Ini Adalah Arti Senja Bagiku, Terang Tak Selalu Menemani

Senja Itu Mengajari Kita Banyak Hal

Setiap sore, aku hanya ingin menatap senja, bukan untuk mencari arti, tapi aku sangat menikmati ketika senja itu datang menghampiri . Senja adalah keindahan nyata yang Tuhan ciptakan dan aku hanyalah seorang penikmat senja. Senja begitu bermakna bagiku, di mana saat aku menatap senja, aku bisa tersenyum bahagia melihat indahnya dan membuatku merasa tak ada beban.

Advertisement

Ketika senja melukiskan keindahan nya, maka saat itu aku berharap agar diriku mampu menuangkan rasa cinta yang ku punya untuk seseorang yang suatu saat menjadi milikku . 

  • Senja mengajariku menghargai rasa sunyi

Senja adalah akhir dari sebuah hari, membuat apa-apa yang telah terjadi menjadi sebuah rangkaian cerita yang terususun rapi. Seperti puzzle yang harus dirangkai agar terbentuk rupa yang dapat dikenali, kisah-kisah dihari itu yang akan menjadi kenangan di kemudian hari. 

Advertisement

Senja yang setelahnya tentu sang malam akan tiba. Sang langit tak lagi peduli pada mentari yang telah pergi, sebab ia hanya peduli pada perjumpaannya dengan sang rembulan. Walau begitu, senja tak pernah marah, ia hanya sunyi. Menyembunyikan segala ceritanya sendiri, entah bahagia atau luka.

Dari senja itu aku belajar menghargai rasa sunyi dan sepi. Tidak selalu aku akan bersama orang yang kupilih. Tidak selalu orang yang kupilih juga memilihku. Terkadang Tuhan membuat apa-apa yang begitu kita sayang pergi, bukan karena Tuhan tak peduli. Bukan.

Advertisement

Tuhan bahkan lebih peduli melebihi diri kita sendiri. Tuhan menghadiahkan kesendirian untukku, memberikan sebuah rasa sunyi agar aku menjenguk diri sendiri. Agar aku peduli dengan diri sendiri. Aku mungkin tak sadar, aku telah terlampau mengacuhkan diri sendiri karena sibuk membahagiakan orang lain, terlalu sibuk mengkhawatirkan orang lain. Orang lain yang tidak lain adalah kamu. Dan sekarang, aku berhentikan menyibukkan diri untukmu. Aku hanya akan peduli dengan diriku sendiri.

  • Senja menyadarkanku, bahwa terang itu tak selalu menemani

Kamu adalah langitku. Langit yang selalu meneduhkanku, menemaniku kapanpun dan dimanapun aku berada. Langit biru yang selalu bisa menenangkan hatiku. Begitu seterusnya kamu jika cahaya selalu menerangi, akan selalu dapat kunikmati indahmu. Namun hari tak selamanya siang. Aku terlalu nyaman hingga aku lupa jika malam pun akan datang. Senjalah yang menjadi penanda. 

Katakan saja akulah mentari itu, yang jatuh cinta padamu hai langit. Seperti titah Tuhan, ada mentari, ada pula sang rembulan. Aku melupakan kehadirannya yang meminta senja menjemputku. Ya, aku harus menenggelamkan diri agar sang rembulan dapat memikat sang langit, menunjukkan cahaya indahnya, rupa cantiknya, yang hadirnya selalu diiringi kelip bintang-bintang angkasa.

Seperti itulah aku dan kamu, aku yang terlena dan terlalu nyaman akan hadirmu yang sekian lama menemaniku. Aku memang tak lagi peduli pada apa-apa yang menggodaku. 

  • Senja adalah waktu yang tepat untuk merenung diri

Ketika mentari sudah mulai tenggelam, ada banyak hal yang dapat kita lakukan. Salah satunya adalah mengevalusi diri. Senja mengingatkan kita tentang apa yang sudah terjadi selama hari ini, dan apa yang akan kita lakukan esok hari. Senja menjadi waktu yang tepat untuk berharap agar esok kita masih dapat membuka mata dan melihat dunia.

 

Nah, itulah beberapa arti senja menurutku. 

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement
loading...

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Julita Widya Sari Manurung atau biasa disapa Julita lahir di Medan, 12 Juli 1998. Aktif menulis sejak tahun 2017 dan sudah berhasil menerbitkan buku.

CLOSE