Kau pernah bilang, kau sangat menyayangiku.

Kau pernah bilang, aku adalah segalanya bagimu.

Kau pernah bilang, sulit bagi orang lain menggantikan posisiku dihatimu.

Kau pernah bilang, bahagiamu hanya saat bersamaku.

Kau pernah bilang, hidup dan duniamu adalah aku.

Kau pernah bilang, kau hanya ingin aku.


Advertisement

Lalu dia datang, dan mengubah segala yg pernah kau katakan. Kau berbalik dan mulai melangkah pada jalanan yg berlainan arah. Kau lupa segala kata cinta yg pernah dg begitu mesra kau curahkan. 

Semudah itu ia kau persilakan masuk ke hatimu disaat segala perjuangan dan rasa sayangku seharusnya sudah memenuhi segala ruang di hatimu. Kau pergi disaat segala usaha dan cintaku masih deras mengalir dan menggebu-gebu untukmu.

Lalu,

Apalah arti dari sebuah ungkapan 'aku sayang kamu', jika yg tertinggal dari itu hanyalah sebuah luka yg tidak berkesudahan?

Barangkali hatimu memang sudah tidak disini. Rindumu mungkin sudah ia yang memiliki. Candamu, tawamu, suka dan dukamu, mungkin sudah bukan lagi untuk dibagi padaku.

Advertisement

Jika nyatanya bukan lagi aku alasanmu bahagia melihat dunia, satu-satunya yang bisa aku lakukan hanyalah berusaha melepas meski hatiku belum mampu sepenuhnya ikhlas.

Jika pada saatnya nanti kau membaca ini, percayalah, ada tetesan air mata yg menggenangi setiap kata demi kata yg aku tulis di atas meja ini. Kecewa, sedih, marah, gemetar, rasa tak percaya, patah hati, luka, semuanya bercampur menjadi satu.

Aku masih selalu terjaga pada malam-malam hariku, sebab aku takut, tidurku membawa aku pada mimpi yg lebih buruk dari sekedar ini. Aku bahkan sempat berharap tidak lagi diberi kesempatan untuk bisa melihat dunia. Karena barangkali itu lebih baik daripada saat membuka mata, aku disadarkan dg kenyataan bahwa dihatimu aku sudah bukan siapa-siapa.

Semoga ini cukup untuk menjelaskan seperti apa aku saat ditinggalkan olehmu ketika hatiku meyakini sedang berada dlm puncak mencintaimu.

Lalu bagaimana?

Bagaimana rasanya mengingkari janji setelah pernah begitu meyakinkan?

Bagaimana rasanya meninggalkan seseorang yang pernah begitu kau sayangi, dan kau tahu ia masih begitu besar menyayangimu?

Bagaimana rasanya menyakiti hati dengan tiba-tiba saja pergi?

Bagaimana rasanya mengabaikan setelah pernah begitu takut kehilangan?

Bagaimana rasanya melambaikan tangan setelah pernah begitu erat menggenggam kedua lengan?

Bagaimana rasanya memperlakukan seseorang dengan amat sangat jahat sedangkan kau tahu ia selalu memperlakukanmu dengan berusaha menjadi kekasih yang hebat?

Bagaimana rasanya berkata 'aku sudah menyayangi dia' setelah pernah mengatakan 'kau tidak perlu khawatir karena bagiku kau adalah segalanya' ?

Dan, bagaimana rasanya dengan mudahnya memutuskan berpisah setelah pernah bermimpi untuk selalu bersama hingga nanti kita menikah?

Bahagia, kah?

Tentu.

Dan sepertinya kau telah mendapatkannya. Tidak peduli sedalam apa melukai, tidak peduli sehebat apa mengingkari, tidak peduli semenyakitkan apa meninggalkanku sendiri, kebahagiaanmu adalah yang paling utama kau tuju.

Benar, bukan? 

Aku mengira, segala yang pernah kau ucap dan kau perbuat adalah bukti tulusnya engkau menyayangiku. Entahlah, entah kamu yang terlalu berbakat atau aku yang bodohnya kelewat hebat.

Nyatanya kau datang hanya sesaat setelah aku berpikir kaulah orang yang tepat.

Nyatanya kau datang hanya sekedar mampir setelah aku percaya rasa sayangku sedang deras-derasnya mengalir.

Jadi bagaimana?

Bagaimana caranya membuatmu mengerti bahwa kau sedang menyakiti? Pernahkah kamu berpikir bagaimana rasanya jadi aku?

Ah, rasa-rasanya kau juga tidak akan peduli. Sebab yang kau tahu kau harus bahagia.

Lantas bagaimana?

Sudah.

Selamat berbahagia.

Selamat berbahagia, untukmu yang dengan bahagia melepasku begitu saja. Titip salam untuk dia, yg karenanya, membuat aku dihatimu kini sudah bukan lagi menjadi siapa-siapa.

Aku mencintaimu, dan aku kehilanganmu.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya