Jadi Mahasiswa FoMO dalam Perkuliahan, baik atau buruk?

Apakah kamu salah satunya?

Semenjak pandemi Covid-19 mereda, banyak universitas yang mulai melaksanakan kegiatan perkuliahan secara offline dengan tetap menerapkan protokol kesehatan yang ada. Fase transisi dari kuliah online menuju offline memerlukan banyak persiapan dan membutuhkan waktu untuk beradaptasi kembali. 

Menilik ke belakang, semua kegiatan baik itu perkuliahan ataupun seminar-seminar dilakukan secara online. Mahasiswa merasa kuliah secara online dianggap tidak efektif karena proses pembelajaran yang dirasakan kurang optimal. Banyak hal yang didapat tidak maksimal, seperti ilmu pengetahuan, organisasi, kehidupan sosial, dan lain sebagainya. 

Dengan beredarnya kabar akan dilaksanakan perkuliahan secara offline, mahasiswa berbondong-bondong mempersiapkan segala hal yang sekiranya akan menunjang produktivitas selama kuliah offline berlangsung.  Mereka beranggapan bahwa ini adalah saat yang tepat untuk mengembangkan dan meningkatkan value dalam diri dengan memanfaatkan kesempatan yang ada di depan mata. 

Hal tersebut tak jarang membuat mahasiswa merasa cemas dan panik jika ketinggalan sesuatu. Mereka merasa harus mengikuti setiap perkembangan dan informasi yang ada. Fenomena inilah yang disebut dengan istilah FoMO. Secara teoritis, Przybylski, Murayama, DeHaan dan Gladwell (2013) mendefinisikan fear of missing out (FoMO) merupakan ketakutan akan kehilangan momen berharga individu atau kelompok lain di mana individu tersebut tidak dapat hadir di dalamnya dan ditandai dengan keinginan untuk tetap terhubung dengan apa yang orang lain lakukan.

FoMO juga bisa diartikan sebagai bentuk perilaku seseorang yang merasa khawatir ketika melihat teman atau orang lain yang hidupnya lebih sukses atau keren dibandingkan dirinya. Salah satu karakter seseorang yang mengidap FoMO dapat dilihat dari keingintahuan yang terus menerus terhadap kehidupan orang lain. 

Semua orang tentu bisa merasakan FoMO, terutama mahasiswa. Dalam lingkup perkuliahan, sudah banyak wadah untuk pengembangan diri yang disediakan, baik dalam bentuk organisasi, kepanitiaan, ataupun magang. Dengan banyaknya wadah pengembangan  diri inilah yang bisa menjadi salah satu penyebab munculnya FoMO. 

Semenjak dilaksanakan kuliah offline, mahasiswa berlomba-lomba menjadi si paling produktif. Sebelum terjun dalam suatu kegiatan, mereka tidak mengindahkan pertanyaan-pertanyaan seperti,

Apakah saya mengikuti kegiatan ini karena memang menginginkannya atau hanya ikut-ikutan teman?

Apakah saya memang berminat dengan kegiatan ini tanpa paksaan dari orang lain?

Apakah saya mampu membagi waktu segala kegiatan yang diikuti di luar kelas dengan pembelajaran dalam kelas?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi suatu hal yang penting ketika hendak mengikuti berbagai macam kegiatan. Kebanyakan mahasiswa hanya takut tertinggal bila tidak mengikuti suatu kegiatan yang diikuti oleh mahasiswa lain. Mereka terlalu terbawa arus dengan lingkungan sekitarnya, padahal kalau dipikir-pikir kembali sepertinya tidak terlalu butuh juga. 

Nah, sebenarnya menjadi mahasiswa yang FoMO itu baik atau tidak, sih?

Menjadi mahasiswa yang FoMO tidak sepenuhnya salah. Mahasiswa dapat mempergunakannya sebagai ajang untuk pembaharuan berita dan pengetahuan. Hal ini tentunya akan memperkaya informasi dan pengetahuan karena selalu up-to-date dengan berita terkini. Selain itu mahasiswa dapat termotivasi dengan melihat pengalaman atau  keberhasilan orang lain. Itulah sekilas mengenai pengaruh baik menjadi mahasiswa FoMO yang tidak berlebihan. 

Fear of missing out (FoMO) dapat menjadi pengaruh yang buruk jika tidak disikapi dengan baik. Awal mula terjadinya fenomena mahasiswa FoMO ini berakar dari rasa kurang percaya diri atau sering dikenal dengan insecure. Rasa insecure dapat muncul karena seringnya intensitas melihat pencapaian orang lain. Misalnya saja, ketika melihat teman-teman lainnya tampak keren karena sibuk mengikuti organisasi atau kegiatan. Hal tersebut membuat kebanyakan mahasiswa latah dan mengalami penyakit FoMO ini.  

Kecenderungan mahasiswa yang mengidap  FoMO terhadap hustle culture sangat besar. Hustle culture adalah suatu gaya hidup yang menempatkan pekerjaan sebagai pusat dari kehidupan. Ketika menjadi mahasiswa yang FoMO, hal tersebut tidak terlepas dari yang  namanya hustle culture. 

Banyak kegiatan yang diikuti oleh mahasiswa akibat FoMO ini yang hampir menyita seluruh waktu. Mereka harus mengorbankan waktu untuk istirahat karena dituntut menjadi produktif setiap saat. Dikarenakan terlalu fokus pada satu hal, mahasiswa menjadi abai terhadap kewajibannya untuk berkuliah dan sering menunda-nunda dalam mengerjakan tugas. 

Akibat terlalu FoMO, mahasiswa akan merasa kewalahan karena saking banyaknya kegiatan yang diikuti hanya untuk memenuhi kebutuhan egonya saja. Nah, kalau sudah seperti itu yang terjadi selanjutnya adalah burnout. Mahasiswa akan merasa kelelahan secara emosional, fisik, dan mental karena stres yang berlebihan dan berkepanjangan. 

 


Kalau mau hidupnya lebih tenang, berjuanglah karena memang kita punya alasan untuk berjuang. Bukan sekadar ikut-ikutan atau bahkan agar diakui oleh orang lain. 

— Fardi Yandi


 

Pada akhirnya semua itu kembali kepada kehendak diri sendiri. Jika dirasa menjadi mahasiswa yang FoMO lebih banyak menimbulkan dampak negatif maka perlunya kesadaran untuk berusaha keluar dari perasaan tersebut. 

Ubah perasaan FoMO menjadi JoMO. Joy of missing out (JoMO) adalah keadaan di mana seseorang menjalani hidupnya dengan tenang tanpa merasa cemas ketika tertinggal oleh sesuatu. Dengan menerapkan perasaan JoMO, hidup kita sebagai mahasiswa akan lebih terarah. 

Mulailah berdamai dengan diri sendiri, tidak usah membanding-bandingkan pencapaian diri dengan orang lain, dan selalu mensyukuri segala sesuatu yang dimiliki. Enjoy your life!





 

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini