Jangan Bersikap Berlebihan. Cobalah untuk Melihat Suatu Masalah dari Sudut Pandang yang Lebih Luas Lagi 

Tak perlu terlalu didramatisasi, ini realita bukan drama

Patah hati, adalah bagian dari jalan pendewasaan kita sebagai individu untuk lebih bijaksana lagi dalam menyikapi sesuatu yang membuat kita terpuruk. Bukankah dari setiap kesedihan dan luka patah hati yang membuat kita semakin kuat ke depannya? Dan bukankah hidup ini akan jadi lebih lengkap jika kita sudah mengalami sedih, kecewa, marah, gundah dan akhirnya bahagia.

Advertisement


Tugas kita adalah menerima, bukan berprasangka berlebihan atas sesuatu yang justru membuat kita jadi kecewa.


Kadang hal yang membuat kita merasa terbebani adalah karena prasangka kita sendiri yang berlebihan tanpa dasar yang tepat. Prasangka kitalah yang membawa kita begitu merasa kecewa dan berlarut-larut dalam kesedihan dan kekecewaan. Mengapa dia memutuskan aku?, Mengapa dia meninggalkan aku?

Seolah pertanyaan yang terjawab kita simpulkan begitu gegabah nya dan justru membuat kita merasa terbebani dalam menjalani hari-hari kita. Padahal bisa jadi jawaban dari setiap pertanyaan itu kadang memang tidak ada jawaban nya, justru jawaban nya hanya ada jika kita mau menerima nya dengan lapang dada.

Advertisement




Percayalah apa yang sudah di gariskan kepada kita, itulah yang terbaik untuk kita.


Sebab hati selalu bisa menerima jika ia di tempatkan di tempat yang tepat. Apapun yang menjadi garis takdir kita, adalah bagian dari perjalanan hidup kita yang tak lain untuk semakin kita membuat kita lebih dewasa. Memang berdamai dengan diri sendiri itu bukan hal yang mudah, terlebih lagi jika kita sudah percaya apa yang kita lakukan sudah yang terbaik, tapi mengapa ia masih meninggalkan kita dengan begitu tragisnya.

Advertisement

Ada sebuah pepatah bahwa daun yang jatuh tidak pernah membenci angin ia membiarkan diri nya ikhlas terbawa angin yang menerbangkan nya entah jatuh ke arah mana. Bukankah berdamai dengan diri sendiri adalah tentang bagaimana kita menerima setiap garis takdir nya. Jika memang ia bukan jodoh kita mau di dekatkan sedekat urat nadi pun, akan percuma.


Kehilangan adalah bagian dari pada hidup, dan bukankah dari setiap kehilangan akan selalu ada pelajaran yang bisa kita ambil


Naifnya kehilangan justru banyak kita sikapi dengan penuh perasaan yang tidak tepat. Merasa bahwa dia yang meninggalkan kita adalah muasal dari segala kekecewaan dan kesedihan di hati kita. Kalau kita renungkan lagi lebih dalam, apa yang abadi dalam kehidupan ini? Bukankah di setiap hembusan angin yang bertiup, terpaan ombak di lautan dan guncangan tanah di bumi selalu akan mendatangkan kehilangan.

Dan hidup itu sendiri adalah bagian dari kehilangan, yang cepat atau lambat kelak akan di rasakan semua insan di bumi ini. Jadi gak usah lebay mengatakan bahwa aku adalah orang yang paling menderita, aku adalah orang yang paling kecewa. 


Bersedih secukupnya setelah itu bangkit kembali


Bersedihlah jika memang pada saat itu memang di perlukan, tapi secukupnya saja, jangan berlebihan, jangan terlalu di pikirkan. Toh bersedih adalah bagian dari hidup ini bukan. Jika kalian melakukan sensus penduduk di bumi ini, tentang berapa banyak orang yang pernah patah hati, pasti semua orang pernah mengalaminya.

Naif sekali jika kalian beranggapan bahwa kalianlah orang yang paling bersedih di bumi ini, naif sekali jika kalian beranggapan bahwa kalian adalah orang yang paling kecewa di bumi ini. 




Melihat dari sudut pandang yang lebih luas lagi 


Jika saja kita mau melihat dari sudut pandang yang lebih luas lagi dari setiap peristiwa kehidupan kita, percayalah kita akan bisa menerima segala hal yang datang kepada kita itu belum seberapa di bandingkan dengan orang lain.

Jika kau menganggap rasa sedih dan kecewamu adalah hal yang paling besar dan luar biasa di bumi ini, maka itu terlalu naif sekali. Lihat masalah nya dari sudut pandang yang lebih uas lagi, dari prespektif yang berbeda. Seperti kata pepatah jika kau ingin melihat betapa kecilnya kau di puncak gunung maka capailah puncaknya.


Kau bukanlah pusat dunia, ingat itu!




Kita selalu merasa kita jadi pusat dunia, karena selalu membesar-besarkan masalah yang kita hadapi. Seolah kita adalah orang yang paling punya masalah paling besar di bumi ini, seolah orang lain masalahnya tak lebih besar dari kita. Jika kau pernah berfikir seperti ungkapkan di atas maka cobalah berbicara dengan orang lain, banyaklah berkomunikasi dengan orang lain maka dari situ kita akan mendapatkan satu pemahaman yang baru, bahwa setiap orang punya porsi masalahnya masing-masing dan Allah tidak membebankan Masalah kepada kita di luar kemampuan kita.

Justru kitalah yang terkadang suka membesar-besarkan masalah kita, seolah kita pusat dunia, jika itu belum membuat kita yakin, lebih parah lagi, kita adalah pusat dari galaksi Bima sakti. Ada dan tiada dirinya yang meninggalkanmu tidak ada pengaruh nya untuk bumi ini. Bumi masih bergerak dengan rotasi nya. Matahari masih menyinari bumi, tidak ada yang berubah dari konstalasi tata Surya dan galaksi kita sebab patah hatimu. Semua masih baik-baik saja.

Ingat bukan hanya kau yang patah hati dan paling bersedih di bumi ini, semua orang pernah mengalaminya, dan bisa jadi ada orang yang lebih bersedih dan kurang beruntung hidup nya ketimbang kita, tapi ia masih bisa tersenyum untuk semua orang.




Banyak orang yang lebih kecewa, patah hati, dan tidak seberuntung kehidupanmu, tapi ia masih bisa tersenyum


Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Cuma ingin menulis, semoga bermanfaat dan terhibur.

CLOSE