi aku percaya cinta itu akan hadir dengan sendirinya di antara kami. Aku hanya bisa katakan bahwa aku merasa nyaman ketika berbicara dengannya.”

Advertisement

“Anwar tahu hubunganmu dengan Robi?”

“Ya, dia tahu. Dia memberiku ruang yang cukup luas untuk membuat sebuah keputusan. Tapi aku hanya seorang wanita yang butuh kepastian, Ma. Apa artinya cinta yang Robi ucapkan, janji yang selalu dia koar-koarkan, rindu yang senantiasa dikobarkannya, atau hadiah-hadiah manis itu. Ah, apa gunanya semua ini jika tanpa pembuktian. Aku bukan anak kemarin sore. Aku wanita dewasa yang butuh keseriusan bukan seikat kembang dan segudang kata cinta. Ma, kamu sendiri yang bilang waktu itu bahwa cinta tanpa pernikahan itu hanya bualan semata. Kamu tahu betapa kata-katamu itu tepat menikam hatiku”. Air mataku merembes meluapkan isi hatiku.

“Nisa, menangislah kalau itu membuatmu lega. Tapi jangan menangis karena kamu menyesali keputusan yang sudah kamu buat".

Angin yang berhembus sore itu menarik langkahku perlahan menuju sebuah hari dimana aku meninggalkan Batam dan menjadi hari yang sama pula saat aku mengucapkan perpisahan pada Robi. Tiga tahun menjalin hubungan yang cukup serius, dalam tiga tahun itu pula Robi berkali-kali menjanjikan pernikahan padaku.

Tahun pertama janjinya untuk bertemu orangtuaku di cancel karena orangtuanya sakit. Tahun kedua ia memohon agar diizinkan untuk ke Bali, demi karir yang lebih baik, demi tabungan masa depan, dan juga demi janji manis cinta sejati. Aku pun luluh begitu saja setiap kali mendengar janji-janji itu. Hingga tahun ketiga aku yang masih berharap penuh dengan hubungan ini tidak mampu lagi menahan tekanan batinku.

Dengan pertanyaan yang sama kembali, aku tegaskan muara dari semua janji dan status yang meragu ini. Karena semenjak kepindahannya ke Bali, Robi terasa semakin menjauh dariku. Ini bukan hanya soal jarak tapi juga soal hati. Hati tidak pernah bisa dibohongi.

“Kamu lagi sibuk, ya? Aku telfon berkali-kali tapi tidak pernah ada panggilan yang dijawab”. Aku berusaha tenang saat menelfonnya, menyembunyikan kekecewaan dan rasa sedihku.

“Kamu kan tahu aku ngga bisa sering-sering jawab telfon kalau lagi kerja!” Nada suara Robi sedikit kesal.

“Jadi kapan kamu punya waktu luang? Aku hanya minta sedikit waktumu untuk diluangkan, itu pun kalau kamu masih menganggap aku ada.”

“Maksud kamu apa?”

“Sebenarnya hubungan macam apa yang sedang kamu tawarkan padaku saat ini? Kita udah ga telfonan selama dua minggu, tidak saling berkabar, dan aku mencoba untuk fine-fine saja di sini. Kamu ngerti ngga sih?”

“Pasti kamu mau tanya soal married lagi, kan? Aduh…sudahlah terserah kamu aja. Aku sudah berkali-kali bilang bahwa aku lagi nabung buat modal kita di masa depan. Tapi kayaknya kamu udah ngebet banget ya!” Suara kemarahan Robi berbarengan dengan suara musik yang semakin meninggi dari sana.

“Maaf, sudah mengganggu waktu sibukmu!” Aku mematikan telfonku sebelum Robi memberikan jawaban.

Keraguan semakin menggunung dan mengeras di kepalaku. Aku semakin yakin Robi tidak pernah benar-benar bisa serius dengan hubungan ini. Pernikahan bukan melulu soal materi, aku dan dia sama-sama bekerja. Semua bisa diusahakan setelah menikah, tapi Robi hanya berpikir menikah adalah sebuah penambahan beban hidup.

Mungkin benar kata Rima dua tahun yang lalu. Kalau Robi benar-benar mencintaimu dia akan berusaha memepertahankanmu, tapi apa kamu pernah mengkondisikannya seperti itu? Dia teralu menganggap hubungan kalian enteng, dan kamu dengan cinta butamu itu masih akan terus memberi maaf padanya meskipun dia mengecewakanmu lagi dan lagi.

Air mataku merembes, sejak pertengkaranku dengan Robi malam itu aku pun tidak pernah lagi menghubunginya. Dua minggu kemudian aku pulang ke Medan, adikku Anita akan menikah. Setelah setahun yang lalu ditunda karena menungguku. Pernikahan yang begitu sakral dan mengharu biru. Anita menangis sesenggukan memelukku.

Aku sendiri tidak kuasa melihat kebahagiaan yang menari-nari di depanku, sementara aku dengan perasaan getir mencoba untuk tegar. Di satu sisi aku menangis, tapi di sisi lain kebahagian si bungsu adalah kebahagianku juga. Melihat kedua orangtuaku yang semakin menua, semakin hari semakin gelisah melihat anak gadisnya ini belum juga menemukan jodoh.

Setiap kali keluarga bertanya kapan aku akan menikah, jawabku selalu sama, belum datang jodohnya. Ah, entah jodoh atau aku yang bodoh. Aku terlihat begitu dungu mempertahankan hubungan ini. Tapi hatiku tidak semudah itu berpaling dengan cinta yang baru. Aku takut salah mengartikan apakah itu akan menjadi cinta atau hanya sebuah pengalihan.

Ketika Anita bersanding di pelaminan, aku adalah yang paling sibuk mengurusi acara tersebut. Mengingat orangtuaku yang tidak boleh kelelahan dan hanya aku yang masih single tentu saja mempunyai ruang gerak yang lebih fleksibel. Demi kebahagiaan ini aku rela, melihat mereka bahagia aku pun turut bahagia. Aku tidak peduli penat yang melandaku, bahkan lelah yang menderaku membuatku mulai tidak stabil.

Aku tanpa sengaja menumpahkan segelas minuman buah gara-gara terpeleset kulit pisang. Naas gelas itu menumpahkan muatannya tepat di punggung seorang pria. Mujur, dia tidak marah dan menganggap itu sebuah kecelakaan karena aku juga terjatuh akibat kulit pisang sialan itu.

Event penting ini sudah usai, pada akhirnya lima bersaudara telah menemukan belahan jiwanya, kecuali aku. Kesepian mulai melanda, terlebih ketika melihat saudaraku masing-masing sudah memiliki kehidupan mereka sendiri-sendiri bersama keluarga kecil bahagia mereka. Keinginan untuk segera memiliki pasangan hidup tak henti-henti mengusik jiwaku. Tiada yang dapat aku lakukan selain hanya berdoa.

Aku kembali ke Batam setelah cuti selama sepuluh hari dan sibuk dengan pesta Anita. Kabar Robi masih antah barantah. Aku semakin membiasakan diri. Namun malam minggu setelah aku kembali ke Batam, Robi menelfonku. Entah angin apa yang membawa kesadarannya kali ini, tapi seperti tidak ada masalah sebelumnya. Dia berbicara dengan nada normal, tanpa menyinggung peristiwa terakhir yang melukai hatiku. Aku kembali melontarkan pertanyaan yang sama.

“Anita seminggu yang lalu sudah resmi menjadi istri orang. Hanya aku yang masih tersisa di keluargaku. Apa kamu memang memintaku untuk menjadi perawan tua menungguimu?”

Ah, aku lelah Nisa, kenapa setiap kali menelfon topiknya selalu ini-ini saja. Kalau kamu sudah tidak bisa menungguku lagi ya sudah menikah saja dengan yang lain!”

Bagai disambar petir mendengar jawaban Robi yang terkesan seenaknya. Dia sama sekali tidak menghargai perasaanku.

“Baiklah, jika itu yang kamu mau. Aku akan menikah dengan orang lain. Tapi kamu harus ingat, sekuat tenaga aku bertahan demi cinta kita, sekali engkau memintaku melepaskan makan jangan pernah menyesal di kemudian hari. Cukuplah itu semua menjadi jawaban pamungkasmu. Aku cukup tahu diri setelah ini.”

Hanya dengan kalimat simpel itu, Robi sudah memutuskan. Barangkali selama ini aku memang tidak dianggap siapa-siapa. Keputusan ini sudah final, pintu untuk Robi sudah aku tutup rapat. Dengan kepingan hati yang berserakan aku mundur teratur, saatnya berdamai dengan hati dan mengikhlaskan apa yang memang semestinya harus pergi.

Setelah menenggak pahitnya akhir hubungan asmaraku. Aku menjauh dari hingar bingar kota, menyendiri dan refleksi hati. Menyodorkan sepotong hati yang luka ini kepada zat yang Maha Ghaib. Aku pasrah sepasrah-pasrahnya, hanya menunggu uluran keajaiban yang Tuhan akan dekatkan padaku untuk menyembuhkan lara ini.

Tuhan tidak pernah tidur, Tuhan tak pernah ingkar janji, dan justru ketika aku menutup pintu hatiku, sebuah pintu lainnya terbuka. Tuhan mengirimkan sebuah pesan cinta kepada seorang pria melalui keluargaku. Anwar, teman Bang Burhan yang hampir tidak aku ingat sama sekali wajahnya.

Ibu menelfon dari Medan, “Anwar bilang minta dicarikan jodoh orang terdekat dari Bang Burhan, jadi yang terpikirkan saat itu juga adalah kamu, Nak.” Cerita Ibu singkat.

“Bang Anwar yang bajunya belepotan es buah gara-gara Nisa, Bu?”

“Iya, Nisa. Kamu ingat dia?”

“Hanya sekilas, Bu. Tapi bagaimana mungkin? Aku belum mengenalnya.”

“Nisa, Bang Anwar itu lebih dari sekedar sahabat untuk Abang. Aku lebih mengenal dia, dan aku juga mengenal adikku ini dengan sangat baik. Aku yakin inilah saat yang tepat untukmu.” Bang Burhan tidak sabaran menunggu Ibu yang menjelaskan. Agaknya telfon ini didengar bersama-sama lewat speaker phone. Ayah, Ibu, Bang Burhan, dan kebetulan Anita yang juga masih berada di rumah bergantian meyakinkanku.

“Begini saja, kami beri Nisa waktu satu bulan untuk mengenal Bang Anwar. Setelah itu baik Nisa ataupun Bang Anwar boleh memutuskan untuk melanjutkan ke pernikahan atau tidak. Oke?” Kali ini ayah dengan ciri khas tegas dan wibawanya angkat bicara.

“Ba…ba…baiklah…Nisa akan coba.” Aku terbata-bata mengiyakan tawaran ini. Tapi kalau aku tidak mencobanya sama sekali aku tidak akan pernah tahu.

Maka setelah berita dari Medan ku terima selang beberapa hari berikutnya aku dan Anwar mulai menjalin komunikasi. Bang Anwar, begitulah panggilanku kepadanya sejak awal aku mengenal dia. Seorang yang tidak banyak basa-basi, tidak juga pernah merayuku, dia langsung to the point.

“Abang pernah meminta Bang Burhan untuk mencarikan jodoh yang sesuai dengan tipikal Abang. Tidak disangka-sangka dia menyodorkan adiknya yang ceroboh ini.” Anwar terdengar tertawa ringan mengenang saat es buah itu membanjiri tubuhnya.

Aku hanya tersipu malu, mulai tersenyum, dan di saat yang sama aku mulai merasakan kehangatan yang terbit di antara relung-relung hatiku. Aku dan Anwar saling bertanya kekurangan masing-masing. Ia berterus terang bahwa ia adalah orang yang tidak romantis, tidak pernah memberi kejutan, dan sama sekali tidak pernah pacaran. Aku sendiri? Aku mengakui bahwa hatiku masih baru saja mengalami luka. Mengenai cinta, aku tidak tahu seperti apa kelanjutan hubungan kita ini. Namun yang pasti aku sedang berproses untuk move on. Demikian penjelasanku pada Anwar.

“Jika kita tidak pernah mengalami luka, kita tidak akan pernah tau bagaimana menghargai cinta. Nisa, jika hari ini hatimu terluka bukan berarti kamu tidak berhak untuk mendapatkan cinta lain yang lebih pantas untuk memperjuangkanmu. Maafkan dia! Dan beri hatimu ruang untuk memaafkan dirimu sendiri. Aku tidak memaksamu untuk menerimaku, dan tidak pula memintamu kembali padanya. Hatimu tau apa yang menjadi bagian terbaik dari dirimu sendiri. Merenunglah, lepaskan kegundahanmu, biarkan semua menjadi tenang dan damai. Setelah itu kamu akan menemukan keindahan pelangi setelah hujan yang turun menggenangi hatimu.”

Anwar begitu santun menyatakan keinginan hatinya untuk memasuki kehidupanku. Aku hanya terdiam, mendengar setiap kata yang ia jabarkan padaku.

Tiga puluh hari telah genap dalam perhitungan kami. Bang Burhan kembali menanyakan kesiapanku. Telfon genggamku berdering pada hari Minggu sekitar pukul delapan malam. Begitu telfon ku angkat, terdengar riuh suara keluargaku di Medan sedang menanti jawabanku.

“Nisa, Anwar sudah menceritakan perjalanan hubungan kalian selama satu bulan ini. Keputusannya sudah dia sampaikan bahwa dia bermaksud untuk meminangmu. Jika kau siap, orangtua dan keluarganya akan datang melamarmu ke rumah kita. Nak, pesan Ayah hanya satu, apapun keputusanmu kamu harus mempertanggung jawabkannya kelak kepada Allah. Maka, lakukan pula dengan niat tulus karena Allah.” Kata-kata ayah menggetarkan dadaku.

Bismillahirrohmanirrohim, bisikku dalam hati.

“Ayah, Ibu, dan semua keluargaku tercinta. Insyaallah, Nisa siap untuk dihalalkan dalam hidup Bang Anwar. Mengenai lamaran dan hari pernikahan Nisa serahkan seluruhnya kepada keluarga di Medan, sembari itu Nisa akan menyelesaikan proses resign di tempat Nisa bekerja.”

“Alhamdulillahirobbil’alamin” Semua orang terdengar serempak mengucapkan syukur.

Setelah melalui tebing yang terjal, akhirnya aku menemukan hamparan luas bumi terbentang dengan jutaan bunga indah yang siap menemaniku. Hatiku semakin mantap untuk pernikahan ini, karena Allah mengijabah doaku terlebih melalui restu orangtua yang selalu menyebut namaku dalam doa mereka. Batam, hanya beberapa saat lagi aku akan meninggalkanmu. Entah kapan, mungkin bila takdir membawaku kembali untuk menginjakkan kakiku di sini.

Seminggu setelah persetujuanku diterima, keluarga Anwar datang melamarku. Aku masih di Batam, sedangkan Anwar di Jambi. Kami tahu jarak kami terpisah sangat jauh. Tapi dengan akad yang suci antara Anwar dan waliku jarak itu hanya akan menjadi antara satu nafas.

Hari dimana menjelang kepulanganku ke Medan, Robi mendadak menemuiku di Batam. Dia datang tanpa aba-aba, seolah semua luka yang telah ia guratkan hanyalah senda gurau belaka. Dengan sekotak cokelat dan sekuntum mawar merah, dia menawarkan senyuman dan penawar racun yang ia taburkan saat itu.

“Maafkan aku, Nisa. Aku benar-benar tidak bisa melupakanmu. Kamu tahu kan, aku sibuk bekerja, aku tidak punya waktu banyak untuk kita. Tapi lihat, sekarang aku di sini. Aku cuti demi kamu, demi kita.”

Dia masih tetap sama seperti sebelumnya, dan mungkin akan tetap demikian karena sudah menjadi tabiatnya.

“Aku sudah lama memaafkanmu Robi, jauh sebelum permohonan ini kamu ajukan. Jauh sebelum pertemuan ini terjadi. Aku sudah memaafkanmu, demikian pula dengan hatiku. Aku juga sudah memaafkan kesalahanku menempatkan hatiku untuk orang yang salah. Tapi untuk masa depanku, aku juga tidak ingin kesalahan itu terulang lagi. Ketika kamu melepaskan hubungan ini, maka saat itu pula aku menyadari bahwa sudah semestinya aku melepaskanmu. Kita sudah selesai.”

“Nisa, please! Ini semua ngga mungkin terjadi, kamu pasti akan memaafkan aku dan kita akan kembali lagi seperti dahulu. Kita, kita akan menikah, kan? Itu yang kamu inginkan bukan?”

“Kapan, Robi?”

“Ya, nanti. Kita bicarakan lagi nanti setelah semuanya siap”

“Dan sepertinya sampai kapanpun kamu tidak akan pernah siap. Karena kamu tidak pernah benar-benar berniat mempersiapkannya. Aku akan menikah, tapi bukan denganmu. Orang yang lebih memperjuangkanku, lebih menghargai perasaanku, dialah yang sudah melamarku. Itulah kenyataannya.”

“Nisa…Nisa… kamu pasti tidak mencintainya, kan? Cinta kamu itu sudah mentok ke aku!”

“Cinta? Tahu apa kamu soal cinta? Menghargai orang yang mencintaimu saja kamu tidak mampu, jadi jangan pernah menertawakanku dengan cinta yang kamu remehkan! Pergilah, ini semua sudah berakhir.”

Aku meninggalkan Robi yang masih cengengesan dengan banyak hal tertahan yang ingin dia sampaikan. Tentang sabda sejuta rayuan, tentang cinta nihilnya, dan tentunya dengan seribu penyesalan yang bergelayutan menghantam pikirannya.

“Tentang pernikahan, kita tidak pernah tau siapa jodoh yang telah ditentukan untuk kita. Tapi percayalah, cinta yang kau gantungkan dengan niat ikhlas pada pilihan-NYA itulah cinta yang akan membawamu mencium semerbak kesturi di surga kelak.” Aku menyeka air mataku, air mata bahagia dan dengan beban yang sempurna sirna. Ku rentangkan sayap hatiku seluas-luasnya menyambut cinta hakiki yang akan segera hadir di seluruh penjuru jiwaku.

Rima memelukku terharu, tanpa terasa bulir-bulir hangat menyertai kebersamaan kami. Jauh di atas sana, sebuah pelangi menggantung di langit senja mengantarkan malam menuju peraduannya.

Depok, 27 Januari 2017

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya