Seribu baitpun tidak akan cukup untuk menuliskan semua hal tentangnya. Setumpuk kebaikan yang aku lakukanpun mungkin takkan pernah bisa membalas segala perbuatan mulianya. Kini tak lagi tentang apa yang mampu ia berikan kepadaku, bukan lagi tentang hak apa yang harus aku tuntut darinya.

Masih tentang kerinduan kepada orang yang sama, kepada orang yang terlalu terlihat tegar dan tanpa beban di depan putri-putrinya. Ibu, yang menjadi pertanyaan dalam batinku adalah apakah benar engkau sekuat itu? Aku ingin sesekali mendengarkan keluh kesahmu, namun yang ada aku sendiri yang banyak berkeluh kesah. Entah terbuat dari apa hatimu, betapa beruntungnya aku miliki seorang ibu setangguh engkau.

Advertisement

Menjadi sosok ibu yang tidak pernah mengungkapkan keluh kesahnya kepada buah hatinya, yang selalu berusaha untuk tetap memberikan yang terbaik semampu yang ia bisa. Hanya saja, tidakkah engkau ingin berbagi kepada kami tentang beban yang sedang kau hadapi ? Aku rindu, menghabiskan waktu bersama hanya sekedar bercerita di ruang kita bu, sekedar merebahkan diri dan bercerita tentang harapanmu atas kesuksesanku.

Aku merindu, engkau sisir rambut panjangku ketika aku masih belia, betapa hal yang membahagiakan adalah saat aku bisa menghabiskan waktu bersamamu. Engkau kenalkan aku dengan hal-hal baru, engkau ajarkan kemandirian agar aku menjadi sosok yang tidak selalu menggantungkan. Mungkin dulu seribu tanda tanya atas perlakuan itu, namun kini aku mengerti maksudmu.

Aku paham engkau mengajarkan semua hal baru agar aku mampu bersosialisasi dengan lingkungan yang lebih luas ketika aku beranjak dewasa kini. Bagaimana engkau dengan sabar dan memberikan contoh terbaik saat berhadapan dengan orang baru, bagaimana engkau mengajarkan aku dengan hal sederhana untuk mengatur keuanganku. Dan hal yang paling teringat dari nasihat yang engkau berikan adalah “kita bisa dan mampu membeli apa yang kita mau, hanya saja ibu tidak akan melakukan itu ketika anak-anak ibu tidak mampu merawat dan menjaga barang yang ia punya”.

Advertisement

Dari situ aku belajar bahwa apa yang kita miliki harus kita jaga, apa yang sudah kita punya ketika bisa dirawat harus pandai merawat, semua tidak lagi tentang memiliki hal baru dan mewah, namun bagaimana kita bisa bertanggung jawab dengan hal-hal yang kita miliki. Seribu hal engkau ajarkan tanpa engkau merasa keberatan. Memberikan hal-hal terbaik untuk anak-ananknya tanpa membedakan.

Engkau yang berusaha berlaku adil dengan dua orang buah hatimu. Aku mengerti betapa sulitnya menjadi adil, namun engkau semampumu melakukan yang terbaik yang engkau bisa. Aku tau bu, tidak mudah melakukannya, tapi engkau berusaha menghindarkan kami dari rasa cemburu satu dengan yang lainnya. Lebih sulit memilih diantara dua pilihan, daripada dihadapkan dengan banyak pilihan.

Begitu aku memposisikan diri di posisimu, betapa engkau bersusah payah untuk kami agar kami tidak merasa hanya salah satu yang dikasihi. Betapa beruntungnya aku dititipkan pada sosok malaikat tuhan yang terlihat seperti dirimu. Betapa bahagianya aku memiliki status menjadi anak dari ibu yang luar biasa tangguhnya. The last, you are my everything.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya