Masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) adalah anugerah yang sangat indah terlebih lagi kampus itu adalah kampus idaman. Saat memasuki kampus itu, kita akan bertemu dengan dosen-dosen yang berkualitas. Selain itu, biaya yang lebih terjangkau dan banyak dukungan dari berbagai pihak menjadi unggulan jika berhasil menjadi mahasiswa disana. Namun, apa yang terjadi jika gagal masuk PTN? Apakah kita menangis terisak-isak bahkan sampai bunuh diri karena gagal masuk PTN? Belum lagi, omongan masyarakat yang buruk karena tidak masuk PTN menjadikan kita gampang menyerah dan menganggap gagal masuk PTN adalah sebuah kutukan.

Pak Bajongga, itulah guruku. Ia merupakan guru pertama yang meraih S2 di sekolahku. Asam-manis pendidikan sudah ia rasakan. Bahkan, sebagai mengenang masa mahasiswanya itu, ia ditunjuk menjadi dosen di kampus yang tidak jauh dari sekolahku. Ia adalah guru pertama yang menyuruh kami tidak mendewakan PTN. Bagi Bajongga, semua kuliah itu sama, tinggal SDM atau pelaku yang tidak lain adalah mahasiswa yang mampu mengikuti perkuliahan. Seseorang yang kota Kembang, pernah diceritakannya, lebih memilih berkuliah di sebuah Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Aku sudah lupa mengapa seseorang itu lebih memilih PTS itu. Padahal, PTN yang menerimanya adalah PTN yang sangat luar biasa. Ditambah dukungan Pak Saur yang membuat PTS jangan diremehkan.

Dulu, perkataan mereka hanya bualan dan mengecilkan harapanku untuk masuk PTN. Aku dulu tidak mengerti mengapa mereka berkata seperti itu. Setelah bertahun-tahun menjadi anak PTS, aku baru menyadari perkataan mereka. Tidak ada perbedaan antara PTN dengan PTS. Perbedaan mereka hanyalah kepemilikan kampus. Di beberapa kota, PTS sudah hampir sama dengan PTN. Bahkan, tidak sedikit dari alumnus PTS menjadi orang ternama dan menduduki jabatan ternama ataupun pengusaha sukses.

Pak Bajongga dan Pak Saur ini merupakan tamatan PTN yang pasti diagung-agungkan masyarakat. Mereka ingin anak-anaknya yang tak lain adalah aku dan beberapa teman-teman tidak berkecil hati tidak bisa berkuliah di PTN. PTS bagi mereka sudah cukup untuk membuat kami menjadi lebih baik. Mereka harap bukan nama kampus yang kami duduki, tetapi nama kami terkenal menjadi pejabat, pengusaha, atau orang terkenal lainnya.

Jika masuk PTS, engkau akan bertemu dengan orang-orang yang lebih tua dan sudah berpengalaman merasakan pahitnya hidup. Diantara mereka (mungkin semua) ingin sekali berkuliah di PTN. Namun karena beberapa alasan, mereka urung kuliah disana dan memilih PTS . Mereka tidak lagi memandang status kampus. Yang penting bagi mereka bisa lulus dan mengubah nasib. Dari mereka, kita tahu bagaimana perjuangan mereka untuk bisa berkuliah. Selain itu, pola pemikiran kita menjadi lebih baik karena sudah tahu bagaimana mereka dan sifat mereka yang baik itu kita ambil sebagai pembelajaran hidup. Mencari kerja juga lebih mudah. Di antara mereka, sudah pasti banyak yang bekerja sehingga setelah tamat bisa menanyakan lowongan kerja di perusahaan. Terlebih lagi jika kuliah sambil kerja, semakin mudah mencari kerja karena beberapa lowongan lebih mengutamakan yang berpengalaman agar tidak susah lagi dalam mengerjakan tugas perusahaan mereka.

Advertisement

Siapa mau yang di usia yang masih begitu muda bisa mudah mendapat kerja terlebih lagi jadi bos! Di PTN, engkau hanya bertemu dengan teman sebaya. Yang lebih tua ataupun muda, hanya beda setahun dua tahun saja.

Waktu kuliah yang terjadwal menjadi alasan PTS diminati. Di PTS kita bisa memilih jadwal kuliah sesuai waktu yang diatur oleh kita. Dua kali seminggu kuliah juga bisa, asal kita bisa mengaturnya dengan baik. Dibanding PTN, di PTS kita bisa mencari kerja. Bisa nambah-nambah uang jajan sekaligus membantu orang tua kita untuk meringankan beban kita. Apalagi, bisa memberikan sedikit gaji kita untuk mereka. Mereka pun menjadi orang tua yang sangat beruntung telah membesarkan kita.

Tetapi ada satu alasan mengapa PTS juga kurang diminati. Karena kepemilikan swasta, sumbangan pendidikannya cukup mahal. Kita harus mengeluarkan banyak uang untuk menggaji para personel kampus, pemeliharaan fasilitas kampus, dan biaya lain yang berhubungan dengan kampus. Namun bukan itu yang membuat kita ciut untuk masuk dalam dunia PTS. Ada kok beasiswa ke PTS! Salah satu beasiswanya adalah Bidik Misi! Bidik Misi tidak memandang kuliahmu. Yang penting baginya semua kalangan bisa berkuliah khususnya kaum tidak mampu agar bisa memutuskan rantai kemiskinan.

Capek lo jadi orang miskin terus…. Maka dari itu, jangan takut berkuliah di PTS.

Sekarang, tekadkan dirimu untuk meraih apa yang engkau cita-citakan. Cita-cita yang tidak tercapai sejak kecil jangan disesali. Cita-cita kecil jadikan motivasimu untuk lebih maju. Cari kelebihan diri dan mengembangkannya itulah yang lebih penting untuk saat ini. Buang sifat kanak-kanakmu dan berubah menjadi dewasa agar engkau sukses dalam segala hal.

Jadikan PTS adalah tempat untuk mengenali diri sendiri dan mengembangkan bakatmu. Tidak lupa juga, bersyukur kepada Tuhan yang memudahkan langkah kita untuk bisa kuliah.