Yang pergi akan menjadi kenangan, berhenti untuk mencari adalah harapan wanita saat dirundung perkara dia yang pergi atau tak akan kembali di sisi. Tetapi begitu cintanya wanita, seolah dia memposisikan diri sebagai kursi tunggu ketika sang pembuat rindu tak kunjung bertemu.

Yang meninggalkan akan selalu dikenang,semua karena masa tunggu yang selalu menjadikan wanita menangis begitu sedu. Tak akan pernah lelah ketika wanita harus tetap tinggal, mungkin sering mengeluh di beberapa tanggal, kepada yang sempat digenggam namun meronta pergi, kepada yang berkata tinggal namun ternyata tanggal.

Advertisement

Di balik orang yang menyibukkan diri ternyata ada hati yang sedang diperbaiki, dia sudah punya porsi sendiri dihati ini, sejauh-jauhnya pergi jika memang takdir Ilahi pasti kembali di sisi dan dia sudah punya cerita sendiri di hidup ini. Begitu kata yang menyakinkan yang mungkin wanita bangun dengan susah payahnya demi melupakan kepastian.

Seperti pepatah, wanita mampu memendam cinta selama 40 tahun, tetapi tidak bisa menahan cemburu selama sehari.

Yang ditinggalkan akan menemukan yang lebih baik, untuk semua yang telah terjadi aku mengucap syukur dari segala kehilangan aku belajar bertafakkur, namun di akhir cerita aku mulai mengerti mengapa dulu itu semua terjadi. Kepada dulu yang pernah dekat dan yang tidak menemani di akhir, kepada kumpulan luka, derita, dan bahagia yang sempat menjadi makna indahnya sebuah cerita. Terimakasih atasmu aku belajar menunggu, kesepian yang tak pernah tahu kapan harus menuntut temu.

Advertisement

Sulit menunggu di sekitar untuk sesuatu yang kamu tahu mungkin tidak pernah terjadi, tapi bahkan lebih sulit untuk menyerah ketika kamu tahu bahwa itu semua yang kamu inginkan. Seperti boneka dalam sebuah pertunjukan, seolah hidup bukan milik kita, milik orang lain milik orang asing. Pergi, ditinggalkan, memang menyakitkan tapi bertahan bisa jadi menyengsarakan (DesianiYudha).

Tak perlu takut aku tak akan pernah dendam atas kepergianmu, mengikhlaskan kepergian adalah bahagia bagiku seketika itu. Kau sudah direpotkan dengan hadir dan sudah kau ganti dengan pergi dari sisi. Sebelum kamu pun aku pernah berada pada posisi yang mungkin adalah hadiah kepastian dan berujung tangisan.

Tapi tenang saja sesungguhnya saat sekarang kita masih "bertukar peran", aku yang sejak pertama ada kemudian berubah menjadi tak punya arti apa-apa. Mungkin nanti kau yang sejak pertama ada kemudian menjadi tak punya arti apa-apa. Jangan samakan dengan hati, kekuatan yang aku bangun saat kau pergi tak pernah mati hingga dipukul berkali-kali.

Aku tak akan pernah menyalahkan waktu, kalau mau pergi ya pergi saja, sejauh yang kau tuju. Aku tak akan berharap kembalinya dirimu dengan petuah jengah yang dulu kau berikan untukku. Mungkin itu yang aku harap sekarang, berbahagialah agar aku tak ada alasan tertawa, menertawakanmu yang pernah bangga meninggalkanku wanita yang berusaha menyandingmu setiap waktu berharap kau tak lagi menyamakan perempuan yang nantinya kau bahagiakan sama seperti aku yang kau anggap telah lalu.

Tidak akan ada pertanyaan kapan lagi mulai dari sekarang, seolah jika kita bertanya kapan kita mengharapkan kata datang atau kembali setelahnya kita merasakan luka menganga di hati.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya