“Sore, Mbak. Mau ke mana kita, Mbak?” “Kita ke jalan .. ya, Mas” “Baik, silahkan dipakai safebelt-nya, Mbak”

Sore itu perjalananku untuk menemui seorang rekan kerja di sebuah mall Bekasi aku tempuh dengan meng-order Uber yang biasa menemaniku kemanapun aku pergi. Sore itu traffict sangat tidak memungkinkan tepat waktu untuk bertemu rekanku, pukul 7 malam baru sampai di Bunderan Komsen saja sudah terjebak macet, akhirnya aku memutuskan untuk melewati jalan kampung yang kupikir akan efektif bila lewat jalan itu,

“Mas kita lewat Cikunir saja, ya?” “Ok, baik, Mbak”

Perjalanan ditempuh lancar melewati jalan itu, sesekali aku melihat handphone untuk memastikan temanku tidak menunggu lama, dalam hati bergumam “kenapa tidak pesan Uber motor saja kalau tahu begini”. Tapi aku masih bersabar dan yakin akan sampai tepat waktu. Melewati jalan Kalimalang, aku terjebak macet dari Rumah Sakit Budi Lestari. Rasa bosan sudah merasuki diriku, tidak sabar ingin cepat sampai akhirnya aku minta menepi.

“Belok kiri saja, Mas” “Oh tapi masih di depan kita baru sampai, Mbak” “Tidak apa-apa saya turun di belakang mall ini saja” “Ok, bebas mbak”

Advertisement

Menepilah mobil yang aku naiki, “di sini ya, Mbak?” “Baik, jadi berapa, Mas?" “Totalnya .. Mbak” Tercengang sebentar dalam hati “Murah sekali apa kode promo tidak sengaja terpencet tadi, ya?" "Oh, ok” Aku ambil uang dari dompet “Ini sisanya bawa saja ya, Mas” “Terimakasih, Mbak” “Sama-sama, Mas”

Turun dari mobil itu aku langsung menemui rekanku untuk membicarakan bisnis yang tempo hari belum selesai kami diskusikan. Setelah berbincang sebentar dan kami menemukan solusi untuk bisnis kami, aku pun pamit untuk segera pergi menemui sahabat-sahabatku di bioskop. Ya, memang setelah bertemu rekanku ini aku ada janji dengan sahabat-sahabatku untuk menonton di bioskop bersama-sama. Seperti biasa, kami datang sendiri-sendiri langsung dari kantor masing-masing dan ternyata aku duluan yang sampai, karena harus print out tiket kami.

Gengs, kalian di mana?” “Gue otw dari kantor”, Andi membalas Whatsapp chat group. “Ogut juga otw”, balas Adi. “Ok. Gue sudah print tiket kita ya, gue tunggu di restoran biasa”

Satu persatu dari kami datang dan waktu sudah menunjukan kami harus masuk bioskop karena akan dimulai filmnya. “3D ini ya? Haha. Baru kali ini gue nonton 3D”, seru Andi memberi tahu kami pengalaman pertamakali dia merasakan 3D.

“Haha katro lo”, ledek Adi ke Andi. “sst, sudah mau mulai nih, Rame mana, ya?” “eh iya, makhluk satu itu mana nggak jelas deh” Andi sudah mulai ngedumel. “Sudah gue Whatsapp suruh masuk saja kalau sudah di depan biar gue ke depan membawakan tiket dia”, Adi meyakinkan kita.

Waktu menunjukan 23.00 malam dan kami pun sudah selesai menonton bioskop. Saat pulang aku bersama Adi dan Andi karena Rame tidak bisa ikut menonton bersana. Sebelum pulang ke rumah, kami sempatkan untuk mengisi perut kami dulu sekadar berbincang sebentar. Lalu, selama perjalanan pulang kecerian ada di wajah kami masing-masing, sampai handphone-ku berbunyi “Eh, ada Whatsapp nih” ternyata dari Mas-Mas Uber tadi yang mengantarku.

Hmm, dia pintar mencuri hati ini. “Siapa dia sebenarnya tidak mungkin hanya pengemudi Uber saja, tutur kata dan sikapnya memperlakukan wanita dengan sopan”

Seiring berjalan waktu kami semakin dekat menganal satu sama lain dan aku tahu bahwa dia mengemudi Uber hanya mengisi waktu luangnya saja di darat karena dia adalah seorang pelaut. Tidak lama aku mengenalnya, kami pun memutuskan untuk berbagi kisah bersama. Aku menemaninya selama di darat, semakin hari aku semakin mengenalnya dan aku merasa menjadi wanita istimewa bersamanya.

Limpahan kasih sayang dan manja ia curahkan untukku, dia tahu betul cara memperlakukan wanita tanpa menyinggung perasaan. Aku menyayanginya dan kami berkomitmen apapun yang terjadi kami akan tetap bersama-sama sampai ajal menjemput. Begitu yang aku rasa setelah mengenalnya, rasa bahagia tak kunjung padam.

Aku menemukan sosok yang dapat menerimaku apa adanya, tidak peduli aku seperti apa, aku mencintainya dengan segenap hatiku. Mengenai pandangan orang tentang pelaut sudah tidak aku gubris lagi, karena aku mengenal betul dia lelaki yang seperti apa dan aku mempercayainya.

Kini sedihku hilang untuk selamanya, aku menemukan lelaki yang elok tutur kata dan perilaku terpuji. Ya Tuhan, jangan kau ambil lagi kebahagianku ini, karena aku menginginkan untuk selamanya. Jaga ia dimanapun ia berada, beri selalu jiwa yang sehat di laut. Taklukan ombak di lautan untuknya, jaga selalu hatinya untukku dan jangan kau beri ia kesusahan di laut, karena ia harus kembali kedarat bertemu denganku. Membangun cinta dan kasih kami. Bawa kembali ia pulang dengan selamat, Tuhan, karena bila sedikit saja ia terluka, maka aku yang akan merintih menangis.