Dilema Hubungan, Tetap Bertahan atau Mengikhlaskan?

Antara dua hal yang harus dipilih

Usia bukannlah hal utama seseorang untuk menjadi dewasa. Kedewasaan seseorang dilihat dari bagaimana dia bisa menghargai orang lain dengan sikap dan tingkah lakunya. Begitu juga dalam sebuah hubungan, jika dia tidak bisa menghargai oranglain maka jangan berharap lebih akan dihargai seseorang. 

Mencintai dan menyayangi dia adalah hal yang aku rasakan saat ini. Setelah kesempatan kedua yang aku berikan untuknya, apakah dia akan berubah menjadi orang yang lebih baik atau tetap saja? 

Tetap menjadi orang yang menyakiti oranglain tanpa sebab? 

Sekecewa apapun aku, aku tetap melihatmu dari sisi baikmu. Itulah yang membuat aku memberi kesempatan kedua untukmu. Tapi nyatanya akupun salah, aku betul-betul merasa rasa kecewa yang teramat sangat karena sikapmu yang begitu kekanak-kanakan, yang terlalu ambis akan hal-hal kecil yang selalu kau besarkan dan seakan semua itu adalah kesalahan dariku.

Apakah kita dipertemukan pada waktu yang salah ? Atau waktu yang belum tepat? 

Entahlah, aku juga tidak seharusnya tidak memercayai semua ucapan yang terlontar keluar dari mulut manismu itu. Masihkah pantas aku tetap bertahan dan memberikan kesempatan yang kesekian kalinya untukmu? Hah, akupun trauma dengan sikapmu yang susah ditebak.

Diciptakan rasa sabar adalah pengingat manusia itu terbatas. Diciptakan rasa ikhlas adalah pengingat manusia itu kecil sekali. Diciptakan rasa berdoa adalah pengingat bahwa manusia memang hamba. Itulah yang bisa kulakukan detik ini, mengikhlaskan adalah cara terbaik agar aku bisa menerima keadaan yang sungguh menyayat kehidupanku.

Jika kamu berani mengucapkan selamat tinggal, kehidupan akan memberikanmu hadiah berupa lembaran baru dan sontak saya mengucapkan selamat tinggal pada apapun yang melukai hati. 

Beberapa bulanpun berlalu, dengan kesibukanku kuliah dan mengajar akhirnya akupun bisa sedikit melupakan kejadian masa lalu yang sangat tidak mengenakkan dalam hidupku. Puji syukur, aku dipertemukan dengan seseorang yang mampu memghapus luka lama hidupku.

Dia sosok penguat dan panutan dalam segala hal. Dialah pria yang tepat bisa menerimaku apa adanya, setelah pertemuan yang tak selang berapa pekan. Kitapun akhirnya mengucap janji suci dihadapan banyak orang. Dan inilah harapan yang selama ini aku butuhkan. Bukan sekedar janji manis yang selalu terumbar tanpa pembuktian yang nyata. 

Intinya, jangan menolak orang lain yang datang kepadamu hanya karena kamu setia dan menjaga seseorang yang belum pasti. Sebab, orang yang datang itu barangkali lebih baik dan lebih siap menyayangimu untuk selamanya daripada dia yang masih janji dan masih belum ada kepastiannya. 

ADVERTISEMENTS

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini