Mendung pucat. Langit gelap membungkus atap kota, mungkin sebentar lagi akan turun hujan. Pedagang kaki lima satu persatu meninggalkan trotoar tempat sebelumnya mereka membuka lapak. Sementara di emperan ruko-ruko yang sudah tutup, warung-warung makan lesehan dengan berbagai macam menu (yang mayoritas menyuguhkan Gudeg) mulai buka.

Jalan Malioboro. Setiap kali berkunjung ke Yogyakarta saya selalu menyempatkan melewati jalanan ini. Jalan satu arah yang sibuk dijadikan saksi para palancong, bukti bahwa si pelancong pernah kesini, ke Yogyakarta.

Advertisement

Memang, rasanya belum ke Yogyakarta kalau tidak singgah ke jalan ini. Apalagi kalau tidak berfoto di plang hijau bertuliskan "JL Malioboro". Walaupun kadang harus antri untuk bisa berfoto dengan latar belakang plang hijau itu, tak menjadi masalah buat wisatawan. Barangkali ini adalah fenomena trend traveling masa kini?

Dari Nol Kilometer saya berjalan sampai ujung, kemudian berbalik arah lagi. Kurang lebih sekilo meter jauhnya. Sesekali mampir menyaksikan sisa-sisa pertunjukan musik jalanan dari beberapa group yang tersebar. Instrumen angklung dan perkusi berbunyi lantang membahana melantunkan melodi dengan ritme yang menghentak. Semelenkolis apapun lagu originalnya, ritmenya tetap dikemas semangat, rancak, membuat penikmat pertunjukan ingin menggoyang pinggul.

Tiba-tiba saja saya terkenang masa-masa liburan saat SMP. Liburan setelah kelulusan sekolah. Dengan tujuan awal ke Candi Borobudur hingga berakhir di jalan ini : Jalan Malioboro. Sebuah cerita tamasya yang tak akan pernah terlupakan sepanjang hidup tentunya. Apalagi waktu itu adalah kunjungan pertama saya ke Yogyakarta. Menguat lagi kenangan itu dengan adanya buah kisah cinta monyet dari anak remaja tanggung yang sedang berlibur bersama sang pujaan hati. Ehm!

Advertisement

Saya ingat betul memori yang terekam ingatan delapan tahun lalu. Dengan bermodalkan empat chord saja : Em, D, G, C, dengan bangga dan percaya diri saya menyanyikan lagu untuk Dia. Lagu standart untuk pemula yang baru saja belajar gitar. Walaupun eksekusi jari ke dawai kadang terpleset-pleset dengan bunyi yang kurang sempurna, betapa menghayatinya setiap suara dan kalimat yang keluar dari mulut. Entah Dia terhibur atau tidak, yang penting lagu itu seolah-olah saya kirim untuk mewakili perasaan dari hati yang paling dalam.

Di belakang bus dan beralas tikar kami bernyanyi bersama sembari menunggu rombongan ke parkiran. Manusia lalu lalang larut mencari kebahagiaan dan kebutuhannya di sekujur Jalan Malioboro. Rasanya ingin sekali lebih lama disini, tak ingin kembali cepat-cepat ke Gresik, kembali ke rumah kami masing-masing.

Beberapa lagu pop solfala terus bersenandung mengalahkan riuhnya kesibukan kota. Kopi dan beberapa jajanan Angkringan yang sudah di panggang menjadi pelengkap malam itu agar mulut tidak kecut kalau-kalau sudah capek bernyanyi. Ahh, saya juga ingat ada sekilas keinginan yang hinggap waktu itu: "Suatu saat saya akan mengajakmu untuk kembali kesini. Menyusuri jalanan Malioboro, berburu foto bersama di bangunan-bangunan tua cagar budaya, dan tentunya menikmati kudapan nasi kucing di Angkringan pinggir jalan". Batin saya sambil memandangi wajahnya hingga akhir lagu.

Boleh jadi kenangan ini tercipta begitu murah. Gitar, lagu-lagu, tikar, jajanan angkringan adalah alat untuk menciptakannya. Hanya terekam oleh otak, tanpa kamera, tanpa mesin apapun untuk mengabadikan. Hanya "kebersamaan sederhana" dengan dia yang didasari oleh cinta yang membuat kenangan-kenangan masa lalu akan selalu aktual. Tak lekang oleh waktu.

***

Percikan air layaknya debu halus mulai turun ke bumi, menyemut di rambut kepala dan bagian depan wajah. Sudah jam sebelas malam. Langkah manusia di trotoar masih santai tak keburu takut kehujanan. Saya pun juga, rasanya malah menikmati setiap tetes yang jatuh dari langit. Dan lama-lama bukan gerimis lagi, tapi butiran air hujan yang jatuh ke Jalanan Malioboro. Membuat aspal hitam jadi mengkilat oleh bias cahaya lampu-lampu kota.

Sebelum pulang, saya duduk sebentar dibawah Pohon Beringin berdaun rapat yang tidak jauh dari Nol Kilometer untuk sekedar berteduh. Didepan Monumen Serangan Umum 1 Maret. Dua orang pengamen bergitar di seberang jalan sigap berlari kecil ke arah saya dan segera menyanyikan satu tembang lagu. Dan tak saya sangka, sungguh kebetulan yang luar biasa disaat-saat saya sedang terkenang masa lalu. Lagu yag keluar dari mulut pengamen adalah lagu pertama yang saya nyanyikan untuk Dia delapan tahun lalu disini, di Malioboro : "Menunggumu" By Paterpan feat Chrisye.

Tubuh perlahan basah. Tapi saya menikmati hujan malam ini. Menikmati sepotong demi sepotong lembar kenangan masa lalu di kota budaya Yogyakarta. Di Jalan Malioboro.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya