#DitemaniHipwee Surat Terbuka untuk Pencipta Semesta, Ciptaan Semesta, dan Kita

Dibalik sebuah bencana ada hati yang terpanggil untuk terus berbagi lewat tulisan

Kalau aku menghitung sudah berapa jejak langkah yang kutinggalkan dari satu titik ke titik lainnya, jawabannya adalah tak terhingga. Dulu, saat kaki hendak melangkah, bahkan mendaki sebelum sampai pada titik yang dituju, aku lebih sering mengeluh, merasa cemas, dan rasa takut yang tak berhenti menghujani hati. Tak ada yang bisa kupercayai, bahkan sering kuragukan Pencipta semestaku sendiri. Langkah yang kulalui banyak, namun langkah yang kulewati dengan hati yang tenang jawabannya belum ada. Entah kapan adanya.

Advertisement

Rasanya ingin berhenti, tak melanjutkan lagi keinginan untuk menjelajah, apalagi bermimpi. Ingin rasanya bersantai-santai, entah duduk di kamar, cuek dengan keadaan di luar diriku sendiri, berdiam diri untuk kenikmatan pribadi, menghitung berapa juta kegagalan yang pernah kubuat dan sibuk menyalahkan Dia. 

Kaki bahkan hati ini juga dipenuhi rasa ogah saat harus melangkahkan kaki ke rumah Pencipta semesta. Tapi ketika aku mendambakan sesuatu, saat aku berharap akan suatu mimpi dan cita-cita, aku bergegas ke rumah-Nya, berdoa dengan khusyuk seakan waktu berjam-jam terbunuh dengan begitu cepat. Keinginan-keinginan yang tiada hentinya meluncur begitu lancar dari mulutku.

Mungkin orang-orang yang melihatku di rumah ibadah takjub, bertanya-tanya atau bahkan ada yang menyanjungku diam-diam dan berkata betapa religiusnya diriku ini. Dalam hati aku merasa berhasil karena aku berhasil menutupi diri yang tak peduli pada dunia dengan kedok yang sok religius. Namun saat pencapaian-pencapaian yang kutuangkan dalam doa itu terwujud sesuai keinginan hatiku, tak lagi kaki ini rela untuk menapakan langkah di rumah-Nya.

Advertisement

Aku lebih memilih untuk menghabiskan waktuku, energi di kedai-kedai kopi, memesan pesanan yang namanya sulit dieja dengan lidah yang lebih fasih berbahasa Indonesia. Bahkan aku rela mengeluarkan pundi-pundi hasil kerja kerasku di kantor hanya untuk sepotong kue yang langsung habis dalam dua atau tiga kali suap. Sisa waktuku kuhabiskan lagi biasanya dengan teman-teman yang membuatku tertawa dan sejenak lupa akan suatu hal yang menjadi pikiranku bertahun-tahun lampau. Saat ketenangan dan kebahagiaan kudapatkan, rasanya aku tak punya alasan untuk memejamkan mata sejenak demi berbicara dengan-Nya.

Buang waktu! Itu yang kupikirkan.

Tak ada alasan bagiku untuk mampir ke rumah-Nya di situasi yang sedang menggembirakan hatiku. Ada yang jauh lebih menarik dari itu.Sementara ketika perasaanku ingin marah, ada ketidaknyamanan yang membuncah dari hati, begitu mudahnya aku datang lagi ke rumah-Nya. Tapi tak segan-segan aku memaki, menyalahkan, menangis tanpa rasa bersalah, membandingkan keadaanku dengan orang lain, seakan aku adalah orang yang telah berbuat paling baik di dunia ini. 

Advertisement

Padahal aku lebih sering mengkritik semesta, tanpa pernah merasakan betapa sakitnya semesta yang kuacuhkan dengan tindakan masa bodoku selama ini. Aku yang terlalu asik dengan diri sendiri, sampai-sampai tak tahu kalau semesta, bumi ini sedang merintih. Tapi di saat ada sebuah virus bernama corona yang memporak porandakan dunia dan nyaris mengancam diriku barulah aku mulai peka dengan keadaan sekitar dan tak pusinh saat tak bisa ke rumah ibadah. Pencipta semestaku ada di mana-mana. 

Aku sadar kalau Pencipta semesta tak hanya berada di rumah-Nya saja. Ia hadir bak malaikat dalam tangan dan hati orang yang siap memberi, ketika ada yang sakit dan memerlukan bantuan. Pencipta semesta tak selemah yang kukira. Ia tak hanya menatap dari satu tempat. Namun ia menjangkau siapa saja, di mana saja,dan kapan saja. Tangan yang siap memberi ketika ada yang kelaparan, di sanalah Dia hadir. Pencipta semesta hadir ketika seseorang yang tengah sendirian, tak dipedulikan mendapatkan hati seseorang, didengarkan dengan penuh empati. 

Pencipta semesta mengikutiku ke mana pun aku melangkah, bahkan di dalam setiap tangis, di dalam setiap perjuangan yang ingin kuakhiri, Ia berada bersamaku, menerima diriku dengan segala kekuranganku. Meski aku hanya datang di waktu genting 

Kondisi ini menyadarkanku bahwa tak perlu sok suci untuk datang ke rumah-Nya di kala ada maunya. Penciptaku saja ibarat sahabat yang mengikutiku, dalam diam, dalam hembusan angin yang memberi kelegaan pada diriku yang ingin menumpahkan amarah. Di sisi lain Ia hadir dalam hangatnya matahari yang mendekapku di saat aku larut dalam kecemasan, ketakutan, dan kesedihan yang tak terbendung.

Walau pandemi corona yang membuatku tak bisa berkelana mengelilingi dunia, tapi setidaknya aku berkelana di dalam hatiku. Di dalam hati, aku jadi lebih sering bercakap-cakap dengan Pencipta semesta. Selalu ada yang kami perbincangkan. Tentang rasa syukurku yang tak lagi merasa terasingkan, tentang aku yang lebih mudah memuji daripada memaki, tentang aku yang lebih banyak bersyukur daripada mengeluh, dan tentang aku yang lebih berani menyayangi diriku sendiri, sebelum aku mencintai semesta ini. 

Bencana memang menyisakan trauma karena sebagian dari hati semesta terluka, namun di balik itu ada hati yang belajar untuk mencintai dirinya sendiri dengan terus menulis, berbagi rasa, berbagi kepedulian lewat tulisan yang kutuangkan di platform Hipwee. Perjalanan menulisku dan pertemuanku dengan Hipwee adalah pengalaman berbagiku dan rasa syukurku untuk Pencipta semesta dan ciptaan-Nya.

Terima kasih Penciptaku untuk segala talenta yang Kau titipkan dan kini aku benar-benar berdoa. Doaku kutuangkan dalam tulisan untuk-Mu dan semesta. Semesta segeralah kau memulihkan dirimu. Aku menyayangimu dan mencintaimu lewat setiap tindakan baiku dan teman-temanku.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement
loading...

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

CLOSE