Cinta yang ku tahu adalah ikhlas. Kasih yang ku tahu adalah saling memberi. Tapi bagaimana jika aku mencintaimu tapi aku ingin kau memberiku lebih, paling tidak sama denganku. Apakah masih itu disebut cinta? Ataukah itu hanya ambisi?

Lalu bagaimana jika hanya aku yang memberi? Masihkah itu disebut kasih? Ketika aku selalu meminta padamu. Aku tahu cara kita berbeda, tapi tak bisakah kau meyakinkanku untuk kali ini?

Advertisement

Ada hari-hari dimana aku merasa bahwa kau tak lagi sama atau hanya aku yang berubah? Kadar cintaku padamu makin bertambah, dan kau mungkin sama, hanya sekedarnya saja.

Haruskah aku memintamu lagi? Haruskah aku mengiba? Bahkan untuk janji-janji yang entah untuk kesekian kalinya.

Haruskah aku memutar waktu dimana aku tak seharusnya aku meminta cintamu? Atau aku harus terus memintamu bahkan mengiba?

Advertisement

Bukan lagi tentang kewajiban seorang laki-laki atau perempuan, tapi ini tentang bagaimana seseorang menganggap pentingnya kehadiran pasangannya di sisinya. Bahkan ketika salah satu tak memberi kabar. Kau tahu aku tak mampu untuk tidak mempedulikanmu. Kau pun tahu aku tak bisa untuk meninggalkanmu. Tapi sampai kapan aku akan terus memintamu?

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya