Aku adalah takut. Aku adalah jika-jika yang ku ayun dalam bayang. Aku adalah ingkar lantas diam.

Dan benar saja aku merindunya, lalu dia mulai datang dalam mimpi-mimpi pejamku. Ku cari namanya dalam dering pesan yang tiba-tiba. Sudah sejak lama, ku buang enggan untuk memulai wicara. Semoga ia tak lantas menerka-nerka.

Advertisement

Ah, sudah berlaun usiaku beranjak. Ketahuan diriku tak juga terelak. Pahit tentangnya belum siap kukecap, karena belum cukup alasan dia akan datang lagi lain kali. Yang ku bisa, memelihara jalan bicara kita yang rindang dengan humor yang membenamkan keluguan satu sama lain. Sesekali mencecar atau memaki diri sendiri cukup ciptakan kulum senyum yang tak pernah akan dilihatnya.

Hati ini dan hatinya berpaut dari sentuhan ABC di layar yang hanya terhubung dengan sinyal. Sinyal yang perlu kemampuan berbarter ke kios sebelah. Suara. Andai dia adalah nama yang bisa ku panggil saja selagi ku bisa. Ku belokkan pada syair-syair yang akhirnya terbiasa dia turuti. Seperti diorama yang ku sorot lagi dalam ingat-ingat. Membawa masa-masa saat Dia berlarian mendapatiku di balik pintu biru, di balik tirai putih jendela ruang sidang, di balik rak-rak laboratorium dan tawa yang menghambur seperti daun kapuk kala kemarau. Kisah parau di ujung senja hingga suara perut di penghujung malam, makin lekat kuingat saat kulihat lagi wacana serupa.

Ku sungging senyum dala diamku, lagi.

Advertisement

Lirik lagumu bukannya aku tak pahami, tapi jika terlalu peka aku sendiri yang akan terluka. Karena rasa ini ku biarkan berhias saja berselang anyaman lembar-lembar takdir yang sedang ku susun. Mungkin senyumnya tak hanya untukku saja, meski aku kumpulkan keluhnya yang kubalut sisa-sisa hikmah telah kusimpan dalam kotak bernama kepercayaannya.

Dia adalah bulan. Hanya bisa kupahami sisi yang terlihat olehku, tetap akan sama meski aku mendongak ke atas atau menunduk dalam bejana berlinang air. Rasa ini apa namanya? Alpaku seperti telah banyak beronggok di ruang kecil ingatannya. Seperti apa citraku dalam matanya bahkan aku tak pernah bertatap padanya. Dia adalah suara yang ku eja dengungnya. Mengiang meredupkan ketakutan yang berbinar-binar. Siapa yang tahu, nama yang dilayangkan salamnya disetiap pergantian waktu. Bolehkah aku selalu berharap dia ada, meski dia berada untuk siapa.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya