Kau tuangkan perhatian, di setiap saat kala aku butuh teman. Seolah rasanya, aku bagimu adalah sosok yang sangat kau pedulikan. Kau beri lebih padaku tentang indah kasih, tak terhitung hingga ku tak lagi sedih. Seolah aku di hidupmu punya arti lebih. Hatiku mendayu-dayu, saat kau coba merayu. Membuatku sering tersipu malu, terdiam terpaku merasakan kalimat-kalimat indahmu. Hatiku pun sering melayang-layang, saat sesekali kau bilang sayang.

Hingga rasanya aku sering merasa riang senang, merasakan betapa indahnya hidupku saat kau datang.

Sebenarnya, apa yang kau berikan? Apa yang selama ini kau berikan padaku? Ataukah selama ini akulah yang terlalu merasa kau beri ini, itu di hidupku? Perhatian, kepedulian, dan pengorbanan? Terus, apa arti semua itu? Apakah yang kau harapkan dari semua perhatianmu padaku? Atau sebenarnya, aku sendiri yang penuh harapan? Berharap padamu karena salah memahami tentang semua perlakuanmu. Tetapi semua yang kurasakan bukan tanpa alasan.

Kau hadir di hidupku membawa keceriaan. Kau temani hariku dengan banyak canda. Hampir setiap saat, kau berikan perhatian yang membuatku tak merasa kesepian. Bahkan akhirnya, kau pun menjadi sosok yang aku rindukan untuk hadir di setiap hariku. Rasanya, terasa ada yang kurang jika aku tak mendapatkan sapa darimu.

“Tak mungkin aku berharap jika tanpa sebab. Karena harapan tentu berasal dari sebuah kesempatan yang hadir di antara kita.”

Advertisement

Aku rasa kau pun menyadarinya, bahkan mungkin kau sengaja menjalin hubungan seakrab dan sedekat ini denganku. Kadang aku pun harus merasakan kesedihan karena memaknai semua ini tanpa kejelasan. Tetapi hatiku sudah terlanjur berharap banyak. Masa depan denganmu yang kuinginkan kelak. Aku tak ingin lagi bermain-main karena aku memang tak ingin bermain dengan yang namanya perasaan. Apalagi tentang cinta yang begitu mulia untuk aku rasakan.

Namun pertanyaan yang sering aku tanyakan pada diriku sendiri.

“Apakah engkau merasakan hal yang sama yang aku rasakan? Atau hanya aku yang merasakannya?”

Sekejap waktu yang terus berlalu. Lambat laun, kau menjauh dariku. Padahal, dulu kau sangat memuja-memujiku. Membuatku merasa kaulah jawaban dari doa-doaku. Namun akhirnya, kau pergi entah ke mana dari jangkauan perhatianku. Kau hilang dan lama-lama sapa candamu sudah tak lagi terdengar lagi. Rasanya tentu sakit dan begitu kehilangan. Orang yang sangat kuharapkan ternyata pergi. Orang yang memberiku harapan ternyata hilang tanpa kejelasan.

Aku pun akhirnya mencoba menenangkan diri. Mungkin dahulunya, memang kau sama sepertiku. Sama-sama berharap bisa bersama. Namun entah karena sebab apa, kau memilih mundur dariku. Mungkin kau temukan banyak kekuranganku atau kau telah temukan sosok lain yang lebih dariku. Atau mungkin kau punya alasan lain yang tak ingin kau sampaikan padaku karena takut melukaiku. Pesanku padamu, agar kau tak ulanginya untuk hati yang lainnya.

“Jangan tumbuhkan benih harapan pada hati seseorang, jika kau tak berniat mau merawatnya saat harapan itu tumbuh menjadi cinta yang dalam. Hingga jika sengaja engkau pergi, akhirnya cinta itu pasti layu dan menyisakan luka yang susah dilupakan hati."

Terima kasih telah hadir dalam hidupku. Memberikan pelajaran berharga bagiku. Harusnya aku sadari ini dari dulu. Sepertinya harapan darimu ini, hanyalah seperti kabut asap. Tak jelas apa yang kutatap sehingga semuanya menjadi gelap. Saat kau pergi begitu saja tanpa berucap.