Iya. Kuakui bahwa aku sangat merindukanmu. Dari kita bertatap muka, aku melihatmu dari ujung sepatu hingga ujung rambut, dan jelas di sana kita berbagi cerita bersama tanpa mengenal waktu hingga menunggu sebuah cafe tutup pukul sebelas malam. Tidak ada kata lelah kita harus tertawa lepas di depan umum sampai menghabiskan tiga gelas cappucino yang merupakan minuman terfavorit di cafe itu. Ah serasa dunia milik kita sendiri.

Hingga kini cerita itu tidak pernah bisa kulupakan di dalam benakku. Sampai kini aku tidak bisa mengulang kembali cerita tersebut kepada orang yang sama. Dan kini harus menjadi kenangan, haruskah seburuk itu cerita yang sudah kau bangun untukku?

Advertisement

Iya memang, aku bukan siapa-siapanya. Sahabat? bukan, pacar? haha, apalagi. Aku hanya wanita biasa yang dijadikan sebagai teman biasa yang memiliki visi dan misi untuk membuatnya bahagia. Tidak saling memiliki memang, namun terkadang aku merasa bahwa diriku merupakan yang paling utama untuk kehidupannya, dan bermula dari situlah aku terlalu bersemangat untuk membangun harapan-harapan yang dalam hatiku semoga sesuai dengan rencana.

Dan benar, mudah memang membangun semua harapan tersebut, tetapi sulit untuk menyembuhkan sakit yang harus aku terima di saat harapan tersebut tidak sesuai dengan realita.

Jelas tidak mungkin jikalau aku harus menceritakan semua rasa sakitku ini, apa pedulinya? Dia bukan siapa-siapa ku, tetapi pernah aku merasa sangat rapuh serapuh rapuhnya hingga bodohnya aku harus menceritakan semua kepadanya, bahkan perasaanku dengannya pun dengan mudah aku lontarkan secara rapi. Dan setelah itu, dia hanya mengucapkan kata "terima kasih", lalu pergi.

Advertisement

Memang aku terlalu bodoh tiba-tiba secara spontan dan refleks melakukan hal tersebut, tidak ada salahnya juga dia mendengar, tidak seharusnya dia meninggalkanku seperti itu hingga berbulan-bulan tanpa ada kabar. Dan kini aku hanya bisa mengenang dongeng indah itu di dalam otakku. Bahkan jam, hari, bulan dan tempat di mana kita biasa pergi bersama tidak pernah hilang di pikiranku. Aku hanya bisa memendam rasa rindu ini sendiri.

Rindu? Sudah jelas sangat. Saat aku melontarkan semua cerita dan perasaanku dulu itu saja dia langsung pergi, apalagi jika aku tiba-tiba bercerita bahwa aku rindu dengannya. Apa peduli dia? Jelas tidak ada sama sekali.

Namun, rinduku ini akan selalu kusimpan dengan rapi layaknya sebuah pantun, yang harus berakhiran huruf yang sama. Aku mencoba untuk menghapus semua kenangan yang sudah kau bangun, serta menghapus semua harapan yang sudah kubangun sendiri, tetapi kamu adalah seseorang yang selalu, selalu, dan selalu ku rindukan. Tenang saja aku tidak akan mengganggu hidupmu lagi.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya