Siapa yang salah?

Kita yang terlalu naif mengartikan kata nyaman, atau Tuhan yang terlalu tega menciptakan perbedaan? Kita yang egois dan memaksakan keadaan, atau keadaan yang memaksa kita bersahabat dengan kenyataan?

Entah, aku tidak peduli lagi dengan siapa yang berhak disalahkan atas ketidakmungkinan ini. Aku mengenal-Nya lebih dulu, jauh sebelum aku bertemu kamu. Dan, kamu mencintai-Nya lebih dulu, jauh sebelum berjumpa denganku.

Kita terjebak dalam kesemuan mimpi di tengah harapan konyol yang menghentikan nalar. Kita terjebak daam percobaan hati dan iman yang tidak dapat dipertemukan. Aku menangis di depan altar dan memhon agar kelak kau dapat duduk di sampingku setiap minggu, sedangkan kau sesegukan di atas sajadah dan berharap agar aku menemani lima waktumu.

Kita bertahan dan mencoba untuk terus melawan takdir dengan mengabaikan apa yang sejatinya tidak dapat diabaikan. Kita berlari hingga terjatuh dan tersadar bahwa memaksakan ketidakmungkinan adalah hal yang memilukan. Ah, sudahlah!!!

CUKUP!!!

Mau tidak mau, terima tidak terima, toh kita pun sama-sama enggan untuk berganti iman. Jadi, tidak ada yang perlu dipersalahkan, kan?

-SA

***

Rangkaian kata yang membentuk kalimat berima di atas hanyalah penggalan dari catatan pilu yang memantik sesak. Tepatnya, catatan seorang anak manusia yang masih mempertanyakan tujuan Tuhan menitipkan rasa kasih pada orang yang jelas-jelas tidak akan sanggup diraihnya. Perasaan yang hanya akan terbentur dinding abstrak berjuluk agama dan atap transparan yang berada di dua gedung yang saling membelakangi.

Advertisement

Hahaha, ini kisah yang klasik.

Kisah yang telah dialami oleh banyak keturunan Adam dan mungkin, kisah yang terlalu mudah ditebak karena kebanyakan hanya berujung pada perpisahan. Terlalu sedikit orang yang berani memutuskan bertahan di tengah perbedaan hingga jenjang pernikahan.

Semua itu karena benturan iman yang konon telah terpatri dalam masing-masing pribadi. Rumit dan membingungkan. Perih dan menyesakkan. Pelik dan memilukan. Sungguh, jatuh hati di tengah perbedaan iman adalah hal yang pahit. Bahkan lebih pahit dari sepuluh butir paracetamol yang ditelan bersamaan, sebagaimana pahitnya takdir yang hanya mendekatkan, bukan mempersatukan.

Advertisement

***

Sebenarnya, menulis tentang hal ini adalah sebuah kesia-siaan. Sebab, ujung dari rangkuman rasa ini pun berupa perpisahan. Namun, satu yang perlu dipahami di sini adalah cinta di tengah perbedaan iman tidak harus diratapi dengan kesedihan. Justru, kamu atau siapa pun yang sempat atau sedang terjebak dalam perbedaan itu harusnya bersyukur.

Kenapa bersyukur? Bukankah itu menyakitkan?

Ya, memang menyakitkan. Bahkan terkadang, semua itu terasa tidak adil. Tuhan seolah bercanda dengan perasaan manusia yang rentan akan rasa sakit. Tuhan seolah bercanda dengan situasi yang menyeramkan. Tuhan jahat! Begitu kira-kira pemikiran orang terkait keadaan tersebut.

Padahal, jika kita berani berpikir lebih dalam, bukankah situasi tersebut adalah bukti dari cinta dan kasih Tuhan yang mengistimewakan kita? Ya, menurutku, keadaan tersebut adalah wujud dari perhatian Tuhan pada kita yang dianggapnya berhati kuat. Bahkan lebih kuat dan tegar dibandingkan manusia-manusia lain yang sedari awal telah dijatuhkan hatinya pada orang yang seiman. Tuhan paham, orang yang diuji hatinya melalui perbedaan keyakinan terhadap-Nya adalah orang-orang yang layak mendapatkan ketulusan dan keabadian cinta yang sebenar-benarnya cinta.

Mengapa demikian?

Sebab, puncak tertinggi dari rasa cinta yang tulus adalah ketika seseorang berani mengikhlaskan apa yang sudah seharusnya diikhlaskan. Termasuk, mengikhlaskan sesak yang menyiksa batin dan perasaannya.

Menurutku, ketidakadilan keadaan yang dirasakan oleh orang-orang yang terjebak dalam "cinta beda agama" hanyalah dorongan ego yang belum siap menerima kenyataan. Hal ini diperparah dengan kebiasaan orang yang enggan memaknai sesuatu dari sudut pandang yang menggiring pemikirannya pada hal yang positif.

Hal yang bisa menyadarkan bahwa Tuhan tahu apapun yang lebih baik dan lebih pantas untuk hamba-Nya, sebab apa yang dirasa baik oleh seorang hamba, belum tentu baik sepenuhnya. Begitu pula saat menyikapi situasi "cinta tapi beda" yang kebanyakan hanya dilihat dari sudut ketidakadilan Tuhan.

Dude, it's not about "FAIR" or "NOT".

Ini hanya soal keikhlasanmu dan kesadaranmu pada anugerah serta kepercayaan Tuhan. Anugerah yang berupa perasaan cinta itu harus tetap disyukuri, sebab jatuhnya perasaan pada setiap hati akan memberikan pelajaran hidup yang mendewasakan. Sedangkan kepercayaan berupa tanggung jawab terhadap iman dan kekuatanmu dalam menegarkan diri adalah bukti bahwa Tuhan benar-benar percaya jika kamu layak diberi ujian yang lebih berat karena kamu istimewa. Kamu berbeda. Kamu kuat dan kamu dianggap layak memerankan diri sebagai pihak yang teruji cinta dan kasihnya melalui skenario Tuhan yang penuh dengan misteri serta rahasia.

Jadi, jika masih ada yang mempermasalahkan keadaan dan menyalahkan Tuhan karena terjebak dalam "Cinta Beda Iman", maka bersegeralah untuk bertanya pada diri sendiri perihal jatuhnya hati yang kamu rasakan! Apakah memang jatuh hati tersebut memantik perasaan rindu dan menumbuhkan cinta yang dilandasi keikhlasan? Atau justru jatuh hati yang mematikan karena tercipta dari obsesi yang dibumbui gengsi?

Entah, yang pasti, cinta adalah hak setiap anak Adam yang boleh dijatuhkan dan diberikan pada orang lain. Setiap manusia berhak mengekspresikan cintanya dengan cara bagaimana pun, asal ia berani bertanggung jawab atas segala konsekuensi yang telah diambilnya.

Last, "tidak ada yang salah dari jatuh cinta, sebab yang keliru adalah penafsiran takdir yang terkadang semu akibat ketidaksiapan anak Adam dalam menghadapi ketidakmungkinan yang berwujud perpisahan!".

Tembalang, 010918

S.A

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya