Mengenalmu adalah salah satu nikmat yang pernah Tuhan berikan kepadaku. Senyummu yang penuh dengan arti sebelum kejadian itu, kini takkan lagi menjadi sama. Aku tahu aku yang memulai membuat serius hubungan ini namun apa mau dikata, ego yang begitu besar memisahkan tujuan utama. Dulu ku anggap hanya aku yang kau kirimi foto tiap pagi, dulu aku anggap hanya aku yang bisa mengantar tidurmu, dulu aku anggap hanya aku yang bisa menjadi tempat berbagi cerita.

Semua kini tlah hilang. Tak berbekas. Hancur.

Advertisement

Beberapa bulan ini setelah aku merenung dan mengumpulkan bukti yang ada, kau membagi kisah. Tidak hanya satu namun lebih. Pernah aku membaca kalimat “Friendzone” di dunia maya. Adalah hubungan mesra dimana status sahabat masih melekat diantara keduanya atau mungkin sebaliknya.

Kau melakukannya. Benar-benar melakukannya. Di depan mataku.

Awalnya ku anggap semua itu hanya luapan emosi karena kau lebih muda. Ku rasakan hal ini semenjak kau menjalani KKN diluar daerah. Tiap pagi aku tunggu kabarmu. Whatsapp, BBM, Line hingga SMS aku lakukan untuk mengetahui kabar terbaru. Namun apa mau dikata hanya layar kosong yang bisa ku tatap hingga entah berapa lama chat kau balas. Sempat terbersit dalam pikiran, dirimu tidak memberi kabar namun bisa update status? Sudah bosankah kau dengan hubungan ini.

Advertisement

Kau meyakinkanku setelah berpisah 3 bulan dengan mengajak bertemu, bercanda dan saling melempar kalimat manja. Aku tersenyum, aku bahagia dan aku bersyukur kau kembali seperti awal kita kenal.

Seperti tersambar petir disiang bolong!

Kau upload foto itu! Ya dengan editan “friendzone” di dalamnya. Aku simpan foto dari feed status BBM-ku. Hatiku remuk, ya remuk entah apa alasan yang kau buat hingga berani melakukan yang seharusnya tak kau lakukan. Malam itu aku hanya ingin sendiri, sendiri melepas hati yang berantakan. Chat ramai mulai masuk namun aku abaikan tapi… aku luluh dengan permintaan maaf-mu.

Berbagai sangkaan mulai muncul. Maaf, aku mulai menyadap perangkat kesayangan yang kau beli bersama diriku di Ambarukmo Plaza. Ilmu sesat yang pernah ku pelajari; isi handphone orang yang dulu sempat aku tinggalkan mulai ku buka, demi kebenaran. Sosial media yang selama ini menjembatani komunikasi kita, aku gunakan untuk memuluskan rencana.

Segala bukti aku kumpulkan. Email, Instagram hingga Line menjadi menu yang hapir tiap hari rajin ku buka. Secara tak sadar setiap status yang kau buat semakin menguatkan bukti-bukti. Aku rangkai, analisa dan simpan. Parahnya, lelaki itu seakan-akan tak tahu atau sengaja masa bodoh bahwa kita memiliki komitmen. Kedekatanmu dengannya sungguh membuatku cemburu.

Mungkin kau akan ingat ketika mengirimkanku foto senyum dengan kacamata, ya foto itu juga yang kau kirimkan pada dia, dia dan dia yang lain. Kecewa hati takkan kau mengerti sampai jauh dimana aku berusaha mengimbangi dirimu. Aku menyadari kau kini begitu jauh.

Mengingat cerita ini, kadang aku tersenyum akhirnya aku tahu siapa dirimu sebenarnya namun dilain sisi aku merindukan kesejukkan yang kau beri. Sanjungan tentang betapa aku bisa membuatmu nyaman dikala kita terbuai, pujian ketika aku bisa memecahkan masalah yang kau hadapi dan indahnya voice note via Whatsapp selalu menghiasi hari.

Hai…

Tahukah kamu? Aku masih menyimpan rekaman semua pembicaraan telfon kita, aku masih menyimpan bukti kau (entah apapapun itu kau sebut) chat dengan lainnya, dan aku masih menyimpan semuanya dengan rapi. Kau takkan menyangka aku melakukan ini. Sengaja aku melakukan semua dan berjaga-jaga suatu saat ada hal yang tak diinginkan terjadi.

Sejauh apapun melangkah melupakan semua ini, tidak akan mudah bagi. Dalam pencarianku tidak mudah percaya pada hati yang baru. Bukan kekhawatiran karena hati ini bisa patah kembali namun kisah yang sama takkan pernah terulang.

Apakah kita kenal hanya karena ingin saling dekat ketika jatuh cinta dan menghilang tanpa ada lagi cerita?

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya