Meminjam tulisan pembuka kawan @notaslimboy (nggak tahu doi nganggap kawan atau tidak), di twitter beredar istilah selebtwit. Lalu konotasi terhadap golongan ini adalah orang-orang yang follower-nya banyak. Banyak pun relatif, ukurannya berubah-ubah, seiring dengan inflasi jumlah follower twitter. Saya sampai ingat, ketika follower saya menyentuh 1000, saya kasih hadiah bagi-bagi buku. Sekarang follower 1000 bisa dibeli di kaskus dan harganya murah sepertinya.

Pemaknaan kawanku tersebut boleh jadi benar juga boleh salah. Di sini saya tidak berusaha memaknai makna dua label baik, selebtwit maupun selebgram (takut salah). Namun, yang ingin saya sampaikan dalam tulisan ini adalah mereka yang memiliki label selebtwit dan selebgram tentu memiliki pengikut yang sangat banyak dan tentu hampir setiap apapun yang dilakukannya akan dicontoh oleh para pengikutnya.

Advertisement

Lalu masalahnya di mana? Kalau yang diikuti adalah hal positif, tentu bukanlah masalah, melainkan jika para selebtwit dan selebgram ini menginspirasi pengikutnya dengan hal negatif, tentu akan jadi masalah. Masalah buat siapa? Bukankah akan makin tenar? Bisa iya bisa tidak. Di sini saya akan menarik kedua istilah tersebut dalam bingkai “Cinta Tanah Air” atau yang lagi tren dibicarakan adalah “Kebhinekaan”. Wow, dalam ya. Nggak juga sih, bukankah di era kekinian, kita kadang terjebak pada hal praktis yang tak perlu memaknai secara mendalam? Ini pikiran saya saja, sih.

"Bhineka tunggal ika berarti berbeda-beda tetapi tetap satu". Apakah itu hanya kata kiasan untuk Pancasila lambang negara kita saja. Dapat kita lihat perbedaan ras cukup mencolok di Indonesia ini. Apakah bhineka tunggal ika hanya sebuah kata-kata tanpa arti? Kebhinekaan merupakan realitas bangsa yang tidak dapat dipungkiri keberadaannya. Untuk mendorong terciptanya perdamaian dalam kehidupan bangsa dan negara. Kebhinekaan pun harus dimaknai masyarakat melalui pemahaman multikulturalisme dengan berlandaskan kekuatan spiritualitas.

Dalam kondisi yang berbeda–beda, justru kebudayaan nusantara yang bisa mempersatukan bangsa seperti gado-gado, semua sayur tetap dengan bentuknya masing-masing dan yang mempersatukan adalah bumbu kacang. Tidak seperti FRUIT PUNCH, yaitu mencampur semua buah untuk dijadikan minuman bar.

Advertisement

Akhir-akhir ini ada gerakan kebangsaan yang berlandaskan pada kecintaan pada tanah air Indonesia, di mana dari ranah komunikasi kehumasan adalah bahwa seluruh rakyat Indonesia, tanpa terkecuali selebtwit dan selebgram adalah humas bagi Indonesia. Sebagai humas yang harus merepresentasikan Indonesia tentu memiliki tanggung jawab untuk membangun citra baik Indonesia. Bagaimana? Ya mulai atau selalu bicara baik tentang Indonesia atau yang sekarang digaungkan oleh Perhimpunan Humas (Perhumas) Indonesia, yaitu #IndonesiaBicaraBaik.

Terkait gerakan #IndonesiaBicaraBaik, saya mengutip mas Agung Laksamana Ketua Umum Perhumas, bahwa sebagai humas, kita semua harus mensosialisasikan pesan positif kepada publik agar timbul trust serta reputasi atas organisasi dan negaranya. Oleh karena itu, mulai sekarang waktunya kita berbicara baik tentang Indonesia!

Oke, kembali ke selebtwit dan selebgram. Siapapun itu yang mendapatkan kedua label tersebut, saya menyebutnya sebagai KOL atau key opinion leader. Ngomongin sedikit tentang KOL, sederhananya adalah sosok individu yang memiliki ide, pemikiran, dan ucapannya dipercaya oleh sekelompok orang yang tentunya bisa mempengaruhi (menjadi influence) orang-orang yang ada di circle-nya si KOL. Kalo ngomonin apa pengaruhnya, ya macam-macam, misalkan orang-orang di circle-nya si KOL memiliki perubahan pendapat dan sikap.

Nah, karena sekarang kita bahas mengenai KOL di media digital (kita kaitkan pada selebtwit dan selebgram), apa yang berbeda? sebenarnya kalau menurut saya pribadi secara kontekstual, tidak ada yang berbeda dengan KOL di ranah marketing atau PR, karena balik ke tujuan utama adanya KOL adalah menjadi opinion leader di satu kelompok (circle) untuk mempengaruhi (influencing) baik secara sikap dan prilaku mereka.

Kalau kita lihat tren media sosial saat ini bisa dibilang memiliki peran utama dalam aktifitas branding dan pemasaran sebuah brand, dan nggak jarang brand-brand yang masuk ke digital media menggunakan KOL dalam upaya menciptakan viral dan word of mouth di antara netizen. Paling sering kita lihat banyak account “branded” personal, account anonym, bahkan hingga fans atau follower sendiri menjadi bagian penting terbentuknya opini publik dan viral di media sosial. Nah, berencana menggunakan KOL di media sosial? Mungkin beberapa poin penting ini bisa menjadi insight tambahan.

Yang saya tegaskan di sini adalah, para selebtwit dan selebgram ini memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap para pengikutnya. Jadi, ada baiknya (hanya menghimbau), bijaklah dalam bersikap dan berkata, atau bijaklah posting twitter dan juga posting visual, karena apapun yang kalian posting akan selalu menjadi inspirasi, contoh dan diikuti oleh pengikut kalian. Jika kalian selebtwit biasa bertutur kata kasar, jangan salahkan follower kalian juga begitu, jika kalian selebgram memposting foto-foto/visual yang tak baik, jangan salahkan pengikut kalian juga demikian.

Jadi sederhananya, sebagai selebtwit/selebgram, jadilah KOL yang baik bagi pengikutmu. Jadilah KOL yang mampu memberi inspirasi buat para pengikut agar makin menguatkan rasa cintanya pada Indonesia.Perlu diketahui bahwa cinta tanah air = bela negara. Jadi, sebagai KOL kalian memiliki peran penting untuk mengedukasi pengikut kalian. Serukan bicara baik tentang Indonesia dan ayo #IndonesiaBicaraBaik, Ayo #BelaIndonesiaku.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya