“Melaju cepat cahaya itu masuk ke kamarku, menjenguk keterjagaanku di malam hari, seperti malam-malam sebelumnya. Lembut ia mengelus pipi dinginku, mengajakku bermain dan bercerita tentang bulir-bulir kegelisahan hasil rong-rongannya. Meski hampir tak bernyawa, aku masih saja ingin bercerita dan merasakan yang ada..”


Bagimu, hidup ini yang terlihat menyiksa, Dara, dan kau masih saja terlihat kuat dan sehat. Padahal kau sakit. Ragamu berada pada ambang batas normal, sayangnya, jiwamu terluka parah. Gelisah tak kunjung padam, resah tak kunjung sirna. Malah ia terus beranak-pinak di dalam darahmu, terus merobek, lalu menjahit, lalu merobek lagi, lalu menjahit lagi sistem pertahananmu. Duhai Dara, betapa menyiksanya ketidakwarasanmu terhadap dunia. Betapa menyakitkan merasakan tubuh-tubuh yang mendekat hanya karena iba, bukan karena cinta. Dara, sampai kapankah?

Advertisement

Dan satu-dua pil untuk sekedar membawamu tenang lalu terlelap. Terlihat sepele, satu-dua pil. Namun, dampak yang bekerja sebegitu dahsyatnya hingga mampu memberhentikan kewarasan alamimu, kewarasan yang dihadiahkan Tuhan olehmu sejak kau pertama kali menarik oksigen di dunia ini. Setelahnya, kau masih butuh dua-tiga butir untuk redakan nyerimu, yang engkau sendiri pun tak tahu dari mana asal sakitnya. Meski kau paham betul bahwa sejatinya bukanlah ragamu yang sakit, namun masih saja kau menelan butiran itu demi meredam kegelisahan yang ada.

Aku mencemaskan kehidupanku setiap hari. Bagaimana kalau-kalau aku tiba-tiba mati dan tak ada yang sudi mengurusiku? Bagaimana kalau nantinya, aku tak bisa mendapatkan seseorang yang bisa menerimaku dengan segala kekuranganku? Aku berkeringat hebat dan ketakutan ketika memikirkan bagaimana kalau nanti aku dikhianati, oleh orang yang aku kasihi. Aku mencemaskan bagaimana jikalau aku pergi ke luar rumah, lalu kembali terlalu larut dan mendapatiku diriku dalam keadaan kosong, tak berisi? Aku mencemaskan tentang penilaian orang lain terhadap diriku. Aku sakit memikirkan bagaimana besok aku dapat memuaskan ekspektasi bosku, tanpa membuat sedikit pun kesalahan. Lalu, bagaimana dengan teman-teman sekitarku? Apakah aku terlihat aneh di mata mereka? Aku mencemaskan hari tuaku, apakah akan seindah yang aku harapkan? Bagaimana dengan keadaanku nanti ketika menjadi seorang ibu, apakah aku layak dipanggil “ibu” oleh anak-anakku? Apakah aku akan menjadi orang tua yang baik, tanpa harus melukai anak-anakku?

Berputar, dan terus berputar segala bulir gangguan itu. Dara, andai semua orang tahu bahwa apa yang engkau fikirkan jauh lebih ramai ketimbang yang mereka fikirkan atau bahkan lakukan. Menyiksanya menjadi seseorang yang ketergantungan dalam memikirkan segala hal. Menyedihkannya menjadi seseorang yang rela memikirkan hal-hal yang terkadang sama sekali tak ada sangkut pautnya terhadap dirinya. Dara, hidupmu sebenarnya begitu berharga dan tak ternilai, namun kau sulit bahkan untuk sekedar bernafas lega tanpa ada pemikiran-pemikiran cemas yang setiap saat siap menyerang. Kau berfikir bahwa semua orang adalah penjahat, patut dicurigai, patut dibenci, patut diwaspadai. Menyiksanya apa yang kau rasakan itu, duhai bunga.

Advertisement

Lalu kembali lagi malam-malam seperti sebelumnya. Kau terperangkap dalam racun yang terkadang ‘menina-bobokanmu', dan terkadang membius amarah bawah sadarmu. Aliran demi aliran doping, butir demi butir, lagi-lagi kau terima untuk berdamai dengan keadaan. Duhai bintang di angkasa, adakah kau memikirkan bagaimana caranya untuk menerima dan memaafkan? Gelombang marahmu begitu besar sehingga menutupi cantiknya hatimu. Syaraf-syarafmu menegang setiap kali otakmu mulai berfikir akan suatu hal. Duhai butiran embun yang memucat, tidakkah ketidakwarasanmu ini perlu untuk “dihabisi”? Semakin dalam kau menimang-nimangnya, semakin “kasar” pula ia akan memperlakukan jiwa dan hidupmu di kemudian hari.

Dara, tak ada untungnya kau “berteman” dengan segala bentuk kecemasan. Ia tak pernah bisa menjadi “teman baik”, bahkan dalam keadaan sempurna sekali pun. Berdamailah. Biarkan, biarkan mereka yang menurutmu pandai menyakiti. Kau bukan hidup untuk mereka. Jangan biarkan duniamu karam di dasar, hanya untuk menguliti satu per satu kesalahan dan kecemasan yang ada.

#Tulisan ini Penulis persembahkan untuk para penderita General Anxiety Diosder yang semakin hari (berdasarkan data dan fakta yang ada) populasinya semakin bertambah dan sedikit "terabaikan".

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya