Pernahkah kalian merasa kehilangan yang begitu mendalam? Dada terasa begitu sesak dan hati seperti teriris. Perih sekali. Berbahagialah kalian jika tidak pernah merasakan kehilangan. Bagi yang pernah sesakit itu merasakan pengap dan bengap nya kehidupan karena kehilangan sesuatu yang berharga atau pun seseorang yang dicinta tetaplah pula bersyukur. Bahagia pun adalah ujian. Ujian untuk tidak lupa diri. Sedih yang menyesakkan sekalipun adalah anugerah, ya, anugerah untuk merasakan nikmatnya belajar arti kesabaran.

Bagiku kehilangan tersakit adalah terpisah karena kematian. Sekitar satu tahun yang lalu Terminal Giwangan Yogyakarta menjadi saksi akan tangisku yang mengalir tiada henti. Sebelum ku lanjutkan, pernahkah kalian ke terminal? Tempat yang penuh dengan kedatangan dan kepergian. Memang seperti itulah kehidupan ini, ada yang datang ada yang pergi. Ada yang hidup ada pula yang mati.

Advertisement

Saat itu aku bekerja di daerah Ngaglik, tak jauh dari Gunung Merapi. Pagi itu terasa seperti biasa, langit tetap cerah berwarna biru, udara berhembus begitu segar, aku pun siap memakai seragam kerjaku. Rapi dan harum. Manusia bisa merasa biasa saja tanpa sadar Tuhan telah menulis cerita hidupnya, kadang dirasa manis kadang dirasa pahit, kadang berakhir sesuai harapan kadang tidak. Bukan kah manusia memang seperti itu? Hanya bisa berharap dan terbatas. 

Perjalanan Jogja-Blitar terasa sangat lama, tissue di tas ku sudah habis, hari itu bus cukup lonngar. Orang-orang lebih memilih kursi tanpa penumpang lain disampingnya. Aku menangis sejadi-jadinya, andai meraka mendengarnya pun aku tak peduli. Sepanjang perjalanan kenangan itu muncul silih berganti, kaca bus yang aku tumpangi seakan menjadi layar untuk menampilkan slide demi slide momen bermakna bersamanya.

Dia bukan orang yang punya banyak uang, tapi begitu sering menabur kebaikan pada orang disekitarnya. Masih sangat segar dalam ingatanku, dia lah yang selalu mengantar dan menjemput ku dari terminal ketika aku pulang kuliah dari luar kota. Dia menanggung semua bebannya sendiri, selalu memberi cinta pada semua orang meski yang disebutnya sebagai "cinta" justru meninggalkannya. Realita hidup ini seringkali terlihat kejam. Tapi sekali pun aku tidak pernah mendengar keluh kesahnya, dari mata yang kurang tidur itu aku hanya melihat satu hal. Keikhlasan.

Advertisement

Hari ini aku berikan hadiah padamu, Pak Dhe. Maaf karena belum sempat kuberikan apapun dari hasil kerja ku, sekarang pun hanya sesekali membacakan Surat Yasin untukmu. Semoga hadiahku bermakna, bahagia selalu disana.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya