Hidup ini lucu. Mungkin. Atau hanya kami para perempuan yang terlalu bodoh. Namun yang pasti kami bersalah, karena kami tak mampu membuang begitu saja sebuah kesakitan di masa lalu. Ya, itu kami. Aku, bersama dua sahabatku di masa lalu, Lena dan Rika.

Ada masa ketika kami menari bersama, menyanyi bersama, berputar dalam pusaran kebahagiaan yang sama. detik-detik kami belum mengenal sebuah keadaan yang berbalik – yang lebih akrab disapa sebagai karma. Begitulah aku dan Lena yang merasa kasihan namun juga menganggap lucu melihat kisah Rika yang hari itu bukan bagianku.

Advertisement

Hingga masa bergerak mendekatkan kami. Rika menjadi teman tidurku, teman makan, teman masak, ya, dengan berbagai urusan rumah tangga. Sebagian besar kehidupanku diambil Rika dari Lena. Ah, bukan, mungkin aku yang memberikannya. Sama seperti Rika yang telah terlanjur memberikan sebagian besar dunianya pada pria itu.

Tahun berlalu, seperti permainan, kini giliran Lena, yang kami sayangkan harus seperti Rika. Aku mulai heran ada apa dengan dua orang kawan terdekatku. Dalam hati bertanya, apakah di dunia ini hanya ada satu pria?

Empat hampir lima tahun pun berlalu sejak aku bersama Lena melihat air mata Rika. Kali ini aku berharap, aku hanyalah mereka yang terluka sekali karena tak terpilih. Sedangkan aku yang mendapat giliran terakhir, harus terpilih mendapatkan kesedihan menahun dua kali, bahkan lebih. Kesedihan dari pria yang sama, yang entah mengapa kami tiga perempuan ini berputar mengelilingi dia, satu pria yang entah siapa sebenarnya.

Advertisement

Kesedihan yang tak hilang dalam satu, dua atau bahkan tiga, empat tahun. Perempuan itu masih berduka, perempuan yang kedua pun mungkin lebih sakit, lengkaplah kami, tiga perempuan. Tiga yang kini terurai menjadi individu terjarak. Kami tak lagi bersama dan lagi saling mengasihani. Hanya mungkin turut bersedih dalam diam saat salah satu dari kami teringat pilu masa lalu. Mengasihani dalam diam, yang entah turut sedih atas luka mereka, ataukah turut teringat luka lama masing-masing.

Pertengahan tahun 2017, dan pria itu memandang ke tempat lain, bergerak maju untuk dirinya sendiri, dunianya sendiri, entah untuk apa yang ada di benaknya sendiri. Lantas kami tiga perempuan telah berhenti bergerak. Tak lagi menari dan berputar. Menyisakan satu aku yang perlahan ingin mundur. berharap menemukan pria itu di titik lama, dia yang dulu, dia yang belum berubah, dia yang membuat kami kagum, dia pria yang belum pernah menghentikan impian kami tiga perempuan. Sebelum dia membisu dan membisukan kami tiga perempuan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya