β€œTentangmu, senyum ini pernah terisi dengan tingkah laku manjamu, hariku pernah meniadakan arti sulit untuk bisa ku lalui, bahkan luka tak pernah aku pikirkan akan menyelimuti ruang hatiku".

"Tentangmu, aku pernah menjadi diri yang begitu sulit untuk berhenti berusaha. Berusaha agar kau selalu merasa aman, nyaman bahkan bahagia dan aku juga pernah melakukan sesuatu yang membuat dirimu merasa lelah untuk menghadapi segala celoteh tentang adanya aku dalam waktumu".

"Tentangmu, aku pernah merasakan jika waktu di dunia ini terlalu cepat berlalu, sehingga bahagia yang ku rasa begitu cepat pergi dan tentangmu, diriku pernah mencoba untuk menghentikan waktu saja diam di tempat karena jika tidak, kau akan pergi dan kenyataanya itu terjadi juga".

Untukmu cerita yang pernah tersimpan, untukmu kata yang belum sempat terangkai usai menjadi sebuah kalimat, dan untukmu cinta yang pernah tertunda dalam hati. Pada hari ini, izinkan aku menuliskan semua itu tentangmu di sini agar dapat menjadi sebuah karya abadi ketika ketiadaanku menjadi rindu di hatimu. Untukmu kisah yang pernah menjelma menjadi sebuah alur semangat dalam hidupku. Izinkan aku sejenak untuk menguras keringat pikirku semua tentangmu, agar dapat aku tuangkan dalam sebuah tulisan yang dapat memberi inspirasi dan pengertian kepada mereka.

Jika cinta itu tak pernah membuat seseorang menjadi menderita, cinta selalu mengajarkan diri untuk dapat memahami arti di mana cinta itu berada tepat pada tempatnya. Bukan sekadar ada dalam waktunya. Lalu bilang, jika cinta telah membuat kehidupan mereka menjadi lebih sulit.

Advertisement

Untuk segala hal yang pernah kau ajarkan dan katakan kepadaku, bukan karena aku inginkan waktu yang aku lalui ada dirimu, namun cinta yang kita miliki tak akan pernah menjadi sebuah harapan bahagia. Namun hanya sebuah cerita yang dapat memberikan kita sebuah makna, tentang bagaimana menempatkan cinta itu dalam kehidupan kita masing-masing. Dan pada saat itu, tepat pada waktunya jika cinta telah memberikan kita jawabannya kepadaku dan kepadamu tentang tanya yang sering kita perdebatkan kala itu, tentang kehidupan kita selanjutnya.

Ketika semua menjawab, sesungguhnya aku dan kau tak dapat menahan jika cinta itu harus berakhir. Ketika cinta telah memilih tempat, di mana dia tempat kau berlabuh dan aku harus kau tinggalkan. Aku memang pernah berpikir jika dunia ini tak adil, tak adil karena pada saat waktunya yang sangat indah terasa harus terhenti dengan rasa kehilangan yang luar biasa atas kepergianmu.

Bahkan, butuh waktu yang tak sebentar untuk bisa aku genggam hatiku dengan baik, agar bisa memahami dan mengerti jika pada kenyataanya kau memang telah pergi. Pergi dari cerita yang pernah aku bangun dalam sebuah harapan untuk bahagia bersamamu. Bahkan saat ini, rasa luka dan kehilangan itu masih saja terlintas di setiap langkahku. Begitu sulit untuk aku lenyapkan, begitu sulit bagiku sekadar membuka hati jika dirimu memang tercipta bukan untukku, namun untuk dia, dia yang tertulis dalam takdir cinta yang kau miliki.

Jika saja pada saat itu, aku pernah diajarkan untuk terluka, diajarkan bagaimana menahan rasa sakit dan rindu ketika dirimu tak bisa lagi meneruskan cerita itu denganku. Aku pasti akan mudah untuk menerimanya dengan baik. Namun kau lupa mengajarkan itu semua, sehingga rana dan tersiksa batin harus aku pikul berat, ketika semua harus aku tanggung sendiri, harus aku jalani sendiri. Lalu, bagaimana aku harus meneruskan tulisan itu tentangmu, sementara hati dan rindu itu terbatas oleh rasa hilang tentangmu.

Apakah harus aku tulis dengan tinta air mataku yang menetes, ketika bayangmu selalu menghantui di setiap helai kata yang aku tuangkan dalam tulisanku ini.

Perlahan, semua bisa aku lakukan, semua bisa aku selesaikan dengan baik, semua telah terjawab ketika tulisan ini aku selesaikan dengan baik. Tulisan ini bukan saja tentang bagaimana aku bisa menyelesaikan tanpa hadirmu dalam waktuku, namun tulisan ini jelmaan diri bagaimana rasanya aku meneruskan hidupku dalam gelisah dan luka yang sangat sakit aku rasa. Tulisan ini bukan saja soal aku bisa menulis, namun tulisan ini tentang rasa, rasa kecewa yang pernah mengalir deras dalam darahku, kehilangan tempat untuk berbagi keluh dan kesah.

Dan tulisan ini bukan saja soal seberapa sering aku memohon kepada Tuhanku, agar aku dapat tabah menghadapi akan arti kehilangan dirimu, namun tulisan ini bagian dari jiwaku yang aku pernah merasakan betapa dirimu sangat berarti bagiku.

Mungkin tulisan ini tak seindah puisi yang pernah membuat dunia mengenal siapa di balik kata indah itu, dan mungkin juga tulisan ini tak seindah cerita cinta yang pernah memberi motivasi terbaca dalam sebuah dongeng, dalam buku yang dapat membuka pintu dunia. Namun tulisan ini bagiku lebih dari segalanya, karena aku menuliskan ini dengan hati, dengan rasa yang sebenarnya. Rasa cinta yang pernah Tuhanku titipkan kepadaku untuk memuji seseorang wanita makhluk ciptaan-Nya dengan indah dalam waktuku.

Tulisan ini memang tak seindah rindu yang mungkin kau rasa saat ini, cinta yang kau miliki saat dan bahagia yang kau jalani saat ini. Namun perlu kau mengerti, jika tulisan ini memiliki makna yang lebih indah dari semua yang kau rasa itu karena tulisan ini. Tulisan yang aku buat dengan tetesan air mata, rindu bahkan luka yang pernah ditinggalkan oleh seseorang, namun aku tetap bisa meneruskan cerita ini dengan baik tanpa menuntut apa yang seharusnya aku dapatkan darinya bahkan dari Tuhanku sendiri.

Ketika aku dapat menuliskan ini tentang semua rasa yang terasa, rasanya aku telah memiliki segalanya. Memiliki segala hal yang pernah aku dapatkan dari seseorang yang membuatku menjadi seseorang yang begitu menghormati diri sendiri, cinta bahkan aku semakin mengenal di mana aku harus memohon dan di mana aku harus bersujud. Tentangnya, bukan saja soal berapa banyak waktu yang aku habiskan hanya sekadar untuk menuliskan semua tentangnya, namun rasa kehilangannya adalah rasa ingin menjadi seseorang yang lebih baik.

Lebih baik dalam bersikap untuk menerima apa yang seharusnya aku terima dan dapatkan dalam kehidupan ini.

Tak ada yang salah jika kau berkata semua orang bisa melakukannya sepertiku, karena cinta bisa saja membuat orang terluka lalu bangkit dari keterpurukan itu, hingga menjelma menjadi diri yang kuat. Namun tetaplah berbeda, karena kita bukan hati yang sama, bukan diri yang sama dan setiap insan akan memiliki cerita yang berbeda.

Namun terkadang, dalam urusan cinta kadang memiliki kisah yang sama namun berbeda dalam menyikapinya, dan kadang pula setiap orang harus menempuh jalan yang begitu sulit untuk bisa menembus bahagia yang mereka inginkan, namun mereka tak pernah menyerah dan aku sepertinya melakukan hal itu dengan baik.

Aku harap kau di sana tak merasa keberatan dan memberiku izin, jika dalam tulisan ini aku pernah menceritakan semua tentang hadirmu dalam hidupku. Aku tak bermaksud mengganggu bahagiamu saat ini, namun aku hanya ingin menuntaskan segala rasa yang pernah aku rasa dengan tulisan ini.

Supaya suatu ketika nanti aku bertemu dengan seseorang yang ditakdirkan bersamaku, cerita ini dapat menjadi bukti jika aku pernah memperlakukan seseorang dengan penuh cinta yang begitu tulus berlambang bahagia bukan dengan derai mata berselimut derita.

Dan tulisan ini dapat aku jadikan bukti, jika aku bukanlah seorang pecundang cinta yang hanya akan bertahan karena kecantikan saja, bentuk tubuh saja.

Bukan pula karena nafus saja, namun aku bertahan karena cinta. Cinta yang telah Tuhan anugerahkan kepadaku untuk aku jaga dalam bahagia dunia, bahkan nanti di mana kita terpisah oleh waktu, lalu bertemu kembali pada waktu yang lebih indah yaitu surga cinta, yang tak akan pernah berakhir bersama orang-orang yang telah menjalani hidup di dunia ini dengan baik kepadaNya.

Untukmu cerita yang tertunda, terima kasih atas segala pelajaran hidup tentang cinta yang telah kau berikan dan ajarkan kepadaku. Aku harap kau di sana bahagia bersama seseorang yang begitu mencintaimu. Dikarunia anak-anak yang soleh soleha dan bersama waktu yang penuh bahagia dan barokah yang selalu Tuhan berikan kepadamu lewat doa aku meminta, amin.