Dalam suatu hubungan, baik itu dengan keluarga, teman, pekerjaan, termasuk dengan pasangan, kita pasti akan berinteraksi dengan orang lain. Dengan kepala lain yang memiliki pola pikir berbeda dengan kita. Dengan mata yang memandang dari sudut pandang berbeda dengan kita. Dengan hati yang merasa dengan cara berbeda dengan kita. Perbedaan ini kadang meruncing karena terlalu bertolak belakang. Seberapapun kita mencoba mencari persamaan. Pernah merasakannya?

Tenang. Kamu tidak sendiri karena itu adalah hal yang terjadi secara alami.

Advertisement

Termasuk dalam hubungan asmara yang sudah kamu perjuangkan mati-matian untuk berjalan lancar.

Apa kurangnya aku?

Saking frustasinya kamu mungkin mendebat begitu.

Advertisement

Lagi-lagi salah. Lagi-lagi salah.

Kamu yang pendiam dan pemalu, sudah bersusah payah melakukan yang terbaik untuknya. Tapi dia yang memang dasarnya di kelilingi hal-hal yang riuh, tidak juga melihat apa yang kamu berikan sebagai sesuatu yang pantas diapresiasi. Dia menyalahkanmu lagi. Katanya kamu tidak membuatnya merasa berarti.

Sementara kamu yang antusias dan penuh semangat sudah berusaha menjadi yang terbaik pula untuknya. Susah payah memahaminya, membantunya untuk merasa lebih percaya diri dan berusaha mendukung apapun yang dilakukan. Tapi dia juga tidak melihat usahamu. Ia pikir kamu ada untuk mengontrol hidupnya.

Lalu pikiran-pikiran buruk membayangi. Mempertanyakan kembali esensi dari suatu hubungan. Apakah hubungan ini sudah tidak sehat? Apakah ini menunjukkan bahwa kalian benar-benar tidak cocok dan seharusnya tidak bersama?

Mengapa ia tidak berubah untukku?

Tidak salah jika akhirnya sampai pada pertanyaan itu. Kumpulan dari emosi yang dipendam, tentang mengapa dia tidak bisa menjadi apa yang kalian harapkan.

Tapi coba ingat kembali alasan kamu merajut perjuangan ini bersama.

Bukankah karena kamu melihatnya yang tenang dan berhati-hati?

Bukankah karena kamu melihatnya bersinar terang dan penuh kasih?

Lalu kenapa sekarang kamu ingin dia menjadi orang lain yang sesuai dengan dirimu sendiri?

Ketika kamu mulai berpikir untuk merubah orang lain, berhenti sejenak. Mungkin, kamu lah yang seharusnya berubah.


Gandhi pernah berkata, jadilah perubahan yang kamu inginkan. Bukan merubah orang lain agar jadi yang kamu mau.


Sama sepertimu yang sudah lelah dengan penolakan, ia juga ingin membuktikan bahwa dirinya layak dicintai karena menjadi dirinya. Bukan karena ia memenuhi ekspektasi orang lain terhadapnya.

Berubah itu perlu usaha. Kamu juga tahu.

Makanya, jangan paksa orang berubah. Kalau kamu yang bisa mengubah pola pikirmu, mengubah standar penerimaanmu, ia pasti terlihat lebih baik di matamu.

Biarkan ia mencintaimu dengan caranya, bukan dengan caramu.

Kamupun tidak perlu meminta lebih dari yang diberikan.

Mari berubah, ketika kita meminta orang lain untuk berubah.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya