Setahun yang lalu tentang hujan ini mungkin menyakitkan bagiku, karna kita selalu terpaksa berada dalam mantel yang sama tanpa ada perasaan yang sama. Seandainya motor seperti timbangan, mungkin akan lebih berat kebelakang. Karna hatiku penuh dengan berbagai perasaan sementara hatimu kosong tanpa apa-apa.

Pada suatu malam yang sudah kita rencanakan, hujan tiba-tiba turun. Seolah memberikan ruang agar aku bisa dengan bebas menadangi punggungmu di bawah mantel yang sama. Hatiku bergemuruh meneriakan rasa bahagia dan syukur tanpa batas. Diam diam aku berdoa agar hujan jangan berhenti, izinkan aku menikmati aroma tubuhmu tanpa dibagi. Malam itu, basah tidak sama sekali membuatku dingin.

Advertisement

Namun ada suatu hari, yang dengan sorot mata berbinar dan penuh semangat kau menceritakan wanita itu, wanita yang kamu senandungkan namanya dalam setiap nada nyanyian dan kamu rapalkan. Aku bisa apa? Selain kemudian menikmati setiap ceritammu dan menatap mata berbinarmu. Setidaknya hal ini masih boleh bukan? Menikmati setiap tawamu tentangnya yang kau bagi denganku. Sejak itu, mendengar gemuruh hujan saja aku sudah mengunci pintu kamar rapat-rapat dan bergulung di dalam selimut. Aku tidak mau hujan datang.

Ternyata selama ini, hatiku jatuh pada hati yang sudah dimiliki orang lain. Aku tidak menyalahkan semuanya, toh ada ataupun tidak adanya kamu, aku tetaplah wanita yang sedang berproses untuk mandiri. Dengan adanya kamu seperti ini, bukankah lalu aku menjadi semakian kuat?

Namun hujan bukan itu saja, beberapa kali toh kita masih bisa berada dalam satu mantel yang sama. Bedanya aku tidak lagi bahagia, aku justru takut, takut bila musim hujan nanti justru aku yang paling tersakaiti karenanya. Kamu? Kamu akan baik-baik saja. Toh bukan aku yang kamu harapkan untuk menikmatinya bersama.

Advertisement

Namun satu musim kemudian, hujan juga yang kemudian mempersatukan kita. Di tengah hujan lebat, dengan tangan gemetar badan basah kuyup sebasah matamu kau mengetuk pintu rumahku (dan juga hatiku). Tanpa izin lalu kau bersandar di pundakku, seolah ingin membagi basahmu padaku juga. Dan basah itu benar-benar menular, mataku mulai basah, sederas hujan di luar rumah. Siapa yang menyakitimu? Membuatmu yang biasanya terlihat kuat menjadi begitu lemah? Diakah yang sebelumnya kau banggakan sebagai permata? Apakah lalu permata itu memiliki ujung tajam yang melukaimu?

Banyak cerita yang kemudian mengalir sejalan dengan habis nya musim itu. Kamu yang kemudian memutuskan untuk tinggal di rumah nyamanku. Menjadikan aku tempat pulang setelah lelahnya perjalanan mu. Akhirnya kau menemukanku, sosok abu-abu di bilik kecil hatimu.

Mulai saat ini, hujan tak lagi kuharapkan untuk menghapus jejakmu, karna dengan nya seiring dengan derasnya kau akhirnya memiliki teman berlari untuk menikmatinya. Dan orang itu adalah, aku.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya