Kisah ini saya peroleh dari curahan hati sahabat saya, sosok wanita yang mendambakan tangisan bayi di rumahnya. Tak jarang hati ikut pilu saat mendengarkan curahan hatinya.

Dalam membangun rumah tangga, selain untuk hidup bersama orang yang dicinta, tujuan lainnya adalah untuk memperoleh keturunan. Lantas bagaimana jika Tuhan tak menyegerakan suatu pasangan untuk diberkahi momongan. Sedang usia pernikahan sudah satu tahun terlalui.

Advertisement

Pilu rasanya saat kumpul acara keluarga ataupun acara lainnya dan ada yang melontarkan tanya "Sudah hamil belum?" jika hanya pertanyaan itu yang dilontarkan, mungkin hati masih kuat menerima. Namun jika dilanjutkan dengan ungkapan "Menantuku saja baru menikah 6 bulan sudah isi lho, dia itu rajin minum susu itu lho.., khusus untuk persiapan kehamilan", dan dilanjutkan dengan serentetan cerita lainnya, cerita yang bagi mereka membahagiakan namun memilukan bagi kami sang pendamba momongan.


Bukan kami tak turut bahagia dengan cerita bahagia kalian, namun jika terus-terusan kalian ceritakan pada kami sang pendamba momongan, cerita itu berubah menjadi hal yang tak mau kami dengar.


Pertanyaan sekaligus pernyataan tersebut mungkin terdengar biasa bagi sebagian orang, bagi kalian kaum hawa yang belum membina rumah tangga, tapi pertanyaan itu sungguh memilukan jika harus kami terima. Segala usaha dan upaya tak pernah alpa dilaksanakan, segala do'a tak pernah luput kita panjatkan di sepertiga malam. Namun, bukankah segala ketentuan adalah kehendak Tuhan? Jika Tuhan berkata belum, lalu bagaimana bisa kami menuntut?

Advertisement

Tak jarang air mata tumpah saat meninggalkan acara, tangisan akan pecah saat memasuki pintu rumah. Berjam-jam kami akan sibuk mengusap air mata yang tumpah tanpa bisa kami cegah. Beruntung, mertua dan suami tak begitu menuntut perihal menyegerakan memiliki momongan, mereka begitu sabar dan turut membantu mendo’akan.


Terimakasih Tuhan, karena engkau memberkahiku dengan suami yang begitu sabar dan pengertian.


Teruntuk kalian yang sering melontarkan pertanyaan “Kapan”, mungkin maksud kalian menanyakan itu adalah sebagai salah satu wujud kepedulian, namun tak sadarkah kalian jika pertanyaan tersebut terus-terusan terlontarkan, bukan malah menjadi bentuk perhatian, melainkan bentuk keingin tahuan kalian dan keikut campuran dalam kehidupan orang. Bukankah lebih bijak pabila pertanyaan tersebut kalian ubah menjadi do’a untuk kita.

Dari cerita tersebut, menyadarkan kita, bahwa tak semua pertanyaan yang awalnya kita anggap sebagai bentuk kepedulian adalah benar-benar wujud kepedulian. Namun secara tidak sadar, kadang bermetamorfosa menjadi bentuk keingin tahuan atas kehidupan seseorang, dan menyebabkan hati seseorang terluka karena pertanyaan yang kita anggap sederhana itu.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya